Senin, 03 Juni 2013

MENGAPA MANUSIA ADA?


Mengapa manusia ada? dan apa tujuannya? jawaban sederhana yang paling rasional adalah karena Seleksi Alam memaksa leluhur untuk beradaptasi atau mati. Individu yang mengalami mutasi yang menguntungkan pada leluhur manusia berhasil selamat dan berkembang biak. Sesederhana itu.
 
Namun setelah cukup lama berpikir, ternyata keberadaan manusia di Bumi sekarang tidak semata karena evolusi. Bila ditarik garis ke belakang, ke masa lalu, maka ada serentetan peristiwa luar biasa yang menandai kehadiran kita di Bumi. Mari kita telusuri ke masa lalu, apa saja yang menyebabkan mengapa manusia ada.

Karena adanya Kekacauan
What? Tapi itu benar. Kita ada karena dunia ini kacau. Fenomena ini dijelaskan oleh teori Chaos yang terkenal dengan istilah Butterfly Effectnya. Pada dasarnya teori Chaos mengatakan, sedikit saja gangguan pada sebuah sistem chaos, maka akan terjadi perubahan perilaku yang drastis. Ambil contoh begini, bayangkan kalau hidung Cleopatra sedikit saja lebih pesek atau sepatu kuda raja Richard III kurang satu, kerajaan dapat runtuh, dan dunia akan sangat berbeda dari sekarang. Inilah efek kupu-kupu, sesuatu yang sepele, ternyata bisa berakibat besar. Para ilmuan mengamatinya pada sistem cuaca. Sedikit saja suhu di naikkan, atau kelembaban udara turun satu angka pada posisi desimal, maka cuaca menjadi berubah drastis. Analoginya seperti meletakkan satu demi satu bulu di atas jembatan. Suatu saat, entah itu kapan, kamu cukup meletakkan satu bulu, dan tiba-tiba jembatan menjadi runtuh karena bebannya terlampaui. Karenanya, kita ada sekarang, dipengaruhi oleh begitu banyak kekacauan di masa lalu, berbagai peristiwa kecil yang terlihat sepele namun berdampak luas bagi hidup kita.

Dari tak terhitung kekacauan yang terjadi di dalam sejarah, tentunya ada peristiwa yang sangat kacau dan peristiwa yang tidak terlalu kacau. Sebagai contoh, suhu di malam orang tua saya ML menentukan keberadaan saya. Jika sedikit saja lebih dingin, saya tidak akan ada. Tapi tetap ada manusia toh? Walaupun bukan saya, tapi ia tetap mirip orang tua saya, dan mungkin mirip saya. Dia tidak akan mirip dengan, katakanlah Zebra. Tentunya ada sebuah saat dimana kekacauan lebih berpotensi menghasilkan kita daripada kekacauan jenis lainnya. Jadi, mari kita tanyakan kembali, mengapa manusia ada?

Karena Ada Danau Toba
Coba baca artikel ilmiah tentang Asal Usul Danau Toba. Disana kita sudah jelaskan peran letusan Toba terhadap evolusi manusia. Danau Toba dulunya adalah supervolcano. Ia meletus sekitar 85 ribu tahun lalu dan mempengaruhi Asia dan Afrika. Saat itu leluhur manusia kita hidup kurang lebih stabil. Tapi dengan adanya letusan Toba, mereka dipaksa untuk beradaptasi, atau mati. Kita diambang kepunahan waktu itu. Seandainya para leluhur tidak mampu beradaptasi, kita tidak akan ada di sini.

Saat itu daerah subur merupakan harta karun bagi leluhur. Para leluhur berkompetisi dengan sesama mereka maupun dengan primata lainnya. Inovasi seperti alat batu dan alat tulang merupakan hal yang berharga. Alat membantu kita mendapatkan makanan jenis baru. Bayangkan sebuah kayu panjang yang dapat menjatuhkan mangga atau cangkul untuk menggali umbi-umbian.

Migrasi manusia keluar dari Afrika
Dengan banyaknya tekanan seleksi yang menggoyang evolusi kita, perlahan leluhur mulai berubah. Ucapan mereka, misalnya, dulu hanya sederhana, mungkin hanya "ah..ih..uh..". Lama kelamaan menjadi kompleks, dan membentuk bahasa kita. Dengan bahasa, gagasan-gagasan dapat lebih luas, cakrawala lebih lebar dan lebih sedikit kesalahpahaman. Mutasi pada gen pembentuk otak mengakibatkan beberapa leluhur mampu melakukan vokalisasi yang lebih kompleks. Keturunannya mampu berbicara dengan kosakata lebih banyak dan fleksibel dan meledakkan kendala komunikasi interpersonal. Bahasa telah muncul.
Tikus memiliki gen yang mempengaruhi ucapan dan bahasa manusia, sebuah petunjuk kalau leluhur kita telah memiliki gen ini semenjak zaman dinosaurus
Tapi saat ini manusia sudah ada. Karenanya, mengapa manusia ada belum terjawab. Terjadinya letusan Toba mungkin menjawab pertanyaan, mengapa manusia memiliki teknologi, mengapa kita tidak seperti manusia purba, tapi tidak banyak perbedaan antara manusia sekarang dengan 70 ribu tahun lalu. Kita masih satu spesies, sama-sama Homo Sapiens. Jadi, mengapa manusia ada?

Suara Ultra dipakai oleh ilmuan untuk mempelajari mekanisme bahasa click, bahasa tertua didunia
Karena Pohon Sedikit
Sebelum sekitar 20 juta tahun lalu, Afrika Timur dipenuhi hutan rimba tropis mirip Amazon. Leluhur kita berlompatan di pepohonan, menikmati lebatnya pepohonan. Kemudian Bumi bergerak, magma di bagian bawah Ethiopia Utara menggeser perlahan. Dalam 15 juta tahun kemudian, dua pegunungan raksasa terbentuk dari utara ke selatan, masing-masing dengan tinggi 2 kilometer dari utara ke selatan. Dari Timur, angin yang datang dari Samudera Hindia ditolak balik oleh pegunungan ini. Dari Barat, angin yang datang dari Samudera Atlantik dan Kongo di tolak balik, juga oleh pegunungan ini. Akibatnya, curah hujan menurun. Hutan rimba perlahan berubah menjadi padang rumput yang luas.
 
Bagi leluhur kita, tinggal di pohon tidak lagi nyaman. Pohon sedikit dan populasi mereka bertambah. Berdesakan di pohon tidaklah baik. Kadang ada yang jatuh dan tewas. Ada banyak jalan sebenarnya, tapi kebetulan, sebuah mutasi memungkinkan leluhur untuk dapat berjalan, bukannya berayun di pepohonan. Kemampuan berjalan memberi banyak kemudahan. Dan tibalah saat itu, 6 juta tahun lalu, sebuah spesies primata belajar berdiri dan berjalan dengan dua kaki.

Evolusi manusia dari Primata pemanjat pohon
Lingkungan yang berubah cepat berarti evolusi primata ini tidak berhenti sampai disini. Sekitar 2.5 juta tahun lalu, evolusi mengambil dua jalan. Pertama menuju otak yang lebih besar agar dapat mencari cara lebih baik untuk beradaptasi, kedua dengan mengembangkan rahang yang lebih besar untuk memakan biji dan umbi yang keras. Strategi pertama memiliki kekuatan terbesar. Manusia dengan rahang besar punah, sementara manusia dengan otak besar, Homo habilis, bertahan. Dialah leluhur semua manusia di Bumi sekarang.

Saat ini jawaban kita pada pertanyaan: Mengapa manusia ada, adalah karena pepohonan sedikit. Leluhur kita hidup di pohon, tanpa pohon mereka harus beradaptasi, atau mati. Lalu mengapa leluhur yang hidup di pohon ini ada? Mengapa primata ada?

Karena Dinosaurus Punah
Meteor raksasa yang pernah kami bahas dalam dampak tumbukan meteor, yang kita simulasikan jatuh di Bandung dan menghabisi umat manusia, jatuh sekitar 100 juta tahun sekali. Tapi justru keberadaan kita mungkin disebabkan peristiwa yang sama, 65 juta tahun lalu.
Rajahmundry Quarry, sebuah situs di India memberi petunjuk peristiwa kepunahan massal dinosaurus
Saat itu, sebuah asteroid berdiameter 10 kilometer menghantam semenanjung Yucatan di Meksiko masa kini. Karbon dan gas kaya belerang dari lapisan batuan yang terhantam mencuat ke angkasa yang terbakar, langit menghitam, Bumi mendingin dan hujan asam mengguyur. Dalam beberapa bulan, seluruh spesies dinosaurus punah. Begitu juga beberapa spesies reptil di lautan dan udara, amonita, sebagian besar burung dan tanaman darat.

Separuh spesies mamalia ikut punah. Yang bertahan hidup adalah mereka yang paling kecil dan lincah, berlarian bersembunyi di balik batuan dan reruntuhan. Mereka pemakan bangkai dan justru senang melihat punahnya dinosaurus. Di satu sisi mereka tidak memiliki predator, di sisi lain, bangkai dinosaurus berserakan di mana-mana. Sebuah pesta besar bagi mamalia kecil. Dalam waktu singkat, mamalia berkembang biak, meluas di sekitar ekosistem air tawar. Merekalah para pewaris bumi. 

Mamalia menggantikan kekuasaan dinosaurus di darat dan kemudian di laut. Kita belum menguasai udara. Burung lebih cepat ke sana, sementara kelelawar tidak terlalu mampu. 10 juta tahun setelah Kepunahan Dinosaurus, mamalia menjalari segala jenis niche di darat, dengan berbagai jenis adaptasinya, salah satunya di pepohonan, seperti leluhur kita. Tapi, kenapa dinosaurus, mamalia dan semua hewan yang disebutkan di atas ada?

Karena Pemanasan Global
800 juta tahun lalu, seluruh daratan di Bumi tersatukan dalam superbenua Rodinia. Super benua ini mulai retak, rusak di setiap pijakannya, akibat aktivitas magma. Dari retakan-retakan tersebut melepaskan gas yang mempengaruhi cuaca sehingga udara lebih dinamis dari sebelumnya. Samudera dipenuhi nutrisi, sama halnya dengan suburnya daerah sekitar gunung berapi sekarang. Populasi Cyanobacteria meledak. Karena cyanobacteria adalah bakteri Fotosintesis, maka ini berarti terjadi ledakan oksigen di mana-mana. Sampah fotosintesis ini menjalari atmosfer Bumi. Ya, oksigen adalah sampah. Ia hasil buangan dari proses fotosintesis tumbuhan.

Fotosintesis membutuhkan karbon dioksida. Akibatnya, karbon dioksida disedot dari Bumi oleh para cyanobacteria. Bumi pun mengalami pendinginan global. Sebuah periode yang disebut ilmuan “snowball earth”. Mahluk-mahluk ber sel satu menggigil kedinginan dan mati, beberapa ber evolusi, memunculkan tipe sel baru yang lebih kompleks. Mereka adalah ganggang hijau dan lumut kerak. Perlahan mereka berusaha hidup di daratan. Keseimbangan tercapai saat banyak cyanobacteria sendiri mati. Karbon dioksida kembali bertambah. Mulailah pemanasan global.

635 juta tahun lalu, pemanasan global membuat Bumi yang tertutup salju mulai mencair. Es menarik diri dari khatulistiwa menuju ke kutub. Daratan terbuka dan para lumut kerak bergembira. Mereka menancapkan akarnya (hifa) di bebatuan. Pelapukan biologi, kimia dan fisika terjadi di daratan dan mengubah batuan menjadi tanah. Sisa pelapukan terbasuh dari daratan ke lautan, dan lautan ikut merasakan kegembiraan atas limpahan nutrisi.

Lumut kerak terus memangsa batuan dan aliran nutrisi ke lautan terus menjejalkan kenikmatan pada para bakteri fotosintesis. Oksigen pun melonjak kembali hingga pada persentase sekarang.
580 juta tahun lalu, leluhur hewan pertama muncul, lalu leluhur tanaman berdaun. Mereka pada gilirannya kelak akan memiliki keturunan yang dapat berdiri di tepi pantai, menghirup segarnya udara yang dibawakan angin laut.

Pantai British Columbia memberi petunjuk kalau sebagian besar organisme lenyap dalam kepunahan global sekitar 252 juta tahun lalu
Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa ada ganggang hijau dan lumut kerak?

Karena ada Benturan dua mikroba
Kehidupan di bumi didominasi dua jenis sel: prokariota (bakteri dan arkea) yang hanyalah sebuah tas kimiawi, dan eukariota, sel dengan berbagai perlengkapan tempur untuk hidup lebih baik (selaput internal, sistem rangka dan transportasi). Bakteri terbesar di dunia hanyalah kurang dari satu milimeter, tapi sel eukariota terbesar (telur) bisa mencapai hampir satu meter. Para bakteri hanya mampu paling bisa membuat untai sel-sel sejenis dirinya, tapi sel eukariota mampu bekerja sama membuat segalanya mulai dari otak, daun, tulang dan kayu.

2 miliar tahun lalu, yang ada hanyalah bakteri dan arkea. Keduanya adalah prokariota. Lalu kejadian aneh terjadi. Seekor arkea yang sedikit berbeda dari leluhurnya berbenturan dengan seekor bakteri. Proses kimia membuat mereka berikatan dan tidak dapat lepas. Merekapun bersimbiosis, dan jadilah eukariota pertama. Sang Bakteri itu sendiri bertugas sebagai pembangkit energi sel. Ia ber evolusi menjadi mitokondria.

Istilah simbiosis di dalam sel tersebut adalah endosimbiosis. Kloroplas misalnya, dulu adalah bakteri fotosintesis yang hidup bebas. Ia ikut serta dalam parade sel jenis baru. Satu demi satu kelompok kerjasama ini terbentuk dan hidup bersama bentuk-bentuk sel tunggal di lautan. Bedanya, sel eukariota mampu bekerja sama dengan sel eukariota lain, membentuk apa yang kita sebut mahluk multiseluler.
Lalu, kenapa ada bakteri dan arkea?

Karena Bumi disiram dengan bom
Misi ke bulan memberikan kejutan bagi kita. Kawah-kawah raksasa di sana ternyata usianya sama. Usia mereka 3.9 miliar tahun. Apa artinya ini? Ini berarti 3.9 miliar tahun lalu terjadi sebuah pengeboman besar-besaran di Bulan. Sangat jelas kalau ini juga berarti hal yang sama terjadi di Bumi. Bumi lebih besar, hanya saja kawahnya habis terkikis proses dinamika planet ini.

Planet Gliese 581 e dengan massa sekitar 1.9 kali bumi, planet paling mendekati Bumi dalam massa yang sudah ditemukan, berjarak 20.5 tahun cahaya

Tidak jelas mengapa terjadi peristiwa pengeboman saat itu. Ada yang menduga kalau terjadi resonansi gravitasi di empat planet raksasa: Yupiter, saturnus, uranus dan Neptunus. Posisi orbit mereka sedemikian rupa sehingga keseimbangan diantaranya terganggu sebentar. Akibatnya, asteroid-asteroid tak berdaya di sekitarnya terlontar ke tata surya dalam, termasuk Bumi.
 
Dengan berbagai metode, seperti metode SDI disini, para ilmuan menemukan banyak tata surya baru di taburan bintang
Sangat mungkin kalau diantara bom-bom raksasa penghajar Bumi itu salah satunya atau beberapa adalah komet. Mereka terbentuk jauh lebih dalam di pinggiran tata surya dan karenanya membawa air beku di dalam perutnya. Air tersebut terbongkar saat mereka menghantam Bumi dan menjadi air pertama di Bumi.

Saat pengeboman berakhir, wajah Bumi benar-benar kacau. Berantakan dengan berbagai kawah berisi lahar di mana-mana. Seiring waktu, orbit stabil dan Bumi mendingin. Di dalam kawah-kawah saksi bisu tumbukan kejam itu, mulailah air dari komet mencair dan menjadi oasis-oasis tempat lahirnya kehidupan pertama di planet Bumi.

Bila sebelum pengeboman terjadi ternyata sudah ada kehidupan di Bumi, maka pengeboman tersebut mungkin menyapu kehidupan, menyisakan bakteri-bakteri yang paling tahan terhadap panas. Kita melihat bukti ini dari bulan. Lalu kenapa bulan ada?

Karena Bumi Ditampar
4.5 miliar tahun lalu, bumi hanyalah bayi planet yang rentan. Sementara di mana-mana berterbangan bebatuan raksasa yang tidak jelas arahnya. Satu di antaranya menampar bumi. Sang penampar berukuran lebih kecil. Saat ia menghantam Bumi, sebagian dirinya tertanam di planet ini, sebagian lagi terlontar balik ke luar angkasa. Inilah bulan, yang engkau lihat di langit malam.

Tata surya kita di masa mudanya
Pasangan Bumi-Bulan tidak ada bandingnya di Tata Surya. Planet lain punya satelit yang jauh lebih kecil darinya. Tidak heran Yupiter sang raksasa punya puluhan satelit. Mereka umumnya berasal dari batu-batu kecil yang terjebak di titik gravitasi dan menumpuk, atau berasal dari batuan yang lewat terlalu dekat dengan planet hingga tertarik dan tak dapat lepas.

Keberadaan Bulan mencegah perubahan liar dalam pola pemanasan Matahari di permukaan Bumi. Akibatnya Bumi tidak mengalami ayunan iklim yang ganas. Bumi juga tidak mengalami perubahan suhu yang drastis dimana Bumi membeku sepenuhnya. Kondisi yang ideal untuk berkembangnya kehidupan.
Selanjutnya, kenapa ada Bumi, Bulan dan Matahari, dan planet-planet di Tata Surya?
  
Teknologi kita sudah sangat maju sehingga bisa tahu peristiwa miliaran tahun lalu

Karena ada Bintang yang Meledak
Alam semesta dipenuhi hidrogen, helium dan debu di mana-mana. 4.6 miliar tahun lalu, Salah satu pojok yang padat dengan adukan ini mendapatkan limpahan energi. Petunjuknya datang dari meteorit. Berbeda dengan batuan asli planet Bumi, meteorit nyaris tidak berubah semenjak ia diremas saat Tata Surya terbentuk. Meteorit tua ditemukan mengandung banyak besi-60, sebuah isotop radioaktif berat. Hanya ada sedikit sekali fenomena yang bisa menyebabkan isotop ini terbentuk di antariksa. Yang paling mungkin adalah supernova. Ledakan bintang raksasa. Ia ibarat goresan korek api untuk menyalakan sumbu bom evolusi di Tata Surya. Awan gas yang merupakan adukan hidrogen, helium dan debu kita terusik dan terkompres. Teori lain mengatakan kalau tidak lah perlu supernova. Bukti menunjukkan sambaran angin bintang raksasa yang cukup dekat dengan awan gas ini dapat memicu pembentukan Tata Surya. Bintang tersebut sendiri mungkin sudah berjalan dalam orbitnya entah kemana, menyisakan tungku bintang menyala di tengah awan gas yang baru di ganggunya. Dan terbentuklah matahari, bersama planet-planetnya.

Lalu mengapa bahan seperti hidrogen, helium dan debu itu ada? Dengan kata lain, mengapa materi ada?

Karena Tidak Segalanya diciptakan Berpasangan
Bila segalanya berpasangan, maka tidak akan ada materi. Idealnya setiap partikel yang tercipta dalam Big Bang memiliki anti partikel. Saat keduanya bertemu, terjadi penghancuran satu sama lain, dan dua foton energi tinggi saja yang tersisa. Alam semesta seharusnya berisi lautan cahaya. Itu saja. Memang ada sedikit kecenderungan ke arah satu sisi saat penghancuran diri partikel vs anti partikel. Tapi hal ini sangat tidak cukup menjelaskan kelimpahan materi di alam semesta sekarang. Entah mengapa tidak semua partikel memiliki anti partikel saat Big Bang, 13.75 miliar tahun lalu. Menurut para ahli fisika teoritis, tampaknya alam semesta kita kebetulan memiliki variabel yang sedikit memungkinkan materi. Ia cukup untuk membuat materi ada tapi tidak cukup untuk membuat seluruhnya materi (tanpa cahaya). Dalam tak terhingga alam semesta, ada yang seluruhnya lubang hitam, ada yang seluruhnya cahaya, ada sedikit yang mengandung materi dan cahaya. Salah satunya alam semesta kita.

Jadi, mengapa alam semesta seluas ini?

Karena Alam Semesta Berinflasi
Cukup 0.000 000 000 000 001 detik mundur dari saat anihilasi materi – anti materi kita sebelumnya. Bila model semesta inflasi benar, maka saat ini alam semesta diselubungi medan inflasi yang mengendalikan ekspansi eksponensial alam semesta hanya dalam periode 10-32 detik. Ia merentangkan alam semesta kita menjadi datar dan seragam.

Pengembangan mendadak ini dipengaruhi efek kuantum. Gejolak kuantum membuat satu daerah sedikit lebih padat dari daerah lainnya. Hasilnya adalah bolongan-bolongan di alam semesta kita, yang disebut void. Seratus juta tahun cahaya ke segala arah kita, ada daerah kosong yang begitu besar, gelap, tanpa galaksi, tanpa bintang. Bila variasi ini sedikit saja lebih kecil, maka kita tidak akan ada. Semua variasi ini tampaknya acak dan sebagian besar fisikawan percaya kalau fluktuasi kuantum sama sekali tidak memiliki sebab. Ia adalah sifat dasar alam semesta.

Pada akhirnya adalah pertanyaan mengapa alam semesta ada?

Tidak ada satu orang pun yang Tahu
Ya. Ini tampaknya jawaban yang tidak diinginkan. Kita memang ingin tahu. Tapi sains tidak dapat menjawabnya. Sains cukup berbesar hati, dengan segala metode dan teknologi paling maju dan otak paling brilian di alam semesta, kita belum tahu mengapa alam semesta ada. Yang kita punya hanyalah setumpuk karya ilmiah fisika teoritis tanpa bukti eksperimental sama sekali. Memang kita berusaha, para ilmuan sibuk menguji model standar di LHC dan laboratorium-laboratorium. Mereka juga menatap ke antariksa dengan berbagai teleskop super tajam.

Beberapa dari kita tampak gatal untuk menjawab tanpa pengetahuan. Seorang teman mengatakan, karena Tuhan ada, ia menciptakan alam semesta. Hal ini saya katakan kurang pengetahuan karena well, memang tidak memerlukan pengetahuan untuk mengatakan hal tersebut. Ambil contoh petir. Jaman dahulu orang tidak tahu tentang petir, maka mereka mengatakan Tuhan sedang marah. Sekarang kita tahu kalau petir adalah peristiwa alam biasa.

Begitu pula fenomena Big Bang. Apa yang kita tahu adalah alam semesta mengembang ke segala arah. Karenanya bila dimundurkan ke masa lalu, ia akan berukuran sangat kecil. Sedemikian kecil hingga satu titik dimana hukum fisika yang kita ketahui runtuh. Suatu yang disebut skala Planck yang terdiri dari panjang minimum dan waktu minimum (panjang Planck dan waktu Planck)

Bagaimana alam semesta pada panjang lebih kecil dari panjang Planck? Bagaimana alam semesta sebelum waktu Planck? Inilah dimana pengetahuan kita kurang. Kita belum cukup pandai. Yang dibutuhkan adalah pengetahuan yang lebih banyak, bukannya menjawab tanpa pengetahuan. Para ilmuan paling brilian berdebat tentang apa yang ada dalam skala Planck. Ada yang bilang kalau ruang, waktu, dan hukum fisika berada dalam singularitas dimana segalanya muncul dari ketiadaan. Ada juga yang bilang kalau alam semesta kembali mengembang dalam siklus kembang – kempis tiada akhir (osilasi).

Jika seandainya Tuhan menciptakan alam semesta, lalu siapa menciptakan Tuhan? Sejauh yang kita tahu, alam semesta bukan hanya ada satu. Ada tak terhingga alam semesta. Apakah Tuhan juga menciptakan tak terhingga banyaknya alam semesta tersebut? Ataukah Ia ada di salah satu alam semesta? Apakah ia mengikuti hukum fisika ataukah ia membuat hukum fisika? Lalu dengan hukum apa ia membuatnya? Dst dst

Seperti yang anda lihat. Solusi Tuhan adalah sebuah jalan buntu. Tidak ada lagi kegembiraan akan penemuan baru, dan tidak ada lagi semangat petualangan ilmiah. Ketiadaan ilmu, itulah yang dicerminkan dari solusi Tuhan.

Mungkin benar apa yang dikatakan Stephen Hawking, alam semesta ada karena adanya hukum dasar fisika seperti gravitasi. Setiap saat tercipta alam semesta dengan segala variasi yang mungkin ada, saling bertumpuk  satu di dalam yang lain. Sekarang dengan semangat inkuiri kita, kita bisa berjuang mencari alam semesta lain tersebut, dan bahkan mungkin membuat alam semesta kita sendiri di lab.

Profesor Filsafat Mark Tegmark berpendapat kalau jumlah alam semesta bukan hanya tak terhingga, tapi meliputi semua ruang matematik yang mungkin dalam keabadian tiada awal dan tiada akhir

Apakah sekarang anda masih bertanya dari mana hukum tersebut ada? Pelajarilah hukumnya sebelum bertanya ia datang dari mana. Ia adalah batas tertinggi logika kita, dan sekarang kita sedang mendakinya. Mungkin anda akan menyadari kalau hukum demikian tidak mungkin diciptakan. Sama tidak mungkinnnya dengan memasukkan gajah afrika kedalam telur ayam.


Referensi
1. Terrence Deacon. 1997. The Symbolic Species: The Coevolution of Language and the Brain.
2. Jonathan Holmes and Mark Maslin. 2009. Stable Isotopes and Palaeoclimatology, Blackwell Publishing
3. Francis A. Macdonald,Mark D. Schmitz,James L. Crowley, Charles F. Roots, David S. Jones, Adam C. Maloof, Justin V. Strauss, Phoebe A. Cohen, David T. Johnston, Daniel P. Schrag. 2010. Calibrating the Cryogenian. Science vol 327, p1241
4. Hough, M., Shields, G.A., Strauss, H., Evins, L., Henderson, R.A. and Mackenzie, S. (2006): A major sulphur isotope event at c. 510 Ma: a possible anoxia-extinction-volcanism connection during the Early-Middle Cambrian transition? Terra Nova 18, 257-263.
5. Lane, Nick. 2009. Life Ascending: The Ten Great Inventions of Evolution. WW Norton/Profile
6. K. Tsiganis, R. Gomes, A. Morbidelli  &  H. F. Levison. 2005. Origin of the orbital architecture of the giant planets of the Solar System. Nature vol 435 p. 459
7. Cockell C.S 2006. The origin and emergence of life under impact bombardment. Phil. Trans. R. Soc. B. 361, 1845–1856.
8. N. Gorlova, Z. Balog, G. H. Rieke, J. Muzerolle, K. Y. L. Su, V. D. Ivanov, and E. T. Young. Debris Disks in NGC 2547. The Astrophysical Journal vol 670 p 516
9. S. Tachibana and G. R. Huss. 2003. The Initial Abundance Of 60fe In The Solar System. The Astrophysical Journal vol 588 p L44
10. Stephen Battersby et al. An Unlikely Story. New Scientist, 25 September 2010, pp. 36 – 43
11. Rebecca Newberger Goldstein. 2010. 36 Arguments for the Existence of God: A Work of Fiction. Pantheon.
12.   Stephen Hawking and Leonard Mlodinow. 2010. The Grand Design. Bantam
13. Space and Motion. 2010. Metaphysics of Evolution
15.  European Southern Observatory – ESO (2009, April 21). Lightest Exoplanet Yet Discovered. ScienceDaily
17. Enard et al. A Humanized Version of Foxp2 Affects Cortico-Basal Ganglia Circuits in Mice. Cell, 2009;
18. Geological Society of America (2007, October 30). Volcanic Eruptions, Not Meteor, May Have Killed The Dinosaurs. ScienceDaily
19. National Science Foundation (2009, July 16). Classifying ‘Clicks’ In African Languages To Clear Up 100-year-old Mystery. ScienceDaily
20. Tyler W. Beatty, J-P Zonneveld and Charles Henderson. Anomalously diverse Early Triassic ichnofossil assemblages in northwest Pangea: A case for a shallow-marine habitable zone. Geology, 2008; 36 (10): 771
21. University of Arizona (2007, July 13). Giant Outer Extrasolar Planets Are Rare, Survey Suggests. ScienceDaily.
22. NASA (2009, May 19). Astronauts Complete Hubble Repairs In Final Spacewalk. ScienceDaily.
23. Mark Tegmark. 2003. Parallel Universes, Scientific American May 2003 issue

Source: Fakta Ilmiah.com
 

 


 

 


Selasa, 02 April 2013

HUKUM PENODAAN AGAMA, SEBUAH ABSURDITAS HUKUM POSITIF

 RUNTUHNYA NILAI AGAMA SEBAGAI HUKUM PUBLIK

Agama adalah suatu sistem yang mengatur tata keimanan dan ritual peribadatan kepada Tuhan yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia beserta lingkungannya. Keyakinan agama sesungguhnya didasarkan pada interpretasi (penafsiran), jadi setiap agama dikembangkan berdasarkan tafsir pada masing-masing zaman.

Sejarah telah menyodorkan sebuah fakta bahwasannya sebelum abad 15an di eropa, agama telah melahirkan sebuah era yang paling nista dalam sejarah perkembangan umat manusia. Dimana agama menjadi simbol penindasan terhadap hak-hak dan martabat umat manusia. Era tersebut disebut oleh sejarawan sebagai Darkness Age (Era Kegelapan), dimana kekuasaan agama (gereja-kekristenan) telah dijadikan instrumen publik yang memaksa umatnya untuk tunduk pada kuasa para birokrat dalam wujud wakil Tuhan di muka bumi. Siapapun yang menolak, menentang ajaran/dogma agama, dia akan segera dihukum berat atas nama Tuhan.

Ketika penindasan atas mitologi-mitologi langit kekristenan sudah mencapai pada puncak kulminasi umat manusia, maka segeralah dimulai gerakan pencerahan kebudayaan. Sebuah gerakan kebudayaan untuk membangkitkan kembali kehidupan ke jalur filsafat Yunani-Romawi yang akhirnya merubah peradaban umat manusia menuju era rasionalisme dimana manusia sepenuhnya menjadi subjek utama dalam entitas kemanusiaan di muka bumi. Era ini disebut sebagai era kebangkitan kembali (renaissance).

Kebudayaan renaisans ditujukan untuk menghidupkan kembali humanisme klasik, yang sempat terhambat oleh pola pikir sejumlah tokoh abad pertengahan yang berorientasi pada prinsip-prinsip Ketuhanan dan dogma keagamaan yang tidak fleksibel dan menindas. Humanisme era renaisans jauh lebih dikenal karena penekanannya pada individualisme. Individualisme yang menganggap bahwa manusia sebagai pribadi perlu diperhatikan. Sebab manusia adalah individu-individu unik yang bebas untuk berbuat sesuatu dan menganut keyakinan tertentu. Pasca era renaisans, terjadi friksi yang terus menerus menghantam jantung teologi, dimana agama yang sebelumnya haram untuk dikritisi dan ditolak kebenarannya, menjadi arena yang bebas untuk dikritisi, dibongkar sejarah dogmanya, bahkan penghujatan terhadap dogma-dogmanya atas dasar rasionalitas-logika menjadi hal yang lumrah. Inilah puncak dari krisis teologi.

Hingga saat ketika Feuerbach mengatakan bahwa Tuhan tidak lebih dari Fantasi yang diciptakan oleh manusia sebagai angan-angan yang pada akhirnya menjadikan manusia teralienasi. Kemudian Marx yang mengatakan bahwa agama tidak lain adalah produk dari masyarakat kelas dan merupakan ekspresi dari kepentingan kelas berkuasa, terkait dalam hal ini Marx melihat dalam kacamata sejarah bahwa agama selama ini lebih sering dijadikan alat untuk memanipulasi dan menindas terhadap kelas bawah dalam masyarakat, dengan banyaknya penindasan, maka kekuasaan agama telah dimanfaatkan oleh para birokrat agama (pemuka agama) yang mempropagandakan sebuah tempat untuk mengharapkan penghiburan palsu akan dunia yang akan datang, hingga akhirnya agama hanya menjadi candu masyarakat yang memabukan alam bawah sadar manusia. Masih banyak lagi filsuf-filsuf besar seperti Voltaire, Nietzsche, Sartre, Russell, D'Holbach, Freud, Bakunin dan banyak lagi lainnya yang keras mengkritik agama.

Kritik era renaisans telah melahirkan sebuah kebebasan berpikir dibawah kerangka ideologi sekularisme, sebuah ideologi netral yang memaksa agama harus mundur dari ranah hukum (positif) publik dan cukup masuk keranah privat masyarakat. Sekularisme telah menciptakan sebuah pencerahan ideologis, suatu ideologi yang memberikan perlindungan dan kebebasan penuh terhadap umat manusia untuk berkeyakinan dan berhenti berperang atas nama agama. Fakta sejarah atas munculnya modernisme membuktikan bahwa di negara-negara yang mempraktikan sekularisme justru negara yang cenderung semakin berkembang, sehat, humanis dan sejahtera jauh berbanding terbalik dengan negara-negara yang masih mencampuradukan ajaran agama dengan bernegara, Indonesia contohnya. Argumentasi untuk mempertahankan fondasi hukum agama agar tetap dijadikan sebuah aturan hukum positif sudah jelas tidak lagi relevan dengan dinamika zaman kekinian. 

ABSURDITAS PENODAAN AGAMA DI INDONESIA
Di Indonesia sendiri, yang jelas-jelas dalam konstitusinya menyebutkan kebebasan berkeyakinan dan memeluk agama apapun justru kontradiktif-paradoks dengan UU dibawahnya. Indonesia masih menerapkan sebuah aturan hukum PNPS No.1/1965 yang substansi aturannya diadopsi juga didalam ketentuan pidana Pasal 156a KUHP. Justifikasi keberadaan dua aturan itu adalah keberadaan sila pertama Pancasila yang dibajak sebagai ketentuan mutlak, bahwa negara ini ada hanya untuk kaum beriman. Seakan-akan kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa adalah absolutisme Iman keagamaan. Maka itu hanya ada 6 agama yang diakui (sebelum reformasi 5). 

Masalahnya istilah Ketuhanan Yang Maha Esa itu sendiri masih abstrak, apakah Tuhan selalu identik dengan agama? apakah kata Esa (satu/tunggal) mencakup Hindu yang Politeis dan Budha yang Atheistik? padahal dalam butir Sila Pertama itu sendiri diberikan hak untuk bebas berkeyakinan dan memeluk agama apapun.

Sidang Uji Materi UU Penodaan Agama
Dalam praktiknya keberadaan PNPS No. 1/1965 dan Pasal 156a KUHP sering dibajak dan ditafsirkan oleh kelompok-kelompok tertentu terutama kaum konservatif, radikalis dan fundamentalis (puritan) untuk menindas dan mengkebiri hak-hak *minoritas (*diluar kepercayaan agama yang diakui) atas nama "sesat" dan "penodaan agama". Ini jelas bertentangan dengan konstitusi dan universalitas hukum hak asasi manusia. Bahkan ketika ada beberapa kelompok progresif yang berjuang membawa PNPS No. 1/1965 dan 156a KUHP ke Mahkamah Konstitusi untuk uji materi, justru mereka dimentahkan oleh hakim-hakim konstitusi bukan dengan alasan rasional dan dalam prosesnya cenderung tendensius dan masih terjebak pada pandangan dan tekanan agama mayoritas. 

Argumentasi bahwa penodaan agama itu harus dihukum adalah sejelas-jelasnya pandangan Fasis yang tidak lagi sesuai dengan dinamika zaman, adalah fakta bahwa mereka yang berbicara seperti itu sama sekali tidak memahami dialektika, tidak lebih dari orang-orang fanatik dan masih terjebak pada dogma subyektifitas dalam agama. Istilah "Penodaan Agama" pun sebenarnya lemah, bias dan tidak jelas. Jika kristen jelas menganggap bahwa Muhammad bukan nabi apakah itu dianggap penodaan? pun begitu sebaliknya, jika muslim menganggap bahwa isa almasih bukan Tuhan apakah itu dianggap penodaan?. Di sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa semua agama adalah saling menodai masing-masing agama yang lain. Yahudi menodai ajaran pagan mesir kuno, Kristen menodai Yahudi, Islam menodai Kristen, Hindu menodai agama Weda, Ahmadiyah menodai Islam, Kerajaan Tuhan Eden menodai Islam dan Kristen, sedangkan Ateisme menodai seluruh agama, dan seterusnya. Apakah ini yang disebut sebagai penodaan? jika iya, begitu lemahnya justifikasi hukum penodaan agama hingga bisa dijadikan sebuah instrumen hukum positif.

Kelompok-kelompok puritan yang memaksakan bahwa agamanya lah yang mengandung absolutisme kebenaran tidak akan pernah menyadari bahwa kenyataannya kebenaran agama itu relatif dan keyakinannya bersifat subyektif, walaupun agama bagian dari hak asasi, tetapi sifatnya tidak inheren (melekat) dalam diri manusia, sebab agama itu terus eksis karena faktor turun-temurun dalam lingkungan sosial terdekat (keluarga). Bahwasannya setiap manusia memiliki kodrat alamiah yaitu kehendak bebas, kita bisa saja mau memilih agama apapun tanpa perlu instrumen negara beserta tata aturan hukumnya ikut-ikut campur terhadap urusan privat warga negaranya. Bahkan dalam filsafat, teologi agama adalah arena pertempuran yang bebas untuk dikritik dan ditelanjangi.

Hal ini berbeda dengan ras dan suku yang sifatnya inheren, siapapun yang melakukan kritik, pelecehan atau penghujatan terhadap suku atau ras tertentu wajib dihukum berat, karena bertentangan dengan prinsip universalitas kemanusiaan.

Mereka yang mengatakan bahwa satu-satunya sumber moralitas hanyalah agama adalah orang yang terjebak pada fanatisme buta. Seakan-akan diluar agama tidak ada kebaikan atau moralitas. Padahal nilai luhur atau disebut moralitas itu tidak ada hubungannya dengan keyakinan agama. Karena moralitas itu adalah hubungan antar sesama manusia. Moral adalah soal nilai-nilai dan relasi antar manusia. Sepanjang seseorang sudah punya sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan hukum nurani dan hukum sosial, maka jelas dia bisa disebut sudah bermoral, tidak peduli cara pandang dan keyakinan apa yang dianutnya.

Indoktrinasi agama di masyarakat kita cenderung mengajarkan bahwa agama adalah satu-satunya sumber moral, satu-satunya pemisahan epistimologi baik dan buruk. Di negeri ini agama sudah "diklaim" sebagai suatu ajaran moral yang sempurna, sehingga dimunculkan asumsi bahwa jika seseorang tidak beragama, maka orang tersebut tidak mengenal moralitas, rusak, tidak punya etika, tidak ada aturan dan selalu bertindak sesuai hawa nafsu bejatnya. Dan jika ada orang beragama yang berbuat bejat atas nama agamanya, mereka hanya menyebutnya sebagai "Oknum". Padahal kalo kita mau terbuka dan jujur bicara dari hati dan berani mempelajari secara objektif masing-masing kitab suci, hampir semua kitab suci agama yang diakui di Indonesia, Hindu, Islam, Kristen mengajarkan perilaku buruk seperti pembunuhan, diskriminasi, perampasan dan sebagainya.

Moralitas lahir dari nurani dan akal budi manusia, bukan dari agama. Agama hanya membajaknya sebagai komoditi paling menarik untuk memperdagangkan keyakinannya. Kesimpulannya beragama atau tidak beragama tidak berbanding lurus dengan moralitas seseorang. Kedua-duanya tetap berpeluang untuk bermoral dan tidak bermoral. Jadi menyandingkan tidak beragama sebagai keyakinan yang pasti tidak bermoral, dan sebaliknya kaum beragama adalah keyakinan yang otomatis bermoral adalah sebuah kesalahpahaman pandangan dengan generalisasi yang absurd.

Ada atau tanpa agama manusia tetap bisa hidup dengan tata aturannya sendiri sepanjang spesies manusia masih di anugerahi neuron otak yang melimpah hingga menghasilkan empaty dan nurani. Saya sebagai penulis tidak pernah anti agama, tetapi saya akan menyatakan perang terhadap agama selama aturan-aturan yang secara implisit ada dalam ajarannya dipaksakan menjadi aturan hukum (positif) publik. Selama agama menjadi aturan hukum publik, maka akan terus menerus lahir diskriminasi terhadap manusia atas nama agama. Indonesia harus belajar dari eropa yang berani keluar dari era kegelapan menuju kepada kemajuan dan kemanusiaan.

Atas nama universalitas kemanusiaan internasional Hapuskan PNPS No. 1/1965 dan Pasal 156a KUHP Sekarang!

Oleh:
Rio Maesa
02-04-2013