Senin, 23 April 2012

MANUSIA BISA TETAP BERMORAL TANPA TERIKAT AGAMA

Fundamen agama adalah dogma atau postulat (sebuah asumsi yang menjadi pangkal dalil yang dianggap benar tanpa perlu membuktikannya), dan inti dari postulat agama adalah Tuhan atau Dewa. Yah, dialah TUHAN, begitu sakralnya kalimat ini, memiliki tendensi atas nilai-nilai absolut yang bersifat monopolistik, dan yang pasti tidak bisa diganggu gugat. Beginilah bentuk kredo realitas atas apa yang disebut Tuhan dalam konteks keyakinan. Berbeda lagi jika kita berbicara Tuhan dalam konteks pemikiran filsafat. Dalam konteks filsafat, pemikiran Tuhan menimbulkan banyak pertentangan, perdebatan akan eksistensi keberadaannya, hasilnya terpecah, ada yang mengakui sebatas bentuk metafora (simbol) sampai tidak lagi ada pengakuan terhadap eksistensinya sama sekali.

Sebagian besar orang indonesia mengatakan bahwa kaum ateis, agnostik dan free thinker (non-believer) merupakan kaum hina yang tak punya etika moral, karena para non believer memiliki arogansi kesombongan dan kecongkakan hidup untuk memilih tidak beragama dan bertuhan. Dalam pandangan mereka, orang-orang non believer adalah sebuah momok menakutkan di negeri ini, hampir seburuk sang iblis itu sendiri. Ia disamakan dengan pemadat, pelacur, pembunuh, dan pemerkosa. Ia tak punya tempat hidup di negeri yang “beragama” ini. Di lain pihak, negeri yang sangat agamis ini tidaklah menjadi sebuah negeri yang makmur, aman dan tentram. Justru beberapa negara yang kecenderungan non believernya berkembang menunjukkan ciri-ciri negara maju yang makmur, aman, tenteram bahkan manusiawi.

Sesungguhnya nilai luhur atau disebut moralitas itu tidak ada hubungannya dengan keyakinan agama (ibadah dan keesaan Tuhan). Karena moralitas itu adalah hubungan antar sesama manusia. Moral adalah soal nilai-nilai dan relasi antar manusia. Sepanjang seseorang sudah punya sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan hukum nurani dan hukum sosial, maka jelas dia bisa disebut sudah bermoral. Apapun cara pandang dan keyakinannya. Sedangkan soal Atheis dan Theis (agama), itu adalah soal keyakinan, soal pandangan seseorang atas realitas kehidupan dunia dan akhir kehidupan. Moralitas lahir dari akal budi manusia, bukan dari agama. Agama hanya membajaknya sebagai aset jualan untuk memperdagangkan keyakinannya. Atheis dan Theis tidak berbanding lurus dengan moralitas seseorang. Kedua-duanya tetap berpeluang untuk bermoral dan tidak bermoral. Dan sejarah peradaban umat manusia sudah membuktikan akan hal ini. Jadi menyandingkan ateisme sebagai keyakinan yang tidak bermoral, dan sebaliknya kaum theis adalah keyakinan yang otomatis bermoral, adalah sebuah generalisasi yang konyol, dan fallacy (kesalahan berpikir) yang tak termaafkan.

Tepat sekali kiranya apa yang pernah diucapkan oleh Artur C. Clarke, bahwa tragedi terbesar dalam sejarah peradaban umat manusia adalah ketika moralitas dibajak oleh agama. Sejarah telah mencatat, bahwa agama adalah salah satu sebab utama munculnya berbagai pertumpahan darah di dunia ini. Lihat saja bagaimana berbagai tragedi kemanusiaan dan perang-perang besar yang terjadi didunia ini hampir selalu bermula dari sensitifitas kaum beragama yang ingin memperebutkan legitimasi kebenaran Tuhannya masing-masing dan perebutan geopolitik dengan berbagai penghalalan cara untuk menyebarluaskan pengaruh ajarannya.

Ketika para non believer berbicara soal keyakinan dan kritikannya terhadap praktik keagamaan dalam ruang sosial seperti facebook atau twitter, sekonyong-konyong mereka akan mendapat tuduhan bahwa non believer ingin menyebarkan ajaran anti Tuhan kepada masyarakat. Bagi saya ini adalah pandangan apriori yang penuh dengan kesalahan paradigma berpikir. Munculnya media sosial merupakan hasil dari penghargaan yang besar terhadap kebebasan manusia, tidak ada satupun manusia ataupun sosok di angkasa yang mampu melarang berkembangnya ide dan kebebasan berpikir. Banyak orang-orang khususnya yang beragama mengamuk dan marah hanya karena keyakinannya dikritik di media sosial. Bagi saya orang-orang seperti ini hanyalah orang yang belum memiliki keyakinan beragama dalam artian yang riil. Mereka hanya memiliki keyakinan dalam bentuk arogansi semata, hanya sebatas euforia utopis. Mereka beragama hanya sebatas antara pertalian emosional dan psikologis. Belum sampai pada bentuk kesadaran beragama yang riil. Dalam pandangan saya, kaum seperti ini BARU menginjak masa PUBERTAS dalam beragama. Pada fase-fase demikian adalah fase beragama yang sangat rentan dengan sikap menelan mentah-mentah sebuah keyakinan agama secara membuta (dogmatisme). Secara nyata, fase seperti ini pula yang sangat rentan untuk dihasut dan mudah sekali terprovokasi.

Sikap non believer di mata para agamawan dan orang beragama adalah momok yang sangat menakutkan. Itulah salah satu alasan utama orang bertuhan dan beragama sangat sensitif sekali terhadap statement yang atheistik. Mereka berlaku demikian karena mereka takut dengan KOMPETITOR. Non believer di mata kaum beragama begitu menakutkan, begitu kuat, begitu beralasan logis, begitu mengancam eksistensi kaum beragama. Oleh karenanya, pikir mereka, kompetitor harus dibungkam. Hal ini dilakukan karena ketidakpercayaan diri kaum beragama terhadap apa yang mereka klaim sebagai kebenaran (theisme). Ada semacam KECEMBURUAN IDEOLOGIS, juga sikap minder dalam menghadapi ide-ide bebas. Takut jika kompetitornya lebih bagus, jadi konsep ketuhanan yang dibawa ajaran agamanya tidak laku lagi, dan lambat laun ditinggalkan oleh rasionalitas mereka sendiri. Agama dibangun dari "iman" (kredo), bukan "reason". Di sinilah titik lemahnya. Sangat wajar, dengan bermodal itu, mereka begitu khawatir terhadap para kaum non believer yang berbasis "reason" dan "logic". Itulah alasan utama mengapa kaum bertuhan nampaknya terlalu minder dan takut untuk bersaing dalam konstitusi yang bebas, sederajat dan sehat. Bertrand Russell pernah mengatakan, jika Tuhan itu ada, dia semestinya tidak akan mudah tersinggung hanya karena ada manusia yang meragukan keberadaannya. Ucapan Russell benar adanya, namun sesungguhnya bukan Tuhan yang seharusnya ditakuti, tetapi umatnya lah yang pantas untuk ditakuti, karena mereka lebih suka mengancam dan tidak pernah ragu-ragu untuk menggunakan kekerasan fisik dalam melawan pemikiran bebas ketika para free thinker mengkritik keyakinannya hingga meragukan eksistensi Tuhannya. Bahkan mereka yang beragama tetapi tidak taat pun demikian bisa saja berubah menjadi sosok monster ganas yang mengerikan hingga berlagak paling relijius ketika keyakinannya dikritik. Bisa kita lihat bagaimana dogma agama benar-benar memainkan pengaruh yang kuat pada aspek kognitif psikologis manusia. Hanya kaum beragama dari kalangan liberal, plural dan progresif lah yang masih bisa menerima perbedaan pendapat dan kritikan.

Saya sendiri tidak pernah berusaha mencari pengikut, karena membujuk orang untuk menjadi ateis atau agnostik itu sukar, dan bukan tugas seseorang seperti saya yang tidak seberapa cerdas dan kurang mampu memberi penjelasan yang memuaskan. Saya tidak pernah membujuk orang untuk jadi seorang non believer, karena sikap non believer bukanlah sebuah keyakinan seperti agama yang turun menurun dalam keluarga, non believer bukan merupakan sesuatu yang mudah diajarkan. Non believer adalah sebuah sikap hubungan personal dengan realitas. Non-believer bukanlah seorang pendakwah yang berusaha mencari sebanyak-banyaknya pengikut, tetapi orang-orang yang mendasari moralitasnya pada akal budi manusia serta mengakui segala keterbatasan yang dimilikinya. Non believer adalah sebuah hasil pencarian panjang seseorang yang bersifat personal. Seorang non believer TIDAK BISA YAKIN sebelum meragukan segala sesuatu terlebih dahulu (skeptisisme) dan cukup berani MEMPERTANYAKAN SEGALA SESUATU dan tanpa lelah berusaha untuk terus belajar mencari jawabannya. Seorang non believer tidak boleh mengandalkan jawaban-jawaban yang sudah ada, kemudian malas mencari jawaban, kemudian cukup hanya dengan meyakini bahwa semua jawaban atas kebenaran dan rahasia semesta alam ini terdapat pada sebuah buku yang dinamakan kitab suci. Seorang non believer yang baik tidak boleh ikut-ikutan menjadi non believer hanya karena dipengaruhi oleh orang lain.

Dengan kata lain sikap non believer hanya bisa ditemukan dan dialami sendiri secara personal. Seorang non believer yang baik tidak akan mendorong apalagi membujuk orang lain untuk ikut-ikutan menjadi non believer, tetapi membiarkannya tumbuh dalam pencarian di tengah-tengah pergumulan pencerahan-pencerahan visioner yang mengkritisi berbagai fakta kesalahan-kesalahan agama. Dalam pandangan saya tidak ada gunanya menambah pengikut yang cuma ikut-ikutan atau sekadar mau coba-coba, sekadar mengikuti keyakinan orang tua atau masyarakat adat sekitar, hanya untuk sekadar menyenangkan orang lain, apalagi mereka yang menjadi non believer hanya karena malas beribadah. Tetapi hati saya bertanya-tanya, ketika agama saja merasa berhak untuk menyebarluaskan ajaran agamanya mengapa non believer tidak boleh? mengapa ketika para pemuka agama berdakwah untuk mencari sebanyak banyaknya pengkut, mengapa non believer tidak boleh? 

                                                    *********************************************************

Ada banyak cara menyantuni jiwa, batin, dan pikiran. Dan memelihara kewarasan berpikir, bagi saya pribadi, dan bagi banyak kalangan non believer, tidak harus melarikan diri ke agama. Agama membutuhkan ketulusan untuk percaya begitu saja tanpa banyak tanya. Mengapa saya menjadi non believer, karena saya terlalu kritis dan skeptis untuk percaya begitu saja tentang suatu hal tanpa mempertanyakan segalanya terlebih dahulu. Dan ketika saya tidak menemukan jawaban serta bukti yang memuaskan dahaga keingintahuan saya, maka sudah sepatutnya saya meninggalkannya. Buat saya, dengan jiwa pikiran yang kritis dan skeptis, tetapi harus hidup dalam dualisme pikiran bertanya tapi hati harus menerima tanpa tanya, saya akan mengalami kegilaan. Maka demi kesehatan jiwa dan pikir saya, saya memilih menjadi seorang agnostik dan rasionalis (free thinker-pemikir bebas). Saya memilih jiwa dan pikiran yang skeptis dan kritis, karena itu lebih cocok untuk ketenangan jiwa dan batin saya. Saya menunda untuk sementara waktu percaya pada keyakinan mitologi agama-agama sepanjang tidak ada bukti yang mampu menunjang pikiran dan keyakinan saya untuk mempercayai kebenarannya. Sebagai seorang agnostik, saya tidak pernah mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, saya juga tidak bisa mengatakan bahwa Tuhan itu ada, karena saya tidak bisa membuktikan keduanya.

Saya percaya pada Tuhan metafora, Tuhan sebagai simbol atas berbagai anomali yang belum bisa terjelaskan oleh sains dan ilmu pengetahuan. Bukan Tuhan paradoks yang menciptakan surga buat umat agamanya saja, menciptakan neraka untuk memanggang mereka yang menolak ikut percaya agamanya, kemudian memaksa umatnya untuk pakai baju ini dan itu, hingga melarang umatnya tidak boleh memakan makanan ini dan itu. Karena saya yakin seandainya Tuhan itu ada, ia telah menciptakan manusia sedemikian rupa agar bisa dilihat dan dipandang, agar kita semua bisa mencicipi segala sesuatu yang telah disediakan oleh alam dengan sendirinya. Saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan dan akal budi manusia yang nantinya akan menjawab semua misteri yang tersembunyi dibalik semesta alam ini. Ketika masih banyak misteri yang belum terpecahkan, biarlah ia menjadi sebuah anomali. Bukan dengan sekonyong-konyong kita mengklaim bahwa segala bentuk misteri itu sudah ada jawabannya dalam sebuah kitab suci berumur ribuan tahun.

Saya sendiri terkadang marah pada tekanan sosial. Tetapi bukan berarti saya tidak bahagia. Bagi saya sendiri marah adalah satu emosi yang sehat. Saya marah pada penindasan. Saya marah pada ketidakadilan. Tetapi saya cukup melampiaskannya dengan menulis, berbicara, dan merenung. Saya tidak akan sekonyong-konyong mengambil pedang kemudian menghunus dan meneriakkan nama Tuhan sambil berusaha menghirup darah segar musuh-musuh saya. Saya tidak akan mengintimidasi lawan berpikir saya dengan ancaman penjara karena berbeda pikiran. Saya sendiri tidak pernah memusuhi agama dan orang-orang beragama atau mereka yang bertuhan, karena saya sendiri berasal keluarga yang cukup konservatif dalam beragama. Tapi satu hal yang pasti saya tidaklah seperti orang-orang beragama terutama kaum radikal dan fundamentalis yang jelas memusuhi orang-orang tak bertuhan. Seperti bagaimana propaganda kebencian para pemuka agama dalam tiap agitasi dakwah kepada umatnya. Mereka para pemuka bisa berdakwah demikian karena terprovokasi oleh penafsiran ayat-ayat kitab suci yang dengan eksplisit mengumandangkan kebencian sebesar-besarnya terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Saya sendiri sebagai seorang non believer tidak ingin menyadarkan orang-orang beragama untuk meninggalkan Tuhannya. Saya hanya ingin orang-orang non believer, khususnya non believer yang hidup di Indonesia yang masih berada dalam ketakutan atau tekanan sosial yang berat agar dapat mampu bebas dari segala macam persekusi dalam bentuk kekerasan maupun intimidasi yang dilancarkan oleh kaum agama.


Rio Maesa 23-04-12

13 komentar:

  1. Salam kenal Mas Rio Maesa,

    Tulisan Anda akan saya koleksi. Saya lebih tepat disebut sebagai penganut aliran "The New Thought", dibandingkan dengan "Non Believer". Saya terlahir dengan Agama Islam, tetapi seperti Anda, saya pun dilahirkan tidak dalam keluarga yang "Islami". Ayah saya pandangan hidupnya lebih pada "Kepercayaan kepada eksistensi Tuhan". Itu saja, tanpa terikat oleh suatu doktrin agama, walaupun di KTP agamanya Islam.
    Memang soal Atheisme ini sebetulnya ada yang lebih ditekankan pada 'Ketidak percayaan kepada Tuhan yang sifatnya antrophomorphisme'. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan itu sebagai suatu makhluk perkasa di langit yang duduk di suatu singgasana dan yang dengan 'absolutnya' menentukan takdir manusia, apakah nanti dia akan masuk surga atau neraka.
    Bagaimana dengan saya sendiri? Kalau dikaitkan dengan definisi Atheisme di atas, waduh, tampaknya saya termasuk di dalamnya. Mengapa? Karena saya memandang bahwa Tuhan itu merupakan suatu Keberadaan yang tidak dapat disamakan dengan eksistensi makhluk. Saya terus terang justru sulit menyangkal bahwa Tuhan itu tidak ada, apalagi setelah mendalami sedikit mengenai Fisika Quantum. Tetapi, kepercayaan saya kepada Tuhan berbeda dengan para penganut agama pada umumnya.
    Sekali lagi, saya salut atas tulisan Anda. Apakah Anda punya akun Facebook? Tampaknya kita bisa saling bertukar pikiran lebih jauh lagi.

    ARYOJATI ARDIPANDANTO

    BalasHapus
  2. Terimakasih banyak mas Aryojati Ardipandanto atas apresiasinya. Tulisan ini hanyalah bagian dari resistensiku atas tekanan hidup, diskriminasi dan segala jawaban dari pencaharianku selama ini tentang kebenaran hakiki. Kalo soal Tuhan yang dilegitimasi sebagai kebenaran absolut memang benar saya agak sulit untuk mampu mempercayainya. Karena saya mempunyai banyak sekali alasan yang bisa saya sematkan untuk menegasikan nilai-nilai absolutisme tersebut. Terlebih-lebih lagi ketika partikel higgs boson ternyata merupakan suatu kebenaran ilmiah.

    Silahkan add saja mas, nampaknya kita bisa saling berbagi pencerahan dan saling bertukar pikiran, saya memiliki banyak teman yang sedikit banyak satu pandangan dengan kita. Nanti saya share juga kawan-kawan saya. Facebook saya ada di profile badge blog saya dipojok kanan bawah itu mas. Silahkan di Add.. pasti segera saya confirm.. Salam hangat

    Oir Nikonian

    BalasHapus
  3. bagus ini pemikiran yg sangat liberal....dibandingkan dg pemikiran para theis selama ini yg cenderung memaksakan kehendak dan selalu menimbulkan kekerasan sosial. menurut sy seharusnya orang theis ini lebih damai, lebih tentram. tapi justru orang atheislah yg lebih damai. mungkin tuhan orang theis ini punya sifat pencemburu,dan suka menghukum dan bla bla..
    karena tuhan orang theis ini diciptakan oleh manusia itu sendiri sebagaimana agama diciptakan oleh manusia lalu mengatasnamakan dari tuhan...

    BalasHapus
  4. Lakukan itu semua karena itu benar. Bagaimana bisa Anda tahu yang benar tanpa landasan? Agama itu adalah Landasan. Jika toh bukan Agama, jangan kesampingkan Tuhan. Setiap hidup kita, setiap yang kita buat, kita sebenarnya sedang mendekatkan diri dengan asal kita. Dialah Tuhan. Jika tidak ingin menemukan Tuhan dalam agama manapun, jangan sangkal Dia.

    BalasHapus
  5. silahkan Anda tidak beragama, tapi jangan sampai tidak ber-Tuhan. Temukanlah Dia dalam kebaikan yang Anda buat dan dalam kebaikan yang Anda terima. Terpujilah nama Dia (The One)

    BalasHapus
  6. Saya sangat menyukai artikel ini. Saya pun tidak terlalu meyakini suatu agama ( saya dilahirkan di keluarga muslim ). Tapi, saya berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang memiliki kekuatan besar di balik kehidupan ini. Yang saya pahami saat ini adalah perbuatan baik akan menghasilkan sesuatu yang baik, tidak peduli apakah dia orang beragama atau pun tidak.

    BalasHapus
  7. Ketika untuk bepikir adalah dosa
    Seorang anak manusia akan membentuk dirinya menjadi pribadi yg tidak kritis, menelan rasa ingin tahunya seperti sesuatu yg aib

    BalasHapus
  8. Suka tulisan ini, saya pun di lahirkan dari keluarga muslim, bahkan orangtua saya itu muslim yang sangat taat sekali. Namun ya entah kenapa saya lebih tertarik pada realitas daripada khayalan2 yg ditawarkan oleh agama, dari situ saya banyak baca2 tentang timeline sejarah dan timeline filosofi, dan pada akhirnya memang agama itu hanyalah suatu produk yang menawarkan khayalan agar orang merasa terbebas dari kenyataan yang pahit, itulah sebabnya kebanyakan agama lahir dari lingkungan bawah atau kaum proletariat, pada akhirnya islam saya hanya tinggal di KTP.

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. orang-orang goblok, ngomong tanpa data yang akurat, tanpa bukti sejarah, perbandingan yang ngaco, ketika ISLAM dalam masa ke-Emasan kaum thinker (dari agama islam) membangun peradaban, negara ISLAM kala itu maju, kaum barat sampai belajar di iran (saat itu ke ilmuan banyak lahir & berpusat di sana) sementara di zaman yang sama di negeri lain orang gak bertuhan & gak beragama saling makan, lalu dengan licik-nya orang kaum barat membunuh ilmuan Muslim kala itu, lalu di tinggalkan yang bodoh-bodoh, itulah kaum barat yang sekarang lo elu-elukan karena negeri-nya maju karena mulai pada agnostik & atheis, klo mau perbandingan & literatur yg bener teliti mulai zaman para nabi sampai sekarang, jelas agama mereka kristen tp pada dasar-nya otak & pemikiran mereka tanpa agama, klo org beragama yg baik gak bakalan negeri orang di jajah, di tindas, terutama negeri-negeri Islam, bahkan sampai negara lo sendiri di jajah 350 tahun oleh belanda yg sekarang di negeri mereka narkoba legal, mau mabok heroin, morfin, putau, ganja sudah ada cafee-nya, itu yang lo pikir lebih hebat negara tanpa agama dengan melegalkan narkoba? semua perang terjadi karena orang-orang yang gak punya agama dalam bentuk perilaku dan hati, bukan orang-orang yang ngaku punya agama di atas sebuah kartu penduduk tidak menjadikan mereka sebagai manusia beragama, gak beda jauh sama orang-orang kaya elu pada

    BalasHapus