Tampilkan postingan dengan label SOSIAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSIAL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Desember 2014

AIRMATA PAPUA, ANTARA KONFLIK ISRAEL DAN PALESTINA



Kenapa orang Indonesia itu lebih heboh kalo mengurusi konflik Israel dan Palestine nun jauh disana ketimbang melihat konflik Indonesia-Papua. Jawabannya karena Israel-Palestina adalah konflik kedaulatan yang dibumbui oleh unsur sentimen agama. Disini agama dimainkan menjadi komoditi politik berupa bensin yang gampang membakar emosionalitas.

Namun coba kita lihat kasus Indonesia, yang terjadi adalah konflik pertentangan kelas (Ekonomi-Politik) antara kelas penguasa di Jawa yang menghisap dengan kelas penduduk lokal papua yang berusaha menuntut keadilan, kesetaraan dan melawan diskriminasi.

Namun apa reaksi mayoritas orang Indonesia menanggapi perilaku biadab pemerintahnya sendiri? tidak peduli, bahkan cenderung mengutuki perlawanan rakyat Papua dengan cap "separatisme". Disini bisa kita lihat dengan jelas sikap standar ganda rakyat Indonesia yang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan rakyat Israel. Membiarkan pembantaian terhadap sipil dilakukan oleh pemerintahnya sendiri atas nama nasionalisme. Bahkan masih lebih rasional Israel yang punya alasan melakukan penyerangan atas Palestina untuk melindungi rakyatnya dari serangan roket militan-militan Palestina, meskipun pada akhirnya meletus perang yang tidak proporsional. Sedangkan Indonesia? rakyat Papua tidak mengancam stabilitas keamanan Indonesia secara keseluruhan, hanya bersifat sporadis.

Bagaimana mungkin suatu bangsa tidak ingin merdeka jika Sumber Dayanya dikuras dan manusianya dimatikan seperti serangga yang divonis jadi hama?. Bahkan anjing saja tidak akan pernah mengigit Tuannya jika rajin diberi makan, sedangkan Pemerintah Indonesia sudah kenyang makan hasil bumi Papua berupa emas dan minyak, namun tetap saja membunuhi rakyat Papua.

Kelakuan pemerintah Indonesia terhadap Papua itu lebih nista ketimbang penjajahan yang dilakukan oleh Belanda di jaman dulu. Pada jaman dulu saja kegiatan organisasi kepemudaan yang memiliki tujuan resistensi terhadap pemerintah Hindia Belanda tidak dilarang di jaman pendudukan, namun hal tersebut tidak berlaku di tanah Papua hari ini. Ratusan ribu penduduk sipil Papua dibunuh dan hilang oleh militer Indonesia. Inilah alasan mengapa Negara, alat-alatnya dan rakyat Indonesia tidak pantas menuduh pihak-pihak asing jika rakyat Papua 99% menyatakan ingin melepaskan diri dari NKRI.

Ingatlah bahwa nasionalisme tidak akan pernah lahir dari perut yang lapar dan pemerintah yang abai.

Oleh: Rio Maesa,
10 Desember 2014

Kamis, 17 Juli 2014

RACHEL CORRIE: "AKU YAHUDI DAN AKU MELAWAN PENINDASAN!!"


Rachel Corrie adalah gadis cerdas asal Amerika keturunan Yahudi. Rachel seorang mahasiswi seni dan penulis dari Evergreen State College, Washington yang juga aktivis International Solidarity Movement (ISM). Namanya begitu harum diseluruh belahan bumi karena berani melawan kebiadaban Zionis Israel. Dia memutuskan untuk datang ke Palestina pada 2003 sebagai bagian dari studinya. Rachel memberanikan diri datang ke Palestina ketika pada saat yang bersamaan Amerika dan Nato memulai rencana invasi dengan membombardir Irak atas tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal dan pada saat di Palestina sendiri sedang berada di puncak perlawanan meletusnya *Intifada kedua (*membebaskan diri).

Perjuangannya di Palestina adalah menghentikan pemukiman ilegal yahudi di tanah pendudukan. Ia tak henti-henti dengan keberanian dan kegigihannya untuk menghalangi penggusuran rumah-rumah orang Palestina dengan pengeras suara, berkali-kali Buldozer Zionis Israel mundur tidak jadi menggusur rumah rakyat Palestina karena dihalang-halangi oleh Rachel. Puncak perjuangannya berakhir pada saat ia membela mati-matian rumah seorang apoteker Palestina dengan nyawanya di Rafah, wilayah selatan Jalur Gaza yang masuk ke dalam ambisi politik ekspansionis Israel.

Pada usia 23 tahun, tepatnya tanggal 16 Maret 2003, Rachel tewas dilindas oleh traktor milik IDF (Israel Defence Force) yang tidak mau memberhentikan geraknya saat Rachel melakukan aksi demonstrasi langsung dengan tidur telentang di hadapan kendaraan berat itu. Saat mesin baja Caterpillar D9R itu datang, Rachel sama sekali tidak beranjak, ia justru berlutut dan menjadi tameng hidup. Dia melindungi rumah orang-orang Palestina yang bahkan ia sendiri tidak pernah mengenalnya. Dia ditabrak dan dilindas oleh buldozer yang dihadangnya, hingga mengakibatkan tengkorak kepalanya retak, tulang rusuknya hancur sampai menembus paru-parunya. Dengan penderitaan luar biasa akhirnya Rachel tewas bersimbah darah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Rachel bukan anggota PLO, bukan pula anggota komunis Palestina DFLP, tentunya dia juga bukan HAMAS. Tapi, Israel seakan tak peduli, bahkan mempropagandakan kebohongan pada dunia bahwa peristiwa tersebut adalah murni kecelakaan, sekaligus menjustifikasi bahwa pendudukan ilegal Israel atas tanah Palestina adalah hak berdaulat Israel. Bahkan proses hukum yang diperjuangkan keluarga beserta aktivis-aktivis kemanusiaan untuk memperkarakan Israel di negara asalnya Amerika tidak dapat dilanjutkan, dikarenakan hal tersebut sama saja mengecam secara implisit kebijakan Amerika terhadap pendudukan Israel. Amerika menganggap Rachel berada pada posisi yang "salah", itulah mungkin alasan kuat mengapa Amerika sendiri mendiamkan kasusnya, tenggelam ditelan waktu.

Beberapa waktu setelah peristiwa itu terjadi, Yasser Arafat menelepon langsung kepada ayahnya Craig Corrie dan berkata, "Dia Putri anda, tapi dia juga sekarang Putri Palestina". Kematian Rachel telah membawa pesan kepada dunia, bahwa kemanusiaan bukanlah soal pembelaan terhadap agama, keturunan, atau ras yang tertindas, tapi soal perasaan yang bertindak. Demi menghormati perjuangannya, rakyat Palestina menjadikan namanya sebagai sebuah nama jalan di Tepi Barat. Hingga pada 2010, namanya juga diabadikan menjadi sebuah kapal Republik Irlandia dengan misi kemanusiaan untuk membongkar blokade Israel yang menjadikan Gaza sebagai penjara terbesar di dunia dengan 1,7 juta penduduk terisolasi.

Rachel adalah simbol anomali, ia seorang yahudi yang konsisten menentang penindasan dari sebuah negara dengan ideologi previllege bagi bangsa yahudi yang terdiaspora, menentang dominasi Imperialisme negara adidaya yang sering menekan negara berkembang, yang tak lain adalah negaranya sendiri.

"Mereka adalah kita, kita adalah mereka" kata-kata itu adalah salah satu ungkapan dalam catatan penting hariannya yang dipublikasikan secara lengkap oleh Guardian dalam tajuk yang berjudul "Rachel's War". Ungkapan ekspresi yang menuliskan sebuah deskripsi bahwa Rachel adalah seorang pengusung Pluralisme Universal, cinta damai, dan menolak segala bentuk kekerasan yang ada di muka bumi. Rachel menghabiskan waktunya untuk kemanusiaan. Puisi, agitasi dan sketsanya telah menerobos batas-batas negaranya yang rigid, rasis, dan superior. Menusuk alam bawah sadar dogma anti perbedaan yang menstimulan kesadaran manusia untuk berpikir maju dan berempati.


"Bila kata terujar mulutku tak berarti, biarkan ia mengambang sesaat di udara. Kan kujadikan itu kata-kata canda menghibur hingga kelak kucipta kalimat bermakna yang mengitarinya. Kumau terbang melayang untuk berkibar.... beri aku jeda waktu, jangan komentari.... biarkanku menari, mengitari kelopak bunga lily. Kemudian melesat bagai air mancur, terbang menyertai kata-kataku yang tak berarti itu". Kalimat-kalimat ini adalah petikan dari salah satu catatannya. Kuat dan inspiratif. Seperti penegasannya. "Beri aku jeda waktu, jangan komentari..." menunjukan betapa dia sangat menghargai proses bagaimana menjadi manusia merdeka. Dia yakin, tak ada yang sia-sia dari setiap imajinasi yang terujar merdeka.

Yah, imajinasi yang merdeka, ia adalah simbol meleburnya antara rasio dan perasaan yang menghasilkan kekuatan perlawanan yang tak terakar. Ia mereduksi segala bentuk ketakutan menjadi sebuah mimpi yang hidup sebagai energi yang menghidupkan, menjelma dalam tulisan bagi para pembaca yang tersadarkan. Tersadarkan dari tidur lelap yang membakar hingga meruntuhkan tembok-tembok angkuh yang menindas kemanusiaan.

Rachel Corrie, nama yang akan terus abadi sebagai simbol resistensi pembebasan kemanusiaan, nama yang akan abadi menjadi energi yang menghidupkan rakyat dunia yang tercerai berai karena agama, ras dan ideologi. Rachel Corrie, sebuah nama yang akan selalu menggetarkan rasa kemanusiaan.

Minggu, 15 Desember 2013

OPORTUNISME POLITIKUS


Sesungguhnya yang sekarang tampil ke permukaan terutama yang sering mengisi talkshow-talkshow di televisi tidak layak kita sebut politikus. Karena politikus itu dapat definisikan sebagai intelektual, pemikir dan pejuang yang memiliki visi yang jelas, misi utamanya membawa masyarakat ke lembah kemakmuran. Tetapi yang muncul dalam perdebatan-perdebatan umum hari ini tak lebih dari pada para tukang masturbasi yang lagi asik-asiknya ejakulasi waktu bicara soal politik, seolah-seolah apa yang dibicarakan itu sebagai kebenaran untuk rakyat, padahal murni hanyalah persoalan bagaimana memenuhi ambisi kekuasaan dan egosentrisme kelompoknya saja.

Mereka semua mungkin sekolah dan meraih gelar kesarjanaan yang tinggi, tetapi kecerdasannya tidak lebih dari seorang anak yang lagi berada pada masa-masa pubertas. Pandai mengurai dengan kata-kata tentang suatu persoalan tapi substansinya adalah kebohongan, pembodohan dan nafsu untuk kleptokrasi, bukan pencerahan politik yang dapat membuat pendengarnya merenung dalam-dalam dan berpikir akan suatu visi tentang kemajuan dan kesetaraan antar manusia.

Para homo sapiens yang duduk di Parlemen dan Pejabat di lingkungan kekuasaan negara ini jelas tidak akan punya otak untuk memahami kondisi objektif yang berkembang masyarakat, ia tidak akan merasa bersalah sebagai pelayan rakyat tapi menggunakan fasilitas yang terkesan membuat jarak dengan rakyatnya. Mengendarai mobil seharga  milyaran rupiah, sementara mayoritas rakyatnya mengais-ngais rezeki sebagai buruh dan kaum pekerja yang berjuang keras dibawah teriknya sinar mentari, dan segala semrawutnya sistem transportasi yang membuat rakyatnya harus terus menguras tenaga hanya untuk bertahan hidup dan menjalani rutinitas sehari-harinya yang membosankan.

Rasa bersalah itu letaknya di hati, ketika manusia belum sempurna proses kemanusiaan di dalam dirinya, janganlah kita menuntut terlalu banyak untuk berharap agar mereka dapat bersikap seperti layaknya manusia, layaknya politikus yang sungguh-sungguh terdefinisi sebagai pembawa kemakmuran bagi rakyatnya. 

Manusia hanyalah sampah semesta yang berada diantara milyaran galaksi jagad raya, hanya saja terkadang manusia dengan politiknya membuatnya menjadi makin rumit untuk menjalani kehidupan yang seharusnya damai dan berkecukupan. Jadi buat apa mengikuti PEMILU 2014 jika manusia-manusia yang akan terpilih nanti adalah kumpulan maling-maling berjas parlente. Selama kekuatan modal adalah muara dari oligarki kekuasaan yang kulturnya sudah mendarah daging di negeri ini, maka politik akan terus menerus menjadi tumor dalam sistem demokrasi elektoral yang berbau busuk dan konspiratif yang berlangsung saat ini. Pahami politik jangan buta terhadapnya, namun yang pasti berhentilah percaya pada politikus oportunis yang saat ini gencar bicara moral dan mengemis-ngemis demi perolehan suara.



16-12-13
Rio Maesa 




Senin, 19 Agustus 2013

LARANGAN KRITIK AGAMA ADALAH PEMBODOHAN POLITIK

Untuk memulai tulisan ini ada baiknya kita semua mengenal terlebih dahulu Istilah SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) merujuk pada pengertian tentang berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Setiap tindakan yang melibatkan kekerasan, diskriminasi dan pelecehan yang didasarkan pada identitas diri dan golongan dapat dikatakan sebagai tindakan SARA. Tindakan ini mengebiri dan melecehkan kemerdekaan dan segala hak-hak dasar yang melekat pada manusia.

SARA dapat digolongkan dalam tiga kategori:
Individual: merupakan tindakan SARA yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Termasuk di dalam kategori ini adalah tindakan maupun pernyataan yang bersifat menyerang, mengintimidasi, melecehkan dan menghina identitas diri maupun golongan.

Institusional: Merupakan tindakan SARA yang dilakukan oleh suatu institusi, termasuk negara, baik secara langsung maupun tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja telah membuat peraturan diskriminatif dalam struktur organisasi maupun kebijakannya.

Kultural: merupakan penyebaran mitos, tradisi dan ide-ide diskriminatif melalui struktur budaya masyarakat.

Sebelumnya banyak teman-teman saya yang sering mempertanyakan kepada saya mengapa saya seringkali melakukan kritik yang berisikan satire maupun sarkasme tentang SARA maupun praktiknya dalam ruang media sosial. Pertama-tama yang patut diketahui secara umum adalah saya tidak pernah bicara soal SARA secara utuh (suku, etnis dan ras). Akan tetapi jika kritik terus menerus terhadap praktik "Agama" dan substansi ajaran yang menyimpang dari nilai-nilai universal kemanusiaan akan terus saya lakukan, mengapa demikian? sebab agama adalah "ide atau konsep" yang lahir dari hasil olah pikir manusia itu sendiri. 

Dalam ilmu filsafat dan kerangka negara demokrasi yang sehat, agama adalah suatu arena yang bebas untuk dikritik atau diperdebatkan jika tidak lagi sejalan dengan rasionalitas kemanusiaan yang bersifat kekinian, hal ini berbeda dengan suku, ras atau etnis yang sifatnya inheren (melekat) dalam tubuh manusia. Sampai kapanpun hal tersebut tidak boleh dikritik atau diperdebatkan, karena suku, ras atau etnis bersifat lahiriah, jadi memang sudah dari sananya sudah begitu, toh kita semua sebagai manusia yang mampu berpikir dengan akal sehat tidak akan pernah bisa memilih mau lahir dari suku apa, etnis atau ras apa, hal ini berbeda dengan agama, yang bisa kita gonta-ganti dan lepas seperti baju. Inilah premis awal kemanusiaan dan kebebasan dimana manusia punya hak dasar yaitu berkehendak bebas, maka kritik yang berisikan satire bahkan sarkasme terhadap agama yang tidak lagi sejalan dengan rasionalitas kemanusiaan bagi saya adalah keharusan intelektual. Itu jauh lebih baik daripada menggunakan kekerasan yang bukan bagian dari sikap intelektual.

Ada juga beberapa teman yang mempertanyakan apa tujuannya membahas dan memperdebatkan agama di media sosial?. Pertama-tama yang patut diingat, bebas berbicara adalah hak yang dijamin penuh dalam konstitusi maupun universalitas hukum HAM internasional. Tujuan bebas berbicara soal agama adalah agar orang-orang Indonesia tidak lagi tabu dan haram berbicara soal lintas agama. Sebab konsep dan nilai-nilai agama dalam sebagian besar pandangan bangsa indonesia seperti sudah menjadi nilai-nilai absolutisme yang kebenarannya tidak bisa diganggu gugat. Ketika kebenaran tersebut sudah dianggap mutlak dan ketika ajaran dalam agamanya dipaksakan untuk menjadi aturan hukum publik oleh pemerintah berkuasa, maka akan ada sekelompok manusia-manusia puritan dan fanatik dari salah satu agama tertentu (biasanya berasal dari kalangan mayoritas) yang akan melakukan pembenaran dengan kesewenang-wenangan, kekerasan, pembunuhan dan pemboman terhadap kelompok yang berbeda keyakinan (minoritas). Kelompok ekstremis inilah yang harus dilawan, tetapi ketika kita sadar bahwa kita tidak mempunyai kekuatan, dan juga sadar bahwa kelompok dari kalangan moderatnya lebih banyak yang masa bodo dan tidak peduli, maka satu-satunya cara adalah dengan menulis atau beragitasi di media sosial atau blog secara massif dan radikal, tujuannya biar semua orang minimal yang berteman dengan kita bisa baca. Mereka yang sadar akan kemanusiaannya pasti akan berempati, dan mungkin akan melakukan gerakan-gerakan kecil untuk merubah pandangan pribadinya dalam memandang perbedaan. Saya meyakini bahwa jika ingin melakukan perubahan maka perlawanan paling sulit adalah melawan apatisme (ketidakpedulian)

Kemudian beberapa teman disosial media ada pula yang mengatakan kepada saya apakah saya tidak takut dengan ancaman penjara? seperti aturan larangan SARA yang ada dalam UU ITE, KUHP dan PNPS 65.

Jujur saya sama sekali tidak pernah takut dengan ancaman-ancaman murahan seperti itu. Masyarakat kita memang sangat primordialis dan terbelenggu dalam sikap konservatisme dalam beragama, hingga terlalu sering memelihara akar sensitifitas, terlalu sensitif ketika disuguhkan isu-isu mendasar seperti keyakinan dan agama yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sikap-sikap primordialisme itu sendiri. Ketika ada sebagian besar orang seperti saya contohnya yang mengkritik agama, justru dianggap menstimulan kekerasan atas nama SARA, dituduh provokator, bukannya mendapat jawaban-jawaban dengan pikiran jernih dan kedewasaan intelektualitas. Sudah banyak kasus penghujatan terhadap agama berakhir pada hukuman penjara seperti kasus yang menimpa Alex Aan di Padang, Sumatera Barat. 
Padahal sesungguhnya larangan terhadap isu SARA hanyalah alat politik pembodohan, yang meminimalisir daya intelektualitas masyarakat kita. Pembodohan sistematis yang sengaja dipelihara oleh rezim penguasa, padahal di sisi yang lain penguasa sendiri suka memainkan isu SARA melalui ormas-ormas radikal yang memang sengaja dipelihara oleh kekuasaan status quo untuk mengalihkan kesadaran masyarakat dari persoalan yang menyangkut hajat hidup masyarakat secara langsung yaitu persoalan ekonomi-politik.

Di negara yang demokrasinya sehat dan peradabannya maju, bicara lintas agama sudah menjadi kebiasaan, makanya peradabannya sehat sehingga aspek-aspek kemanusiaan dan kebebasan menjadi instrumen nilai yang harus dihormati setinggi langit. Hal ini tidak seperti yang terjadi di Indonesia, dimana rasa sensitifitas masyarakat begitu kuat dipelihara, jadi jangan kaget jika banyak kekerasan berlatar belakang isu primordialisme dan agama yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dibahas. Jika ada hukum di Indonesia seperti Pasal 156a KUHP dan PNPS 65 tentang Penyalahgunaan Penodaan Agama yang melegitimasi pemberian hukuman terhadap suatu subjek hukum personal, maka sesungguhnya hukum itu adalah hukum yang absurd. Hukum yang berusaha menghukum keyakinan seorang warga negara yang tidak diatur dalam kaidah-kaidah hukum positif adalah cacat-secacat-cacatnya hukum. Sejarah sudah bijak mengatakan bahwa hukum adalah milik pemenang, dan pasca kudeta rezim soekarno oleh soeharto 1965 dan Pasca Reformasi hukum positif tentang kebebasan berkeyakinan dimenangi oleh kaum pandir yang memang suka memelihara kebodohan.

Sebagian teman ada juga yang mengatakan bahwa apakah karena terlalu sering melakukan kritik satire dan sarkasme tidak takut dianggap sebagai provokator yang bisa memecah belah persatuan umat beragama dalam kehidupan bernegara?. Primordialisme melahirkan keyakinan bahwa agama yang diyakini diklaim sebagai suatu kesempurnaan, ketika orang yang meyakini bahwa suatu hal itu sempurna maka keyakinan tersebut otomatis akan bertransformasi menjadi suatu ideologi yang tiran.
Saya pribadi tidak pernah takut dengan siapapun ketika kita harus bicara soal kebenaran. Sebab yang namanya kebenaran itu harus selalu disiarkan, tidak boleh ditutup-tutupi walaupun hal tersebut mungkin dianggap menyinggung salah satu ajaran atau keyakinan salah satu pemeluk agama.

Dianggap memecah belah? bagi saya itu tidak lebih dari ungkapan apriori yang tak berdasar, lihat saja kelakuan pemerintah beserta aparatur negaranya, di negara ini saja banyak sekali ormas-ormas keagamaan berideologi neo-fasis agama yang jelas-jelas mengancam keutuhan bernegara dan kehidupan berbhineka tetap saja dibiarkan dan dipelihara oleh penguasa, inilah yang disebut sebagai SARA institusional dan kultural. Jadi sebenarnya yang berniat menciptakan perpecahan itu siapa? saya, ormas-ormas biadab itu atau rezim pemerintah?

Dalam pandangan saya, jikalau masih saja ada orang yang marah dan sensitif ketika ajaran, doktrin atau praktik keagamaannya dikritik, maka sesungguhnya ia masih berada pada tahap-tahap pubertas dalam beragama, beragamanya tidak lebih dari sekedar antara pertalian emosional dan psikologis belaka, belum pada levelan beragama yang riil dan manusiawi. Dan yang patut di ingat, mereka-mereka yang marah dan emosi ketika ada yang bicara soal kebenaran maka sesunggunya mereka semua itu masih hidup dalam kabut kebohongan. Kesimpulannya kebebasan berbicara adalah keniscayaan, sedangkan larangan terhadap Kritik Agama adalah Pembodohan Politik, sebab SARA (suku, etnis dan ras) dengan Agama adalah dua dikotomi yang sangat berbeda.

Minggu, 11 Agustus 2013

KONSUMERISME: PENIPUAN BORJUASI DI ERA KAPITALISME

Apa itu Penipuan Borjuasi??

Kita tanpa sadar terjebak dalam penipuan borjuasi. Coba kita perhatikan gaya hidup kita, periksa tujuan-tujuan hidup kita?, apa yang mendesak kita untuk berlari mengejar waktu?, apa yang memaksa kita membeli barang-barang yang seharusnya tidak kita butuhkan? apa yang membuat kita berutang dengan bunga yang tinggi yang tanpa sadar membuat kita berutang? apa yang membuat kita tidak menghargai hubungan-hubungan sosial bermasyarakat, harmoni sosial, cita-cita bersama, dan tidak lagi menoleh pada rasionalitas kemanusiaan kita?

Gaji kita dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang sesungguhnya tidak kita mengerti, sistem keuangan yang kita pahami adalah bagaimana cara mengutang bukan sistem yang mengajarkan kita bagaimana caranya mengembangkan keadilan distribusi kekayaan, utang-utang diplesetkan oleh sistem kapitalisme sebagai pencapaian-pencapaian standar hidup. 

Para perempuan distandarisasikan kecantikannya lewat gaya hidup yang kapitalistik-materialis. Sebagian besar dari mereka terutama yang hidup dalam arus modernisasi kota-kota besar telah berhasil masuk kedalam jebakan konsumerisme barang-barang bermerek yang sesungguhnya merupakan penipuan terbesar dari korporasi fashion dan korporasi multinasional yang diagitasikan oleh strategi marketing internasional dan didukung oleh media-media mainstream. Mereka yang menolak sesuai dengan standar kecantikan kapitalistik-materialis akan dipaksa mundur, mereka yang tidak memenuhi standar kecantikan kapitalistik-materialis tapi tetap coba memaksakan diri untuk ikut-ikutan dalam arena eksistensi kehidupan sosialita harus cukup senang menjadi bahan tertawaan publik.

Tontonan-tontonan media visual televisi kita adalah bagaimana caranya menghabiskan uang, bahkan tidak jarang konsumerisme menggunakan term-term keagamaan demi meraup keuntungan besar dari konsumen, bukan membangun masyarakat berbasis produksi. Anak-anak kita dipaksa menghafal merek-merek mobil, gadget elektronik terbaru, mereka tidak tahu lagi tentang alam lingkungan, apatisme terhadap semesta adalah keniscayaan, mall-mall yang mewah terus menerus dibangun sementara pasar, taman hijau untuk rakyat dan lapangan-lapangan dimana interaksi antar manusia dulu biasanya terjadi kini dihilangkan, tanpa sadar kita diasingkan dari hal-hal alamiah.

Alienasi (keterasingan) manusia ini adalah penipuan borjuasi di era kapitalisme yang cemerlang. Dan akumulasi modal lah yang menjadi alasan utama pengasingan manusia pada dirinya sendiri. Siapa penguasa modal dialah penguasa arena eksistensi dalam lingkungan yang kapitalistik.

Kamis, 04 Juli 2013

INTELEKTUAL IMITASI

 "....SIAPAPUN BISA JADI SARJANA, TAPI TAK SEMUA DAPAT MENJADI INTELEKTUAL...."

Saya tidak pernah memandang penting "kesatuan yang berwujud" (baca:entitas) dunia pendidikan, gelar akademis dan sederet hal-hal formalitas dalam intelektualitas. Karena intelektualitas tidak akan pernah bisa dibangun oleh entitas, dan bahwasannya entitas itu juga berisi manusia-manusia yang juga tak pernah jelas ukurannya. Ketika kamu terobsesi pada formalitas intelektualitas, di saat itulah kamu dilatih untuk menjadi burung beo atas pemikiran orang lain, kehilangan orisinalitas dan gagal mencari ilmu secara otodidak, kamu akan gagal membangun metode sistematika dirimu sendiri, kedisiplinanmu adalah kedisiplinan intelektual imitasi yang diciptakan oleh arus besar mainstream.

Gelar kesarjanaan adalah wujud sakralitas dunia pendidikan, tapi yang paling mengenaskan adalah ketika gelar tersebut cuma dipakai hanya untuk sekedar menjadi embel-embel simbol tambahan pada nama belakang kartu undangan pernikahan. Pendidikan saat ini berbasis industrialisasi, implikasinya melahirkan kompetisi, kompetisi yang sudah sepatutnya bermuara pada kemajuan pola pikir, bukan pada panjangnya titel berderet-deret tetapi hampa kritisisme. Pada akhirnya intelektual demikian tidak lebih dari budak pasar, yang akan terus menerus bertransformasi menjadi kuda troya korporasi besar.

Kini dunia mengarah pada simetrisnya arus informasi, dimana semua orang dengan mudah mendapatkan hak akses terhadap banyaknya informasi, era internet lambat laun mendegradasi tingginya nilai akademik yang dibentuk dalam entitas kesarjanaan. Sebab internet adalah jendela ilmu pengetahuan yang nyata, ia akan membentuk realitas akademik yang menjadi induk pemberian gelar menjadi tanpa batasan. Dimasa depan, gelar tidak akan lagi penting sebagai simbol kecerdasan atau intelektualitas, justru generasi yang melek internet lah yang akan memiliki kecerdasan revolusioner daripada mereka-mereka yang sibuk berkutat pada formalitas akademik. Gelar hanyalah simbol, selama paradigma dan pola pikirmu masih terimitasi oleh ilmu copy paste para akademisi bergelar profesor doktor, itu semua tiadalah berarti, sejauh gelar itu bisa kamu dapatkan dengan cara yang instant.

Kamu boleh saja memiliki gelar pendidikan yang berderet-deret, lulus masuk kerja di korporasi besar paling bergengsi, naik gaji sebagai Pegawai Negeri karena gelar panjang yang disandang, tapi tanpa mengenal realitas dunia, miskin filsafat, minim wawasan bacaan, tak pernah bermimpi dan berimajinasi, kamu tidak lebih dari ternak yang pandai.


Minggu, 10 Maret 2013

CHAVEZ DAN 50 FAKTA VENEZUELA, MEMBONGKAR DISTORSI-PROPAGANDA KAPITALISME GLOBAL

50 hal dari Hugo Chavez dan Revolusi Bolivarian


Presiden Revolusioner Hugo Chavez dinyatakan meninggal pada tanggal 5 Maret 2013. Chavez sebelumnya dirawat lebih dari satu tahun karena sakit kanker, dan beberapa kali menjalani operasi di Kuba. Selama proses perawatan selama beberapa bulan, Chavez yang berusia 58 tahun tidak pernah terlihat di depan umum.

Setelah wafatnya Chavez, banyak spekulasi bermunculan, yang paling diuntungkan dari wafatnya Chavez jelaslah kelompok oposisi yang didukung penuh oleh Amerika Serikat yang tidak lain adalah sentral imperialisme dunia. Semenjak Chavez naik ke tampuk kekuasaan Amerika Serikat sangat tidak menyukainya, Chavez yang berhaluan sosialis ini dianggap mengancam kepentingan-kepentingan Amerika Serikat di wilayah regional secara khusus dan dunia secara umum, sebab Chavez berusaha menjadi leader dalam menciptakan poros kekuatan baru dunia yang lebih adil bersama Iran dan Kuba dalam usahanya melawan kedigdayaan imperialisme Amerika Serikat. Berbagai usaha kotor terus dilakukan Amerika Serikat, akan tetapi selalu gagal dalam menjatuhkan Chavez dari tampuk kekuasaan. Amerika Serikat sangat membenci Chavez, sehingga Amerika Serikat dengan media mainstreamnya tidak pernah berhenti untuk terus melakukan distorsi dan propaganda hitam kepada dunia mengenai Venezuela dan Chavez.

Adalah Dr. Salim Lamrani yang melakukan kajian dan analisis politik-sosial untuk membongkar kebenaran yang ditutup-tutupi oleh media mainstream barat. Saya merangkumnya dibawah ini dengan mengutip tulisan yang dipublikasi oleh lembaga independen Global Research.
12 juta lebih rakyat Venezuela yang mengiringi jenazah Chavez di Bogota

1. Tidak pernah dalam sejarah Amerika Latin, memiliki seorang pemimpin politik telah dilegitimasi demokratis seperti tidak perlu dipersoalkan. Sejak berkuasa pada tahun 1999, ada 16 kali pemilu di Venezuela. Hugo Chavez memenangkan 15, yang terakhir pada tanggal 7 oktober 2012. Dia mengalahkan para pesaingnya dengan margin 10-20%.

2. Semua badan-badan internasional, dari Uni Eropa untuk Organisasi Negara-negara Amerika, ke Uni Selatan Bangsa Amerika dan Carter Center, dengan suara bulat mengakui transparansi penghitungan suara.

3. James Carter, mantan Presiden AS, menyatakan bahwa sistem Venezuela adalah "yang terbaik di dunia".

4. Akses universal terhadap pendidikan diperkenalkan pada tahun 1998 memiliki hasil yang luar biasa. Sekitar 1,5 juta rakyat Venezuela belajar membaca dan menulis berkat kampanye yang disebut Robinson I.

5.  Pada bulan Desember 2005, UNESCO mengatakan bahwa Venezuela telah memberantas buta huruf.

6. Jumlah sekolah anak menghadiri meningkat dari 6 juta pada tahun 1998 menjadi 13 juta pada 2011 dan angka partisipasi sekarang 93,2%.

7. Misi Robinson II diluncurkan untuk membawa seluruh penduduk hingga tingkat menengah. Dengan demikian, tingkat partisipasi sekolah menengah meningkat dari 53,6% pada tahun 2000 menjadi 73,3% pada tahun 2011.

8.  Misi Ribas dan Sucre memungkinkan puluhan ribu kaum muda untuk melakukan studi universitas. Dengan demikian, jumlah mahasiswa perguruan tinggi meningkat dari 895.000 pada tahun 2000 menjadi 2,3 juta pada 2011, dibantu oleh penciptaan-penciptaan universitas baru.

9. Sehubungan denga kesehatan, mereka menciptakan Sistem Umum Nasional untuk menjamin akses gratis ke perawatan kesehatan bagi semua rakyat Venezuela. Antara 2005 dan 2012, 7873 pusat medis baru diciptakan di Venezuela.
10. Jumlah dokter meningkat dari 20 per 100.000 penduduk pada tahun 1999 menjadi 80 per 100.000 pada tahun 2010, atau meningkat 400%.

11. Misi Barrio Adentro I disediakan 534.000.000 konsultasi medis. Sekitar 17 juta orang hadir, sementara pada tahun 1998 kurang dari 3 juta orang memiliki akses rutin untuk kesehatan. 1,7 juta jiwa diselamatkan, antara tahun 2003 dan 2011.

12. Angka kematian bayi menurun dari 19,1 per seribu pada tahun 1999 menjadi 10 per seribu pada tahun 2012, penurunan dari 49%.

13. Rata-rata harapan hidup meningkat dari 72,2 tahun pada 1999- 74,3 tahun pada 2011.

14. Berkat operasi Miracle, diluncurkan pada tahun 2004, 1,5 juta rakyat Venezuela yang menjadi korban katarak atau penyakit mata lainnya, kembali penghilatan mereka.

15. Dari tahun 1999 sampai 2011, angka kemiskinan menurun dari 42,8% menjadi 26,5% dan tingkat kemiskinan turun dari 16,6% pada tahun 1999 menjadi 7% pada tahun 2011.

16. Dalam peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari Program PBB untuk Pembangunan (UNDP), Venezuela melonjak dari 83 pada tahun 2000 (o,656) diposisi 73 pada tahun 2011 (0,735), dan masuk ke dalam kategori Bangsa dengan "HDI Tinggi"

17. Koefisien GINI, yang memungkinkan perhitungan ketimpangan di suatu negara, turun dari 0,46 pada tahun 1999 menjadi 0,39 di tahun 2011.

18. Menurut UNDP, Venezuela memgang koefisien GINI terendah tercatat di Amerika Latin, yaitu, Venezuela adalah negara di wilayah dengan ketidaksetaraan sedikit.

19. Malnutrisi anak berkurang sebesar 40% sejak tahun 1999.

20. Pada tahun 1999, 82% penduduk memiliki akses terhadap air minum yang aman. Sekarang itu adalah 95%.

21. Di bawah Presiden Chavez sosial pengeluaran meningkat sebesar 60,6%.

22. Sebelum tahun 1999, hanya 387.000 orang lansia menerima pensiun. Sekarang sosok itu adalah 2,1 juta.

23. Sejak tahun 1999, 700.000 rumah untuk rakyat telah dibangun di Venezuela.

24. Sejak tahun 1999, pemerintah menyediakan kembali lebih dari satu juta hektar tanah kepada orang-orang aborigin.

25. Land Reform memungkinkan puluhan ribu petani untuk memiliki tanah mereka. Secara total, Venezuela mendistribusikan lebih dari 3 juta hektar.

26. Pada tahun 1999, Venezuela memproduksi 51 % dari makanan yang dikonsumsi. Pada 2012, produksi adalah 71%, sedangkan konsumsi makanan meningkat sebesar 81% sejak tahun 1999. Jika konsumsi 2012 adalah sama dengan 1999, Venezuela menghasilkan 140% dari makanan yang dikonsumsi.

27. Sejak tahun 1999, kalori rata-rata dikonsumsi oleh Venezuela meningkat berkat 50% ke Misi Makanan yang menciptakan rantai dari 22.000 toko makanan (Mercal, Rumah Makanan, Red PDVAL), di mana produk yang disubsidi hingga 30%. Konsumsi daging meningkat sebesar 75% sejak tahun 1999.

28. Lima juta anak-anak kini menerima makanan gratis melalui Program Feeding Sekolah. Angka adalah 250.000 pada tahun 1999.

29. Tingkat kekurangan gizi turun dari 21% pada tahun 1998 menjadi kurang dari 3% pada tahun 2012.

30. Menurut FAO, Venezuela adalah negara yang paling maju di Amerika Latin dan Karibia dalam erradication kelaparan.

31. Nasionalisasi perusahaan minyak PDVSA pada tahun 2003 memungkinkan Venezuela untuk mendapatkan kedaulatan energi.

32. Nasionalisasi listrik dan sektor telekomunikasi (CANTV dan Electridad de Caracas) diperbolehkan akhir monopoli swasta dan akses universal dijamin untuk layanan ini.

33. Sejak tahun 1999, lebih dari 50.000 koperasi telah diciptakan di semua sektor ekonomi.

34. Tingkat pengangguran turun dari 15,2% pada tahun 1998 menjadi 6,4% pada tahun 2012, dengan penciptaan lebih dari 4 juta lapangan pekerjaan.

35. Upah minimum meningkat dari 100 bolivars/month ($160) pada 1998-2047,52 bolivar ($330) pada tahun 2012, yaitu lebih dari 2000%. Ini adalah upah minimum tertinggi di Amerika Latin.

36. Pada tahun 1999, 65% dari tenaga kerja yang diperoleh upah minimum. Pada tahun 2012 hanya 21,1% dari pekerja hanya memiliki tingkat gaji.

37. Orang dewasa di usia tertentu yang belum pernah bekerja masih mendapatkan setara pendapatan 60% dari upah minimum.

38. Wanita tanpa masyarakat berpenghasilan dan cacat menerima uang pensiun sampai 80% dari upah minimum.

39.  Jam kerja dikurangi menjadi 6 jam sehari dan 36 jam per minggu, tanpa kehilangan gaji.

40. Utang publik menurun dari 45% dari PDB pada tahun 1998 menjadi 20% pada tahun 2011. Venezuela menarik diri dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank), setelah pelunasan lebih awal atas seluruh utangnya.

41. Pada tahun 2012, tingkat pertumbuhan 5,5% di Venezuela, salah satu yang tertinggi di dunia.

42. GDP per kapita meningkat dari $ 4.100 pada tahun 1999 menjadi $ 10.810 pada tahun 2011.

43. Menurut indeks Kebahagiaan Dunia Tahunan 2012, Venezuela adalah negara paling bahagia kedua di Amerika Latin, di belakang Kosta Rika, dan di seluruh dunia kesembilan belas, menjelang Jerman dan Spanyol.

44. Venezuela menawarkan lebih banyak dukungan langsung ke benua Amerika dari Amerika Serikat. Pada tahun 2007, Chavez menghabiskan lebih dari 8.800 juta dolar dalam bentuk hibah, pinjaman dan bantuan energi terhadap 3000 juta dari pemerintahan Bush.

45. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Venezuela memiliki satelit sendiri (Bolivar dan Miranda) dan sekarang berdaulat di bidang teknologi ruang angkasa. Seluruh negara memiliki internet dan cakupan telekomunikasi.

46. Penciptaan Petrocaribe pada tahun 2005 memungkinkan 18 negara di Amerika Latin dan Karibia, atau 90 juta orang, pasokan energi yang aman, dengan subsoidi minyak antara 40% sampai 60%.

47. Venezuela juga memberikan bantuan kepada masyarakat yang kurang beruntung di Amerika Serikat dengan menyediakan BBM dengan harga subsidi.

48. Pembentukan Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika Kita (ALBA) pada tahun 2004 antara Kuba dan Venezuela meletakkan dasar-dasar dari Aliansi Inklusif didasarkan pada kerjasama dan timbal balik. Sekarang terdiri dari delapan negara anggota yang menempatkan manusia di tengah proyek sosial, dengan tujuan memerangi kemiskinan dan pengucilan sosial.

49. Hugo Chavez berada di jantung dari penciptaan pada tahun 2011 dari Komunitas Amerika Latin dan Karibia Amerika (CELAC) yang membawa bersama-sama untuk pertama kalinya 33 negara di wilayah ini, dibebaskan dari pengawasan Amerika Serikat dan Kanada.

50. Hugo Chavez memainkan peran penting dalam proses perdamaian di Kolombia. Menurut Presiden Manuel Santos, "Kalau kita masuk ke sebuah proyek perdamaian yang solid, dengan kemajuan yang jelas dan konkret, kemajuan yang dicapai sebelumnya dengan FARC, juga karena dedikasi dan komitmen Chavez dan Pemerintah Venezuela."

Dr. Salim Lamrani, Dosen Hubungan Internasional Universitas Sorbonne IV Paris dan Universitas Marne-la-Valle, Jurnalis Perancis, Pakar Hubungan antara Kuba dan Amerika Serikat. Ia pernah mempublikasi "Cuba: What the Media Will Never Tell You".
Email: lamranisalim@yahoo.fr dan salim.lamrani@univ-mlv.fr


Referensi:
1. Venezuela Analysis
2. Global Research






Selasa, 17 Juli 2012

RAMADHAN BULAN TERSIAL, ANTARA ONANI IMAN DAN KAPITALISME PAHALA

Aku tidak dapat dapat berpura-pura senang menyambut datangnya bulan Ramadhan, jika bulan tersebut adalah bulan paling sialan diantara bulan-bulan lainnya. Aku tidak dapat berpura-pura membanggakan indahnya Ramadhan jika bulan tersebut penuh dengan kemunafikan. Aku tidak perlu berpura-pura senang menyambut datangnya bulan Ramadhan hanya untuk menyenangkan kalangan tertentu atau karena ingin dikatakan sebagai pribadi yang berjiwa toleransi.

Aku hanya mengatakan sebuah ucapan jika benar-benar pantas dan tulus aku ucapkan. Bila aku berpura-pura senang dan bahagia menyambut datangnya bulan Ramadhan, maka jelas aku telah membohongi diri sendiri. Bagiku jujur pada diri sendiri merupakan sebuah bentuk kehormatan tertinggi sebagai manusia. Jadi bagaimana orang lain mau menghormati kita, jika kita saja tidak dapat menghormati diri kita sendiri?

Faktanya dibulan Ramadhan aku menyaksikan banyak bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama dilakukan oleh berbagai organisasi kemasyarakatan radikal yang dilegitimasi oleh ambivalensi kekuasaan status quo. Mereka berteriak-teriak atas nama Tuhan, kemudian secara barbar memukuli orang yang makan, lalu menutup paksa warung yang kebetulan buka disiang hari. Pernahkah sedikit saja terpikir oleh para pembela Tuhan itu bahwa warung-warung kecil tersebut merupakan satu-satunya mata pencaharian orang-orang itu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya?

Sedangkan disisi yang lain dibulan puasa, fenomena Religionomic menciptakan disparitas harga bahan-bahan pokok yang menjulang tinggi menambah kesengsaraan kaum miskin hingga titik nadir yang memprihatinkan. Fenomena religionomic secara filosofis dapat digambarkan sebagai suatu keadaan, di mana para pelakunya bertindak seperti germo dan pelacur, yang menggunakan segala rayuan dan trik-trik manipulatif untuk mengkomersilkan simbol-simbol dan term-term keagamaan serta memanfaatkan untuk tujuan komersial semua kegairahan, semangat, kesenangan, dan luapan hasrat keagamaan di tengah masyarakat, semata-mata demi memperoleh nilai tambah ekonomis. Fenomena Religionomic adalah bentuk lain dari Kapitalisme yang bercumbu mesra dengan agama.

Pada akhirnya praktik seperti ini menafikan esensi kemanusiaan yang tersirat dalam agama itu sendiri. Jika bulan Ramadhan adalah bulan untuk menahan dan menguji hawa nafsu, mengapa tempat makan, prostitusi, hiburan malam dan tempat-tempat yang dianggap mengundang maksiat ditiadakan? ini sama saja memberikan soal ujian dengan jawaban, jadi apa lagi yang mau diuji, bukankah hal ini tidak berbeda dengan onani iman? entah sampai kapan semua ini akan terus terjadi? sampai kapan bulan puasa akan terus dijadikan alasan untuk melakukan onani iman?
 
Aku melihat dibulan Ramadhan tingkat kriminalitas semakin meningkat tinggi dibandingkan bulan-bulan normal sebelumnya. Mulai dari pencurian sandal di masjid-masjid, pencopet dan penghipnotis yang berkeliaran di terminal-terminal transportasi massal, hingga perampok yang menggasak isi rumah yang kosong ditinggal tarawih dan mudik si mpunya rumah. Sebagian besar kriminil yang tertangkap oleh aparat kepolisian rata-rata mengaku nekat melakukannya hanya demi memenuhi kebutuhan hari raya atau sekedar untuk mencari ongkos pulang kampung. Ada pula yang meminjam-minjam uang kepada tetangga yang lebih baik ekonominya hanya sekedar untuk bisa ikut merayakan euphoria lebaran, padahal ia sendiri sadar bahwa ia tidak akan mampu membayar hutangnya itu setelah hari raya selesai. Dan pada akhirnya hari lebaran sudah terjebak pada pemujaan sikap materialistik yang serba baru dalam wujud yang sesungguhnya tidak lebih dari artifisial semu.

Di bulan Ramadhan orang yang berpuasa secara tidak tahu malu meminta paksa untuk dihormati. Sedangkan mereka sendiri sama sekali tidak mau menghormati orang yang tidak berpuasa. Mulai dari Isya hingga berakhir sholat Tarawih dan kemudian dilanjutkan jam 2 dini hari hingga terdengar suara hingar bingar dari toa-toa masjid dan orang-orang yang berjalan-jalan keliling komplek dan kampung untuk membangunkan orang yang berpuasa untuk segera sahur. Dalam pandangan rasionalitas dan kritisisme, kita semua melihat bahwa ritual puasa telah gagal sebagai sebuah proses mediasi dalam memahami spiritualitas antara hubungan diri sendiri dengan orang lain yang berbeda (minoritas). Mereka yang menjalankan puasa tidak mau peduli, apakah teriakan-teriakan mereka telah mengganggu tidur lelap masyarakat sekitar yang tidak ikut berpuasa.

Pastinya dibulan Ramadhan ini, seolah-olah dunia hanya milik mereka dan yang lain cuma ngontrak karena dianggap hanya segelintir minoritas yang tak punya suara dan punya kekuatan. Mereka telah menggantikan hati nurani dengan egosentrisme pengharapan akan pahala yang berlipat ganda dengan ganjaran pembersihan dosa dan iming-iming surga bersama 72 bidadari perawan. Hingga akhirnya setiap orang yang berpuasa terjebak pada penghambaan terhadap kapitalisme pahala.

Kapitalisme pahala menjadikan bulan Ramadhan sebagai komoditi kapitalisme bagi para ustadz, ustadzah, kyiai dan habib-habib komersil untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya melalui ceramah di berbagai media televisi, radio dan masjid-masjid. Mereka memanfaatkan Fenomena Religionomic. Mereka mengindoktrinasi umatnya dengan dakwah-dakwah yang delusif dan penuh irasionalitas omong kosong kemudian tanpa henti membuai mereka dengan candu menuju kehidupan utopia untuk mengisi kehampaan spiritualitas, hingga tak sadar melupakan entitas duniawi sebagai sebagai makhluk merdeka. Singkatnya, para pelaku religionomic adalah orang-orang yang berusaha menjadikan simbol dan term agama sebagai komoditi yang sangat menguntungkan dalam memberikan nilai tambah ekonomis. Disinilah terjadi praktik kotor yang bernama Kapitalisme Pahala.

Saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh seorang seorang sahabat, puasa itu mirip-mirip dengan mesin cuci tubuh. Tetapi problemnya adalah puasa Ramadhan hanya kolektif milik umat muslim, dan lebih banyak unsur karnaval sosialnya, pamer kebajikan, eksistensi sosial, pamrih pahala dan banyak menuntut ini-itu agar dihormati, ditoleransi dan dihargai ibadah puasa ramadhannya. Alih-alih bernilai sunyi dan kontemplatif, itulah sebabnya nyaris tak ada perubahan berarti pada diri mereka sebelum dan sesudahnya.

Dan akhir kata jika ada yang marah, ngamuk, tersinggung, tidak tahan kritik dan menghunus pedang sehabis membaca tulisan singkat ini, kemudian berapriori dan berapologi, hingga menganggapnya tendensius, berarti dia masih berada pada masa-masa pubertas dalam beragama. Selamat menjalankan ibadah puasa kepada yang tidak berpuasa, semoga yang berpuasa mau menghormati yang tidak berpuasa.

Senin, 23 April 2012

MANUSIA BISA TETAP BERMORAL TANPA TERIKAT AGAMA

Fundamen agama adalah dogma atau postulat (sebuah asumsi yang menjadi pangkal dalil yang dianggap benar tanpa perlu membuktikannya), dan inti dari postulat agama adalah Tuhan atau Dewa. Yah, dialah TUHAN, begitu sakralnya kalimat ini, memiliki tendensi atas nilai-nilai absolut yang bersifat monopolistik, dan yang pasti tidak bisa diganggu gugat. Beginilah bentuk kredo realitas atas apa yang disebut Tuhan dalam konteks keyakinan. Berbeda lagi jika kita berbicara Tuhan dalam konteks pemikiran filsafat. Dalam konteks filsafat, pemikiran Tuhan menimbulkan banyak pertentangan, perdebatan akan eksistensi keberadaannya, hasilnya terpecah, ada yang mengakui sebatas bentuk metafora (simbol) sampai tidak lagi ada pengakuan terhadap eksistensinya sama sekali.

Sebagian besar orang indonesia mengatakan bahwa kaum ateis, agnostik dan free thinker (non-believer) merupakan kaum hina yang tak punya etika moral, karena para non believer memiliki arogansi kesombongan dan kecongkakan hidup untuk memilih tidak beragama dan bertuhan. Dalam pandangan mereka, orang-orang non believer adalah sebuah momok menakutkan di negeri ini, hampir seburuk sang iblis itu sendiri. Ia disamakan dengan pemadat, pelacur, pembunuh, dan pemerkosa. Ia tak punya tempat hidup di negeri yang “beragama” ini. Di lain pihak, negeri yang sangat agamis ini tidaklah menjadi sebuah negeri yang makmur, aman dan tentram. Justru beberapa negara yang kecenderungan non believernya berkembang menunjukkan ciri-ciri negara maju yang makmur, aman, tenteram bahkan manusiawi.

Sesungguhnya nilai luhur atau disebut moralitas itu tidak ada hubungannya dengan keyakinan agama (ibadah dan keesaan Tuhan). Karena moralitas itu adalah hubungan antar sesama manusia. Moral adalah soal nilai-nilai dan relasi antar manusia. Sepanjang seseorang sudah punya sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan hukum nurani dan hukum sosial, maka jelas dia bisa disebut sudah bermoral. Apapun cara pandang dan keyakinannya. Sedangkan soal Atheis dan Theis (agama), itu adalah soal keyakinan, soal pandangan seseorang atas realitas kehidupan dunia dan akhir kehidupan. Moralitas lahir dari akal budi manusia, bukan dari agama. Agama hanya membajaknya sebagai aset jualan untuk memperdagangkan keyakinannya. Atheis dan Theis tidak berbanding lurus dengan moralitas seseorang. Kedua-duanya tetap berpeluang untuk bermoral dan tidak bermoral. Dan sejarah peradaban umat manusia sudah membuktikan akan hal ini. Jadi menyandingkan ateisme sebagai keyakinan yang tidak bermoral, dan sebaliknya kaum theis adalah keyakinan yang otomatis bermoral, adalah sebuah generalisasi yang konyol, dan fallacy (kesalahan berpikir) yang tak termaafkan.

Tepat sekali kiranya apa yang pernah diucapkan oleh Artur C. Clarke, bahwa tragedi terbesar dalam sejarah peradaban umat manusia adalah ketika moralitas dibajak oleh agama. Sejarah telah mencatat, bahwa agama adalah salah satu sebab utama munculnya berbagai pertumpahan darah di dunia ini. Lihat saja bagaimana berbagai tragedi kemanusiaan dan perang-perang besar yang terjadi didunia ini hampir selalu bermula dari sensitifitas kaum beragama yang ingin memperebutkan legitimasi kebenaran Tuhannya masing-masing dan perebutan geopolitik dengan berbagai penghalalan cara untuk menyebarluaskan pengaruh ajarannya.

Ketika para non believer berbicara soal keyakinan dan kritikannya terhadap praktik keagamaan dalam ruang sosial seperti facebook atau twitter, sekonyong-konyong mereka akan mendapat tuduhan bahwa non believer ingin menyebarkan ajaran anti Tuhan kepada masyarakat. Bagi saya ini adalah pandangan apriori yang penuh dengan kesalahan paradigma berpikir. Munculnya media sosial merupakan hasil dari penghargaan yang besar terhadap kebebasan manusia, tidak ada satupun manusia ataupun sosok di angkasa yang mampu melarang berkembangnya ide dan kebebasan berpikir. Banyak orang-orang khususnya yang beragama mengamuk dan marah hanya karena keyakinannya dikritik di media sosial. Bagi saya orang-orang seperti ini hanyalah orang yang belum memiliki keyakinan beragama dalam artian yang riil. Mereka hanya memiliki keyakinan dalam bentuk arogansi semata, hanya sebatas euforia utopis. Mereka beragama hanya sebatas antara pertalian emosional dan psikologis. Belum sampai pada bentuk kesadaran beragama yang riil. Dalam pandangan saya, kaum seperti ini BARU menginjak masa PUBERTAS dalam beragama. Pada fase-fase demikian adalah fase beragama yang sangat rentan dengan sikap menelan mentah-mentah sebuah keyakinan agama secara membuta (dogmatisme). Secara nyata, fase seperti ini pula yang sangat rentan untuk dihasut dan mudah sekali terprovokasi.

Sikap non believer di mata para agamawan dan orang beragama adalah momok yang sangat menakutkan. Itulah salah satu alasan utama orang bertuhan dan beragama sangat sensitif sekali terhadap statement yang atheistik. Mereka berlaku demikian karena mereka takut dengan KOMPETITOR. Non believer di mata kaum beragama begitu menakutkan, begitu kuat, begitu beralasan logis, begitu mengancam eksistensi kaum beragama. Oleh karenanya, pikir mereka, kompetitor harus dibungkam. Hal ini dilakukan karena ketidakpercayaan diri kaum beragama terhadap apa yang mereka klaim sebagai kebenaran (theisme). Ada semacam KECEMBURUAN IDEOLOGIS, juga sikap minder dalam menghadapi ide-ide bebas. Takut jika kompetitornya lebih bagus, jadi konsep ketuhanan yang dibawa ajaran agamanya tidak laku lagi, dan lambat laun ditinggalkan oleh rasionalitas mereka sendiri. Agama dibangun dari "iman" (kredo), bukan "reason". Di sinilah titik lemahnya. Sangat wajar, dengan bermodal itu, mereka begitu khawatir terhadap para kaum non believer yang berbasis "reason" dan "logic". Itulah alasan utama mengapa kaum bertuhan nampaknya terlalu minder dan takut untuk bersaing dalam konstitusi yang bebas, sederajat dan sehat. Bertrand Russell pernah mengatakan, jika Tuhan itu ada, dia semestinya tidak akan mudah tersinggung hanya karena ada manusia yang meragukan keberadaannya. Ucapan Russell benar adanya, namun sesungguhnya bukan Tuhan yang seharusnya ditakuti, tetapi umatnya lah yang pantas untuk ditakuti, karena mereka lebih suka mengancam dan tidak pernah ragu-ragu untuk menggunakan kekerasan fisik dalam melawan pemikiran bebas ketika para free thinker mengkritik keyakinannya hingga meragukan eksistensi Tuhannya. Bahkan mereka yang beragama tetapi tidak taat pun demikian bisa saja berubah menjadi sosok monster ganas yang mengerikan hingga berlagak paling relijius ketika keyakinannya dikritik. Bisa kita lihat bagaimana dogma agama benar-benar memainkan pengaruh yang kuat pada aspek kognitif psikologis manusia. Hanya kaum beragama dari kalangan liberal, plural dan progresif lah yang masih bisa menerima perbedaan pendapat dan kritikan.

Saya sendiri tidak pernah berusaha mencari pengikut, karena membujuk orang untuk menjadi ateis atau agnostik itu sukar, dan bukan tugas seseorang seperti saya yang tidak seberapa cerdas dan kurang mampu memberi penjelasan yang memuaskan. Saya tidak pernah membujuk orang untuk jadi seorang non believer, karena sikap non believer bukanlah sebuah keyakinan seperti agama yang turun menurun dalam keluarga, non believer bukan merupakan sesuatu yang mudah diajarkan. Non believer adalah sebuah sikap hubungan personal dengan realitas. Non-believer bukanlah seorang pendakwah yang berusaha mencari sebanyak-banyaknya pengikut, tetapi orang-orang yang mendasari moralitasnya pada akal budi manusia serta mengakui segala keterbatasan yang dimilikinya. Non believer adalah sebuah hasil pencarian panjang seseorang yang bersifat personal. Seorang non believer TIDAK BISA YAKIN sebelum meragukan segala sesuatu terlebih dahulu (skeptisisme) dan cukup berani MEMPERTANYAKAN SEGALA SESUATU dan tanpa lelah berusaha untuk terus belajar mencari jawabannya. Seorang non believer tidak boleh mengandalkan jawaban-jawaban yang sudah ada, kemudian malas mencari jawaban, kemudian cukup hanya dengan meyakini bahwa semua jawaban atas kebenaran dan rahasia semesta alam ini terdapat pada sebuah buku yang dinamakan kitab suci. Seorang non believer yang baik tidak boleh ikut-ikutan menjadi non believer hanya karena dipengaruhi oleh orang lain.

Dengan kata lain sikap non believer hanya bisa ditemukan dan dialami sendiri secara personal. Seorang non believer yang baik tidak akan mendorong apalagi membujuk orang lain untuk ikut-ikutan menjadi non believer, tetapi membiarkannya tumbuh dalam pencarian di tengah-tengah pergumulan pencerahan-pencerahan visioner yang mengkritisi berbagai fakta kesalahan-kesalahan agama. Dalam pandangan saya tidak ada gunanya menambah pengikut yang cuma ikut-ikutan atau sekadar mau coba-coba, sekadar mengikuti keyakinan orang tua atau masyarakat adat sekitar, hanya untuk sekadar menyenangkan orang lain, apalagi mereka yang menjadi non believer hanya karena malas beribadah. Tetapi hati saya bertanya-tanya, ketika agama saja merasa berhak untuk menyebarluaskan ajaran agamanya mengapa non believer tidak boleh? mengapa ketika para pemuka agama berdakwah untuk mencari sebanyak banyaknya pengkut, mengapa non believer tidak boleh? 

                                                    *********************************************************

Ada banyak cara menyantuni jiwa, batin, dan pikiran. Dan memelihara kewarasan berpikir, bagi saya pribadi, dan bagi banyak kalangan non believer, tidak harus melarikan diri ke agama. Agama membutuhkan ketulusan untuk percaya begitu saja tanpa banyak tanya. Mengapa saya menjadi non believer, karena saya terlalu kritis dan skeptis untuk percaya begitu saja tentang suatu hal tanpa mempertanyakan segalanya terlebih dahulu. Dan ketika saya tidak menemukan jawaban serta bukti yang memuaskan dahaga keingintahuan saya, maka sudah sepatutnya saya meninggalkannya. Buat saya, dengan jiwa pikiran yang kritis dan skeptis, tetapi harus hidup dalam dualisme pikiran bertanya tapi hati harus menerima tanpa tanya, saya akan mengalami kegilaan. Maka demi kesehatan jiwa dan pikir saya, saya memilih menjadi seorang agnostik dan rasionalis (free thinker-pemikir bebas). Saya memilih jiwa dan pikiran yang skeptis dan kritis, karena itu lebih cocok untuk ketenangan jiwa dan batin saya. Saya menunda untuk sementara waktu percaya pada keyakinan mitologi agama-agama sepanjang tidak ada bukti yang mampu menunjang pikiran dan keyakinan saya untuk mempercayai kebenarannya. Sebagai seorang agnostik, saya tidak pernah mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, saya juga tidak bisa mengatakan bahwa Tuhan itu ada, karena saya tidak bisa membuktikan keduanya.

Saya percaya pada Tuhan metafora, Tuhan sebagai simbol atas berbagai anomali yang belum bisa terjelaskan oleh sains dan ilmu pengetahuan. Bukan Tuhan paradoks yang menciptakan surga buat umat agamanya saja, menciptakan neraka untuk memanggang mereka yang menolak ikut percaya agamanya, kemudian memaksa umatnya untuk pakai baju ini dan itu, hingga melarang umatnya tidak boleh memakan makanan ini dan itu. Karena saya yakin seandainya Tuhan itu ada, ia telah menciptakan manusia sedemikian rupa agar bisa dilihat dan dipandang, agar kita semua bisa mencicipi segala sesuatu yang telah disediakan oleh alam dengan sendirinya. Saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan dan akal budi manusia yang nantinya akan menjawab semua misteri yang tersembunyi dibalik semesta alam ini. Ketika masih banyak misteri yang belum terpecahkan, biarlah ia menjadi sebuah anomali. Bukan dengan sekonyong-konyong kita mengklaim bahwa segala bentuk misteri itu sudah ada jawabannya dalam sebuah kitab suci berumur ribuan tahun.

Saya sendiri terkadang marah pada tekanan sosial. Tetapi bukan berarti saya tidak bahagia. Bagi saya sendiri marah adalah satu emosi yang sehat. Saya marah pada penindasan. Saya marah pada ketidakadilan. Tetapi saya cukup melampiaskannya dengan menulis, berbicara, dan merenung. Saya tidak akan sekonyong-konyong mengambil pedang kemudian menghunus dan meneriakkan nama Tuhan sambil berusaha menghirup darah segar musuh-musuh saya. Saya tidak akan mengintimidasi lawan berpikir saya dengan ancaman penjara karena berbeda pikiran. Saya sendiri tidak pernah memusuhi agama dan orang-orang beragama atau mereka yang bertuhan, karena saya sendiri berasal keluarga yang cukup konservatif dalam beragama. Tapi satu hal yang pasti saya tidaklah seperti orang-orang beragama terutama kaum radikal dan fundamentalis yang jelas memusuhi orang-orang tak bertuhan. Seperti bagaimana propaganda kebencian para pemuka agama dalam tiap agitasi dakwah kepada umatnya. Mereka para pemuka bisa berdakwah demikian karena terprovokasi oleh penafsiran ayat-ayat kitab suci yang dengan eksplisit mengumandangkan kebencian sebesar-besarnya terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Saya sendiri sebagai seorang non believer tidak ingin menyadarkan orang-orang beragama untuk meninggalkan Tuhannya. Saya hanya ingin orang-orang non believer, khususnya non believer yang hidup di Indonesia yang masih berada dalam ketakutan atau tekanan sosial yang berat agar dapat mampu bebas dari segala macam persekusi dalam bentuk kekerasan maupun intimidasi yang dilancarkan oleh kaum agama.


Rio Maesa 23-04-12