Jumat, 09 Januari 2015

TAK PERLU AGAMA UNTUK MEMBUKTIKAN CINTA, KARENA CINTA ADALAH NURANI


"Ribuan jalan telah kita lewati, berbagai rintangan telah kita lalui. Penuh wewangian bunga maupun bertabur penuh duri. Penuh suka maupun duka di hati. Semua bukanlah sekedar kenangan. Semua bukanlah sekedar renungan. Saat kita saling mencinta dalam kebersamaan, dalam suka maupun pengorbanan. Jiwa ini terbang tinggi kelangit biru, angan-angan ini bersemi bersama dengan tumbangnya cinta dipelataran hati. Hingga akhirnya desahan nafas senyum dan keceriaan hilang seketika, hilang tenggelam bersama memori romansa masa silam. 

Namun kita telah tahu, kita tak akan selamanya bisa bersatu. Menempuh jalan hidup yang bertabur debu, bertabur dedaunan yang tak pernah tersapu. Mungkin perpisahan ini adalah pintu gerbang menuju satu titik kehidupan baru. Kehidupan yang akan memberikan kita warna-warni baru. Warna yang dapat terus bersinar terang seperti manisnya senyum indah cahaya mentari pagi yang menyirami bumi.

Saat berpisah harus menyapa. Ku tak ingin kau teteskan air mata. Ku tak ingin kau berduka, karena hati kita kan tetap bersama. Sayangku, inilah hidup! kadang kita membuka, suatu saat kita pasti kan menutup. Kelemahan terbesarku adalah terlalu sangat mencintaimu, dan jika memang mencintaimu adalah sebuah kesalahan, maka salahkanlah waktu yang telah mempertemukan kita." 
(Rio Maesa, 2010)

*********************************************************************************
“Iya, silakan saja sebut aku Atheist, Agnostik, Sesat! Sebut saja aku orang gila, kafir atau apapun semaumu! Cacimaki saja diriku semaumu! Tapi setidaknya aku jujur pada diriku sendiri, bahwa aku skeptis pada eksistensi Tuhan personal, dan sekarang aku memastikan diri untuk tidak beragama.”

“Lalu selama ini untuk apa kamu beribadah? Kamu sudah menipuku selama bertahun-tahun, aku kira kamu religius tapi ternyata aku salah. Aku benci kamu. Kamu munafik! Kita putus!”. Coba pikirkan berapa banyak dari kita yang pernah mengalami putus cinta karena perbedaan keyakinan? Berapa banyak dari kita yang dicap munafik karena tidak mengakui eksistensi Tuhan? ketidakberuntungan saya pada seleksi alam yang membuat saya dilahirkan di Indonesia (sebuah negara yang mendasari kehidupan sosial berdasarkan moralitas agama) adalah fakta bahwa saya sendiri pun mengalami kejadian seperti ini.

Aku rasa mereka gila. Mereka merasa paling suci lalu berhak melabeliku sebagai kafir, sesat dan halal dibunuh. Apalagi setelah dikhianati kekasih yang selama ini kukira mampu mengerti seluk-beluk diriku dan mau menerima diriku apa adanya. Namun karena kemunafikan dan sikap oportunis ingin cari selamat sendiri, ia merasa menjadi orang paling bermoral untuk menutupi kebobrokan moralnya, lalu pergi meninggalkanku dalam waktu yang singkat untuk mencari pendamping baru tanpa sedikitpun melihat pahit manisnya sejarah yang pernah bersama dilalui.

Mereka kira mereka suci, tetapi sebenarnya mereka gila, ya gila, apalah sebutannya jika bukan gila. Aku memahami bahwa percintaan memang cenderung posesif, cenderung mendikte manusia untuk mengikuti kemauan kekasihnya, bahkan memaksa manusia menanggalkan otaknya. Seperti khotbah sang pendeta di gereja pada suatu minggu, “Percaya saja pada Yesus! Dia telah bangkit dari kubur demi menebus dosa kita semua! Akal kita terbatas dan tak akan mampu memahami jalan pikiran Tuhan! Rasio harus tunduk dibawah iman, iman adalah segala-galanya! Bahkan iman sebesar biji sawi saja mampu memindahkan gunung! Percayalah saudara-saudaraku, percayalah!” atau khotbah sang ustadz, "Bagiku agamaku, bagimu agamamu, namun tiada agama lain yang sempurna selain Islam, karena Islam adalah agama terakhir yang sempurna". Yap inilah yang namanya subjektifitas atas persepsi keimanan, wujud diskriminasi dari pemisahan ras antar manusia berlandaskan fasisme teologi.

Dan herannya, kita patuh dan menurut begitu saja. Selalu begitu tanpa mau memakai otak kita untuk menganalisa tahayul-tahayul masa lalu seperti halnya kenaikan Muhammad ke langit ke-7, kebangkitan Yesus yang jelas-jelas mengangkangi rasionalitas akal sehat sebagai manusia berpikir. Aku juga merasakan hal yang sama ketika menjalin asmara. Nurut saja persis seperti kerbau bodoh yang dicucuk hidungnya. Pakai kopiah okay, berikan perpuluhan ke gereja okay saja, shalat lima waktu lancar, bersedekah ke tempat-tempat ibadah juga jalan terus. Apapun rela kita lakukan agar sang kekasih mengira kita orang yang religius. Guru agamaku saat SMP pernah berkata, “Carilah pacar yang kaya harta, dan yang paling penting kaya iman. Harus seiman.”

Jadi sedari kecil kita didoktrin untuk menjalin asmara hanya dengan mereka yang seiman. Alasannya sepele: agar suatu hari kelak kita tidak murtad. Agar kita tidak beralih keyakinan mengikuti kekasih kita. Alasan spesifiknya adalah bahwa institusi agama takut jika agama sebagai ladang pencaharian sumber-sumber kapital lambat laun ditinggalkan oleh pengikutnya. Kita senantiasa didoktrin bahwa cinta adalah benang yang mengikat, bahwa pernikahan adalah lembaga suci yang diridhoi Tuhan, bahwa segala sesuatunya harus berdasarkan doktrin agama. Ini sungguh-sungguh memuakkan! Apakah seorang Kristen tidak boleh mencintai seorang Muslim? Apakah seorang Atheist tidak boleh menjalin asmara dengan seorang Theist? Mengapa semua harus dikotak-kotakkan menurut moralitas agama?


"Aku bukanlah orang nasrani, aku bukanlah orang yahudi, aku bukanlah orang majusi, dan aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar atau salah. Sehingga kita dapat bertemu pada "satu ruang murni" tanpa dibatasi prasangka atau pikiran yang gelisah" (Jalaludin Rumi)

Bisakah kita berpikir diluar kotak? Bahwa sebenarnya selalu ada kotak lain diluar kotak-kotak itu. Bahwa kotak-kotak itu hanyalah penjara yang mengekang rasa kemanusiaan kita. Kita manusia bukanlah budak agama. Kita bukan budak -isme. Kita hanya sekumpulan manusia. Menurutku segala tetek-bengek prasyarat pernikahan di institusi agama bernama KUA harus ditiadakan. Itu hanyalah seonggok formalitas. Budaya basa-basi pembodohan. Kalau cinta, ya cinta saja, titik. Tidak perlu pakai embel-embel apapun. Formalitas pernikahan cukup berada pada institusi bernama catatan sipil. Semua berhak menikah tanpa pertentangan yang menindas, termasuk diberikannya hak menikah bagi kaum minoritas homoseksual dan lesbian untuk meneruskan hidup tanpa persekusi dan diskriminasi dari institusi manapun. Struktur sosial budaya yang menindas dan masih terjadi di Indonesia adalah suatu cerminan bahwa pola pikir bangsa ini masih berada di level inferior. Level dimana manusia masih meraba-raba pada absurditas kebenaran, bahwa tanpa manusia, agama tidak lebih dari sekumpulan dongeng-dongeng masa lampau.

Lembaga formal pernikahan adalah simbol arogansi keyakinan mayoritas. Ambilah contoh ketika selebritis semacam Bella Saphira seorang minoritas kristen yang menjadi muallaf dipuja puji karena dianggap pada jalan kebenaran yang di ridhoi Tuhan, namun sebaliknya hal apes justru menimpa Asmirandah yang memutuskan untuk meninggalkan Islam dan memeluk Kristen untuk menikahi kekasih yang dicintainya. Ia dimaki, dihinakan, dianggap sesat, murtad bahkan diperkarakan secara pidana karena dianggap menistakan agama mayoritas di negeri ini. Logika absurd yang dipertontonkan kaum beragama, dan masih lebih banyak orang yang tidak berani berpikir melawan arus. 

Aku menyadari bahwa masih banyak manusia yang terperangkap di dalam kotak-kotak itu. Kotak itu semakin bertambah besar dari hari ke hari. Dan jika kita mencintai seseorang, sesungguhnya kotak-kotak itu haruslah kita tanggalkan. Jika anda mencintai seseorang yang berada didalam kotak kemudian kemilau kotak itu perlahan memudar, percayalah, cinta kalian juga kelak akan memudar. Yesus pernah berkata “Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”. Yesus tidak bilang “Kasihilah orang Kristen seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”. Bagi yang mempelajari sejarah penulisan Injil, bisa dibilang ucapan ini adalah hukum tertinggi setelah hukum taurat.

Dua ribu tahun yang lalu seorang mistikus Yahudi telah mengajarkan kita untuk saling mengasihi dan saling mencintai sesama manusia tanpa tedeng aling-aling, tanpa embel-embel apapun, tanpa perlu memandang apa kepercayaan orang tersebut. Inilah cinta sejati, cinta yang tulus tanpa prasyarat apapun. Amo ergo sum. I love, therefore I am. Aku mencintai, maka aku ada. Untuk kalian diluar sana apapun kepercayaanmu, Atheist-Theist-Agnostik atau apapun sebutannya, marilah kita saling mencintai, saling mengasihi tanpa perlu terperangkap dalam label apapun. Karena kita semua manusia. Hanya manusia. Berbahagialah manusia yang tak tersandera oleh dogma-dogma agama!

("Cintailah kekasihmu seakan engkau mencintai dirimu sendiri, bangunkan ia seakan engkau membangunkan dirimu sendiri, lepaskan ia seakan engkau melepaskan dirimu sendiri, jangan korbankan ia seperti engkau tak mau menyakiti dirimu sendiri. Bentangkan sayapnya seperti engkau bentangkan sayapmu selebar engkau mampu, dan bersamanya raihlah mentari, gapailah bulan. Biarkan angin membisikan pada diri kalian kemana kalian akan melayang lepas, nikmati hembusannya, meliuklah di balik awan di bawah sinar rembulan. Dan gapailah bintang di tempat yang paling utara. Dan untuk hanya satu kali, tengoklah ke belakang dan ucapkan: 'Selamat tinggal dunia yang kejam, kami telah memulai hidup'.” – Jurnal Odyssey vol. 03)

Rabu, 07 Januari 2015

PEMBANTAIAN MAJALAH CHARLIE HEBDO, CERMIN BERLANGSUNGNYA KEBIADABAN UMAT ISLAM


Di daratan eropa, terutama negara Perancis yang berpaham Liberal-Sekuler, kebebasan berpendapat, berpikir dan berekspresi adalah fondasi utama Negara itu, dijamin penuh oleh hukum dan konstitusi. Majalah Charlie Hebdo itu majalah satire-sarkasme Politik dan Agama. Dalam Majalah Charlie Hebdo bukan hanya Islam yang dikritik tapi Yahudi, Kristen dan lainnya juga disemprot. Tapi kenapa hanya Islam yang marah?

Kasus pembantaian barbar terhadap 12 orang yang terdiri dari jurnalis dan redaksi majalah Charlie Hebdo karena menggambar kartun yang dianggap melecehkan Islam itu jelas membuktikan bahwa kejahatan atas nama agama itu bukan lagi kejahatan yang dilakukan oleh oknum, tapi jelas agama itulah yang sedang bermasalah, masalahnya dimana? masalahnya jelas, sebab Islam saat ini sedang berada dipuncak era kegelapan. Lihat saja komentar-komentar naif orang Islam di berbagai ranah sosial media, mereka mendukung pembantaian tersebut, karena ini dianggap menyangkut persoalan akidah dan pelecehan terhadap Islam. 
Kebiadaban Islam saat ini persis seperti yang pernah dilakukan Yahudi pada masa Mesir kuno dan Kristen pada Era Kegelapan Hukum Gereja, suatu masa dimana agama dipahami dengan dogma absolutisme serta tirani yang tanpa ampun menumpahkan jutaan liter darah umat manusia yang mengharamkan kebebasan berpikir atau mereka-mereka yang menolak tunduk dibawah otoritas agama. 

Bagaimana umat muslim sebegitu sensitifnya dengan mudah membakar api emosionalitas keimanan? jawabannya pun sederhana, karena umat Islam terjebak pada penafsiran kitab suci yang tekstual bukan kontekstual, suatu pandangan yang melawan dialektika hukum alam, di mana zaman itu maju kedepan, bukan mundur kebelakang. Umat muslim masih banyak yang berangan-angan bahwa syariah adalah solusi akhir dunia dan berupaya mengembalikan kejayaan kekhalifahan Islam di masa lampau, dan itu dipaksakan di zaman sekarang bahkan ketika mereka diberi kesempatan untuk hidup di negara Liberal-Sekuler.

Fenomena ISIS, Taliban, Alqaeda, terorisme sporadis diberbagai belahan dunia, fatwa mati terhadap pemikir kritis islam, Film Innocence Muslim, Penyanderaan Sydney, Penembakan ratusan anak sekolah Pakistan, hingga kasus Pembantaian Charlie Hebdo membuktikan bahwa Islam sedang berada di ujung tanduk sejarah kegelapan.

Dalam paradigma masyarakat barat dan/atau eropa bahkan Asia Timur, semua agama bebas dikaji baik secara kritis konstruktif-dekonstruktif maupun apresiatif. Jika ada kelompok yang tidak setuju, maka silahkan lawan pemikiran dengan pemikiran. "Mentalitas Ilmiah” seperti ini faktanya tidak terjadi di dunia Islam seperti di Timur Tengah dan negara-negara mayoritas muslim. Kritik-otokritik itu diperlukan, karena itu merupakan salah satu proses bagaimana zaman berdialektika menuju kemajuan peradaban. Kasus Charlie Hebdo membuktikan juga bahwasannya muslim saat menjadi minoritas pun bisa saja berlaku menindas di negara yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berpikir.

Umat muslim kebanyakan hanya terima ketika Islam diapresiasi oleh orang barat, namun sebaliknya jika alquran dikritisi, mereka marah, tapi lucunya jika kekristenan dikritisi, mereka kebanyakan senang. Ada kebahagiaan batiniah tersendiri jika agama lain dihina dan Islam dipuja-puji. Pemikir fatalistis Islam seperti Harun Yahya, Ahmad Deedat, Zakir Naik dan sejenisnya malah menjadi rujukan mayoritas Islam, namun pemikir revolusioner Islam seperti Mohammad Abduh, Ahmad Wahib, Ashgar Ali Engineer justru tidak dikenal. Sikap insecure dan ketakutan umat muslim melakukan ijtihad disegala dimensi membuat umat ini lebih suka mengangkat senjata dalam menyelesaikan masalah atau menghadapi perbedaan.

Kaum moderat Islam pun demikian adanya, mereka seakan tutup mata atas tindakan terorisme yang dilakukan orang islam itu sendiri. Jawaban apologetik yang sering diterima adalah “Itu cuma oknum, karena islam agama damai” atau “islam agama damai, tapi kalo ada yang menghina kesucian islam, ya terima sendiri akibatnya”. Kaum moderat gagal melakukan otokritik terhadap agamanya.


Setiap umat beragama pastilah menjunjung tinggi tokoh-tokoh sucinya, menganggap agamanya paling benar, agung dan berwibawa. Tapi mengapa umat agama lain cenderung cuek ketika ikon agamanya dijadikan parodi atau dikritik. Ambilah contoh Kristen, kurang dihina bagaimana lagi Yesus Kristus, di barat Yesus diparodikan seperti apapun tidak menimbulkan kemarahan, protes pasti ada dari segelintir kecil kelompok konservatif, namun tidak berujung pada pembunuhan dan aksi terorisme. Coba bandingkan dengan Islam ketika nabi digambar saja umatnya tidak ragu menumpahkan darah sesama umat manusia.

Masalah disini adalah pada sikap mental dalam menghadapi era modern di mana arus informasi leluasa bergerak dan setiap orang berhak mengekspresikan ide-ide bebasnya. Di era keterbukaan informasi, kita tidak bisa membungkam sepenuhnya semua bentuk parodi maupun wacana kritis-dekonstruktif terhadap agama. Sikap yang paling tepat saat ini adalah menghadapi fenomena banjir informasi dengan dewasa. Ingatlah bahwa parodi hanyalah kerjaan orang-orang iseng yang ingin menyampaikan pesan dengan canda, sedangkan kritik adalah karya intelektual yang seharusnya dijawab dengan jawaban yang berilmu, bukan ditanggapi dengan ancaman atau aksi terorisme penuh darah.

Islam harus belajar banyak sejarah dari kakaknya Kristen dan Yahudi yang berhasil melewati masa-masa kegelapan dan menghumanisasi dunia dengan penghormatan atas perbedaan. Islam pasti bisa maju, dengan syarat pintu ijtihad harus dibuka disegala dimensi, agar umat Islam berhenti mempermalukan diri dihadapan rakyat dunia, sejarah, atas nama kebaikan dan peradaban anak cucu kita dimasa depan.

Rio Maesa: 8 Januari 2015