Kamis, 06 Desember 2012

PERLAWANAN RASIONALISME MELAWAN MITOLOGI DAN INTOLERANSI DALAM AGAMA



Kesadaran manusia primitif akan kemahabesaran alam semesta sekaligus ketidakberdayaan dirinya membuat mereka berusaha merumuskan sesuatu yang menguasai semua itu. Sesuatu yang menciptakan kosmos dan kemudian memeliharanya sehingga serasi dan selaras. Dari upayanya tersebut lahirlah mitos dalam budaya berpikir mereka. Kisah yang mereka susun sedemikian rupa hingga dianggap bisa menjawab tanya akan fenomena alam yang mereka saksikan dan rasakan.

Ketidak tahuan akan cara memahami jalannya alam semesta membuat orang-orang zaman dahulu menggagas dewa-dewi sebagai penguasa tiap segi hidup manusia. Ada dewa cinta dan perang; dewa matahari, bumi, dan langit; bahkan dewa laut dan sungai; dewa hujan dan badai petir; bahkan dewa gempa dan gunung berapi. Ketika dewa-dewi berkenan, umat manusia dianugerahi cuaca baik, perdamaian, dan perlindungan dari bencana alam dan penyakit. Namun kala dewa-dewi murka, datanglah kekeringan, perang, wabah dan penyakit. Karena hubungan sebab dan akibat di alam tak tampak di mata mereka, maka dewa-dewi tampak tak dapat dipengaruhi, dan nasib manusia berada di kehendak mereka.

Tetapi semenjak kemunculan filsuf Thales dari Miletos (624-546 SM) keadaan mulai berubah. Muncul gagasan bahwa alam mengikuti kaidah-kaidah yang konsisten dan bisa dipelajari. Dan dimulailah proses panjang mengganti gagasan kuasa dewa-dewi dengan konsep alam semesta yang diatur hukum alam dan tercipta menurut rencana dasar yang kelak dapat kita baca. Dahulu Thales dianggap berhasil memprediksi terjadinya gempa matahari. Pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama karena mencoba menjelaskan dunia dan gejala-gejala di dalamnya tanpa bersandar pada mitos melainkan pada rasio manusia.

Setelah runtuhnya keyakinan polyteis yunani kuno munculah keyakinan monoteisme sebuah kepercayaan bahwa Tuhan (istilah yang sama dengan dewa) adalah satu/tunggal dan berkuasa penuh atas segala sesuatu (agama abrahamik). Monoteisme diduga berasal dari ibadah kepada Tuhan yang tunggal di dalam suatu panteon dan penghapusan Tuhan-tuhan yang lain, seperti dalam kasus penyembahan Aten dalam pemerintahan firaun Mesir Akhenaten, dibawah pengaruh istrinya yang berasal dari Timur Tengah, Nefertiti. Ikonoklasme (gerakan memusnahkan ikon dan simbol-simbol seni religius) pada masa pemerintahan firaun ini dianggap sebagai asal-usul utama penghancuran berhala-berhala dalam tradisi Abrahamik yang didasarkan pada keyakinan bahwa tidak ada Tuhan lain diluar Tuhan yang mereka akui. Dengan demikian, sebetulnya disini jika melihat lebih analitis maka akan terus ada benturan antar keyakinan tergantung dari pengakuan dualistik dan diam-diam tentang keberadaan Tuhan-tuhan yang lain, sebab perbedaan tersebut akan terus menjadi bomb waktu dimana ledakannya akan menyimbolkan perbedaan sebagai lawan yang harus dihancurkan karena mereka dapat saja sewaktu-waktu mengalihkan perhatian dari Tuhan utama mereka.

Dalam konsepsi monoteisme abrahamik dibentuklah aturan sistem yang mengatur tata kepercayaan (keimanan) dan peribadatan kepada Tuhan yang maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia beserta lingkungannya, aturan sistem tersebut bernama Agama. Fundamen aturan dari tata sistem agama tidak berbeda jauh dengan kepercayaan mitos kepada para dewa-dewi yunani, dimana menerima dan meyakini segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya berasal dari Tuhan, kemudian menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dan lain-lainnya yang diyakininya berasal dari Tuhan.

Kepercayaan terhadap agama adalah simbol pengakuan dimana manusia memiliki kemampuan terbatas. Kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri, Allah, Yesus, Yahweh, Dewa, Syang-ti dan banyak lainnya. Dan kesimpulannya agama adalah simbol penghambaan manusia kepada Tuhannya. Terdapat tiga unsur dalam pengertian agama, yaitu manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama. Penghambaan-penghambaan yang dogmatis inilah yang melahirkan banyak mitos-mitos dan akhirnya melebur menjadi instrumen yang dianggap penting dalam sistem ritual beragama.


Dengan berkembang pesatnya ilmu pengetahuan yang didasari pada rasio manusia, maka dalam perjalanannya agama selalu mengalami goncangan akibat serangan dinamika zaman. Kejutan-kejutan perubahan yang dimunculkan oleh pergolakan zaman seringkali memaksa agama harus mengikuti ritme perkembangan tersebut. Di era keemasan agama, struktur kehidupan manusia ibarat piramida kehidupan dimana agama menjadi bagian inti yang mempengaruhi aspek lainnya. Para sejarawan menyebut era ini sebagai zaman aksial yang dicirikan dengan mitos sebagai sumber utama pengetahuan manusia.

Revolusi sains, sama halnya seperti juga politik, sering bergerak melampaui batasan yang mungkin tak terpikirkan oleh mereka yang memulainya. Pada abad ke-16 sebuah paradigma berkembang, manusia adalah ciptaan Tuhan yang utama, bumi merupakan pusat alam semesta yang terencana secara matematis dengan sempurna, manusia sendiri diberikan karunia berupa akal untuk bisa membaca harmoni alam tersebut. Metode ideal yang digunakan oleh pemikir Yunani untuk menemuskan penjelasan logis dan sistematis, telah diperbaharui dan dimanfaatkan oleh peradaban Islam di Spanyol. Dalam hal ini, tampak terlihat bahwa ilmu pengetahuan melintasi batas keyakinan. Periode kebangkitan pencarian ilmu pengetahuan di dunia Barat ini dinamakan era Renaisans (Kelahiran Kembali).

Pada era selanjutnya, gelombang baru memaksa agama harus senang untuk disejajarkan dengan unsur kehidupan lainnya. Modernitas menjadi harapan baru manusia. Logos menggantikan Mitos. Bahkan tradisi baru pengetahuan manusia tersebut dengan tragis menelanjangi kabut-kabut hitam abu-abu mitos-mitos agama. Serangan paling dahsyat adalah munculnya arus sekularisasi dan paradigma berpikir saintifik yang sangat mempengaruhi kesadaran manusia. Puncak kesadaran paradigma ini dinyatakan oleh Nietzsche dengan ungkapan "Tuhan Telah Mati". Tuhan telah mati bukan diartikan bahwa Tuhan secara "harfiah" sudah mati, tapi Tuhan Telah Mati ialah di mana gagasan moral tentang Tuhan sudah tidak lagi mampu menjadi sumber gagasan dari segala sumber aturan moral manusia untuk hidup di muka bumi. Era kematian Tuhan ini ditandai oleh para pengamat agama sebagai krisis teologi.

Perkembangan cepat pengetahuan, rasio, sekularisasi pada akhirnya meruntuhkan mitos-mitos yang diyakini dalam sistem ritual penghambaan dalam agama. Terkait dengan perubahan yang terjadi sangat cepat, kemudian memaksa agama untuk terus menyesuaikan diri dengan dinamika ini. Umat beragama mengalami banyak culture shock (kejutan budaya). Bagi umat beragama yang tidak siap, maka mereka masih sangat sulit untuk berkompromi dan melakukan tawar menawar dengan babakan baru ini. Dalam kondisi demikian tidak mengherankan apabila muncul suatu gerakan keagamaan yang sifatnya reaksioner dan apologetik, ditandai dengan munculnya neo-ortodoksi agama. Karena cirinya yang reaksioner, gerakan ini hanya melakukan repetisi tradisi dan berusaha terus menggiring warisan lampau sebagai justifikasi masa kini. Mereka menafikan realitas bahwa dinamika adalah perubahan, karena perubahan adalah keniscayaan sebab tidak ada hal yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Prinsip-prinsip kebenaran yang selama ini bersifat prinsipil pun bisa saja diruntuhkan oleh perubahan itu sendiri.

Mereka yang tidak siap beradaptasi dengan progresivisme zaman akan terus menerus bertahan dengan paham ekslusivisme agamanya, dimana terjadi dualisme keyakinan yang mereka sendiri sebenarnya sadar dengan realitas perubahan, tetapi memaksa perubahan itu sendiri untuk menyesuaikannya dengan ajaran agamanya. Ekslusivisme agama melahirkan kebenaran subjektif dan lebih bersifat apologetik. Dari pandangan ekslusif inilah lahir benih-benih intoleransi antar keyakinan.

Pencampuradukan antara mitos-logos pada akhirnya akan menjadi musibah baru bagi sejarah peradaban kehidupan manusia. Karen Armstrong memberikan satu contoh bahwa perang salib yang dikomandoi oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095 pada dasarnya merupakan alam logos. Akan tetapi ekspedisi militer tersebut menjadi semakin tangguh ketika ditarik dalam kerangka mitologi rakyat, kisah-kisah heroik dalam kitab suci, fantasi religius yang selanjutnya tercatat dalam sejarah sebagai tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah peradaban umat manusia. Pada hakikatnya mitos bukan selalu menjadi hal yang jelek, sebab dengannya kehidupan mempunyai konteks makna yang berharga dan sejarah budaya yang beragam. Akan tetapi mitos menjadi potensi destruktif bila didudukan sebagai kekuatan dan kemapanan hirarki sosial. Pada titik inilah bisa disebut sebagai proses "pemistikan", yakni penggunaan mitos yang bertentangan dengan fungsi dan maknanya. Dan inilah corak utama gaya berteologi dan/atau berdakwah masyarakat agama saat ini. Ekslusivisme dan neo ortodoksi bercanggah di atas kerangka paradigma yang demikian. Tidak mustahil bahwa tragedi-tragedi kemanusiaan akan terus berlangsung selama masih saja terjadi pencampuradukan mitos-logos dan menjadikan mitos sebagai penyangga ideologi keyakinan/kebenaran.

Semula gerakan neo-ortodoksi (berwujud konservativisme, fundamentalisme hingga extremisme) tidak terlalu berlebihan, namun pada perkembangannya ia ternyata tidak hanya berusaha menghidupkan kembali panorama religius berabad-abad yang lalu dalam kehidupan manusia hari ini kemudian memaksakannya menjadi alat utama untuk membaca realitas saat ini. Anggapan agama adalah kesempurnaan akhir bagi manusia kemudian klaim bahwa tidak ada celah kesalahan sedikitpun dalam ajarannya dengan diselimuti oleh dogma kesucian adalah bertentangan dengan rasio serta realitas dinamika zaman. Dengan kata lain, hal tersebut bukan hanya mengembangkan kembali mitos tetapi juga memaksanya untuk meneropong hal-hal yang seharusnya menjadi tugas logos dalam wujud "Kesucian". Disinilah terjadi absurditas sebab pencampuradukan epistimologi mitos-logos yang pada akhirnya melahirkan pada drama baru realitas yang disucikan, politik yang disucikan, budaya yang disucikan, bahkan kepentingan dan perang yang disucikan.

"Bagaimana orang yang suka manis mengatakan bahwa yang tidak suka manis itu sesat????" (dr. Ryu Hasan) 

Menurut Voltaire, hukum alam adalah hukum yang diberikan alam untuk kita seluruh manusia. Jika anda memperhatikan anak anda dengan baik maka anak itu akan menghormati anda sebagai orang tua. Anda berhak memetik hasil bumi yang telah anda tanami dengan tangan anda. Jika anda telah membuat dan melaksanakan sebuah perjanjian, itulah yang seharusnya ditaati.

Voltaire juga menyimpulkan bahwa hukum manusia tidak dapat disusun bertentangan dengan segala permasalahan yang telah diatur hukum alam, maupun prinsip besar, dan prinsip universal yang ada di bumi ini. Jadi seseorang tidak akan bisa memaksakan kehendaknya untuk dilakukan oleh orang lain atau memberikan pendapat yang harus dituruti jika hal tersebut berhubungan dengan sesuatu yang prinsip. Seseorang tidak dapat mengatakan, "ini adalah sesuatu yang aku percayai dan kaupun harus percaya itu". Faktanya hingga saat ini kalimat tersebut memang disenangi oleh orang-orang di beberapa negara dimana ucapan-ucapan seperti "harus percaya, atau semua orang membenci; percaya saja atau akan terjadi sesuatu yang buruk pada mereka yang tidak mempercayainya"; mengerikan kau tidak seagama denganku, atau kau sama sekali tak beragama. Jadi apakah kita harus menerima kebencian tersebut untuk lingkungan dimana kita hidup?. Jika kita sepakat dengan apa yang dipaparkan oleh Votaire berarti kita telah menanamkan akar permusuhan yang dilandasi oleh mitologi. Menurut Voltaire hukum yang mengatur seseorang agar tidak bertoleransi sangat absurd dan barbar, hukum seperti itu seperti seekor macan, bahkan lebih baik karena hanya berlaku jika lapar.

Di Indonesia, penerapan budaya konservatisme dan neo-ortodoksi masih dijadikan pedoman oleh mayoritas pemeluk agama. Tetapi dalam perkembangannya sekarang, bisa kita lihat adanya beberapa upaya dari kelompok-kelompok tertentu umat beragama tersebut yang ingin keluar dari cengkeraman mitologi agama. Perlawanan terhadap mitologi yang dibawa oleh agama berisiko melahirkan sebuah stigma. Yang pertama kali akan dihadapi adalah stigma sesat, liberal dan yang paling ekstrem adalah anti agama. Pandangan apriori terhadap progresivisme adalah paradigma yang sudah seharusnya dibuang ke tong sampah sejarah, mengapa demikian, sebab progresivisme adalah bagian dari dinamika kehidupan dalam perkembangan sejarah masyarakat.

Dalam progresivisme suatu pengetahuan yang benar masa kini mungkin tidak benar di masa yang akan datang, segaris dengan filsafat sains bahwa sains harus mampu mengkoreksi hipotesis atau kesimpulan ilmiahnya jikalau dikemudian hari ditemukan kesalahannya. Tentu hal ini berbeda jauh dengan fundamen dasar agama dimana iman (kredo) sebagai buah dari kebenaran hakiki dimana mitos dan logos dipersatukan. Logika adalah hasil pertimbangan akal pikiran, yang mempelajari kecapan unyuk berpikir secara lurus, tepat dan teratur. Logika mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan pedoman yang mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan dalam tindakan, intinya logis sama dengan masuk akal. Sedangkan mitos/mitologi adalah adalah cerita prosa rakyat, yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk didalamnya, serta "dianggap" benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau para penganutnya. Mitos dapat timbul sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan, sebagai alegori atau personifikasi bagi fenomena alam, atau sebagai suatu penjelasan tentang ritual. Mereka disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius untuk membentuk model sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunitas.

Jadi kisah-kisah tentang mukjizat, keajaiban, hal-hal ghaib dan supranatural yang pernah terjadi dimasa lampau sesungguhnya masuk kedalam ranah mitologi. Sebab hal-hal tersebut sulit untuk dibuktikan dan diverifikasi kebenarannya. Tetapi dalam agama, terutama pandangan konservatisme dan neo-ortodoksi kisah-kisah tersebut dianggap sebagai kebenaran yang melebihi logos. Bahkan dijadikan fundamen utama dalam keimanan. Pada akhirnya pandangan-pandangan yang menganggap mitos sebagai kebenaran akan berbenturan dengan rasionalisme zaman. Dalam upaya kaum beragama dalam mempertahankan mitosnya yang kaku seringkali melahirkan sikap-sikap intoleran. Sikap intoleran terjadi bukan hanya terhadap pihak-pihak yang mengkritisi pandangan chauvinistis terhadap mitologi tersebut, tapi juga terhadap mereka-mereka yang menjadi pembaharu dalam agamanya sendiri.

Untuk keluar dari kekakuan keberagamaan ini ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Pertama, menjalin relasi harmonis-kompromistik antara mitos dan logos. Sebab keduanya merupakan alat bedah kehidupan yang tidak bisa dipisahkan. Meskipun demikian ada karakteristik dan peran masing-masing yang tidak bisa dicampuradukan. Mitos berperan sebagai pendorong imajinasi manusia yang menyebabkan kehidupan manusia bermakna. Sementara Logos menjadi panduan praktis dan ilmiah. Keduanya memiliki keterbatasan yang berpeluang menimbulkan hubungan yang komplementer. Dalam bahasa yang berbeda Arkoun menyebutnya sebagai angan-angan. Menurutnya disitulah kegagalan modernitas terjadi. Barat menganggap mitos sebagai khayalan dan mengesampingkan kreativitas angan-angan ini. Kedua melakukan pembongkaran  dan degradasi terhadap gaya berteologi yang dicirikan dengan paradigma kebenaran. Paradigma kebenaran sebenarnya merupakan landasan utama munculnya tragedi keagamaan. Karena tidak sedikit darah manusia ditumpahkan hanya karena hendak mengibarkan dan mempertahankan kebenaran agama.

Nietszsche secara ekstrem mengatakan bahwa kebenaran tidak lebih dari sebuah kesalahan yang belum ditemukan, tetapi kita coba mengambil dalam kacamata analisa Foucault yang lebih lembut dimana kebenaran tidak lebih sebagai proses relasi antar kuasa-pengetahuan, jalinan idea, dan kekuasaan ini telah menimbulkan ideologi kebenaran. Tak terkecuali dalam agama. Dengan demikian hal yang dianggap benar dalam agama tidak lebih hanya ekspresi klaim kekuasaan dan pengetahuan yang saling tumpang tindih, inilah yang menjadi salah satu naluri keberagamaan yang sulit untuk dibongkar dan dirubah. Kebanyakan umat beragama masih malu-malu mengambil jalan kompromi dengan gerakan yang mengakui kebenaran agama orang lain. Cara seperti ini pada kenyataannya tidak lebih menjadi tindakan toleransi yang hipokrit (munafik), karena berusaha menahan birahi klaim kebenaran agamanya dengan membiarkan kebenaran orang lain berkeliaran. Pada saatnya nanti emosi yang dipendam seperti ini akan meluap menjadi satu tragedi baru. Sejarah peradaban agama dan umat manusia telah membuktikannya.

Oleh sebab itu, umat beragama harus berani beranjak dari paradigma kebenaran teologi ini menuju satu paradigma baru, yakni kebajikan. Paradigma ini hendak menggiring umat beragama untuk kembali pada muara kebajikan, cinta kasih, persaudaraan dan perdamaian. Sehingga berani keluar dari jejaring-jejaring fanatisme untuk menunjukan kebenaran agamanya. Religiusitas (keberagaman) diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia, cinta kasih adalah fondasi utama relijiusitas, jadi hal ini tidak cukup hanya pada persoalan ritualistik ataupun berbagai pemahaman sektarian yang membagi agama-agama beserta aliran-aliran dibawahnya. Maka orang non believer (Ateis dan Agnostik) yang memiliki nilai cinta antar sesamanya bisa saja lebih relijius dari umat beragama. Kebajikan merupakan hal inti yang ada pada setiap agama. Dengan mengembangkan kebajikan dalam agama berarti pula mengembangkan kebenaran agama. Dan bahwa manusia beragama bukan orang yang dengan getol bersemangat menunjukan kebenaran agamanya, namun yang tekun mengamalkan kebajikan-kebajikan dalam agama, tanpa landasan mitos yang mengkebiri dunia logika.

Rio Maesa 6-12-2012

Referensi:
*Perjalanan Kosmos, Nataresmi Abd. Hanan
*The Grand Design, Stephen Hawking
*The Theory of Everything, Stephen Hawking
*Agama antara mitologi dan ideologi, Abd. Malik Utsman
*Beyond Good and Evil, Friedrich Nietzsche
*Traktat Toleransi, Voltaire

Selasa, 09 Oktober 2012

BUTA TERBURUK ADALAH BUTA POLITIK



Sedih sebenernya ketika masih saja ada seorang teman yang mengirim pesan ke inbox dengan berkata, kenapa sih suka banget mengkritik pemerintah, memperdebatkan politik di media sosial, menurutnya hal tersebut tidak ada gunanya dan jangan pernah bermimpi akan ada perubahan. Lebih baik bekerja mencari uang yang banyak untuk mempertahankan hidupmu, dan biarkanlah pemerintah bekerja sesuai dengan fungsinya, kita sebagai warga negara yang baik seharusnya mendukung penuh apa yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa.

Sejujurnya dalam pandangan saya pribadi orang yang membanggakan diri dengan keapatisannya terhadap politik, tidak kritis dan tidak mengerti atau buta sama sekali tentang politik sesungguhnya adalah orang-orang yang hidupnya paling menyedihkan. Menyedihkan, sebab mereka tidak pernah menyadari bahwa selama mereka masih hidup dibawah ruang sistem ketatanegaraan suatu negara yang didalamnya berdaulat sistem hukum dan ekonomi, semuanya itu tidak akan pernah bisa dilepaskan dari keputusan politik rezim penguasa.

Bahwa persoalan-persoalan yang menyangkut hajat hidupnya, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, kebebasan beragama, bahkan nafasnya untuk bertahan hidup di negeri ini seluruhnya bergantung dan ditentukan oleh keputusan politik. Dan mereka-mereka yang tidak peduli, bersikap apatis dan bangga menjadi non-partisipan dalam politik tanpa disadari telah melahirkan banyak kemiskinan, penindasan, korupsi, diskriminasi, anak terlantar dan sikap mendukung penuh kemalasan berpikir dan keterbelakangan pola pikir masyarakatnya.

Walaupun kenyataannya politik itu memang kotor, busuk, konspiratif dan kejam, tetapi politik adalah realitas sosial yang menyangkut secara langsung kehidupan sosial kita. Jadi pilihannya cuma tiga, pertama ikut masuk sistem, kedua kritis mengawasinya diluar sistem, atau apatis layaknya ternak yang bisa digiring kemana-mana oleh sang majikan. Alangkah baiknya menjadi seorang manusia yang memahami dan sadar politik, agar hidupmu tidak dipolitiki oleh para penguasa negeri korup, pebisnis serakah dan kelompok-kelompok oligarki-oportunis yang ingin memanfaatkan eksistensimu sebagai warga negara.

Sesungguhnya tidak ada buta yang paling buruk selain BUTA POLITIK!

Rio Maesa 9-10-2012

Rabu, 12 September 2012

UNTUK DUNIA TANPA KAPITALISME UNTUK MASYARAKAT TANPA NEGARA



JIKA MEREKA MEMBAKAR MASA DEPANMU PASTIKAN KAMU JUGA MEMBAKAR MIMPI MEREKA!

Mereka bermimpi untuk memiliki seluruh dunia ini. Seluruhnya!!! Dan untuk itu, kau harus menyingkir. Apabila kau terus ingin berada disini, maka kau harus menjadi budak-budak hina yang bekerja siang malam untuk menjaga dunia ini tetap berputar. Mereka bermimpi akan sebuah dunia yang gemerlap, modern dan teratur. Kau yang lusuh harus pindah ke sudut-sudut dunia yang busuk dan lapuk. Jika tidak, maka kau harus menjadi BABU yang bersedia melakukan apa saja.

Mereka ingin melihat semua isi dunia berada dalam genggamannya. Mengaturnya, mengontrolnya, dan menjadikannya seperti aquarium besar yang menyenangkan bagi penglihatan mereka. Kau harus mengetahui bahwa pada saat orang-orang borjuis bedebah dan para politisi begundal itu menyihir lahan-lahan kosong, rawa-rawa resapan air, ladang dan sawah, hutan dan laut menjadi gedung-gedung perkantoran, pusat-pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, dan tempat-tempat hiburan yang artifisial, ini berarti mereka telah mengirim tank-tank, senapan dan pesawat pembom untuk memerangi dan membombardir HIDUPMU, KEBEBASANMU, DAN KEBERADAANMU.

Para keparat tengik itu mengatakan bahwa hal tersebut menumbuhkan peluang kerja dan distribusi kesejahteraan. FUCK! INI ADALAH TAI!!

Sesungguhnya kamu bukanlah apa-apa. Kamu hanya bisa memilih menjadi CECUNGUK DUNGU, sekuriti yang begadang siang malam untuk menjagai properti mereka, pelayan yang bisa disuruh-suruh, pegawai kantoran yang menulis dan mengetik untuk bisnis mereka, tukang parkir untuk mengatur  mobil-mobil konsumen mereka, atau bahkan ANJING PENJAGA MODAL yang mengamankan bisnis mereka dari orang-orang lapar yang akan menjarah. Hanya bila kau bisa menginjak teman-temanmu, kau baru bisa mendapat kedudukan lebih baik untuk menjadi manajer penjilat yang menjijikan.

Ya!, dalam mimpi-mimpi mereka, kau bukanlah apa-apa!!!. Mereka bermimpi untuk melihat semuanya menjadi seperti yang diinginkannya. Mengaturnya, mengontrolnya, dan menjadikannya seenak perut buncitnya. Mimpi-mimpi para bedebah keparat itu adalah akhir dari hari-hari esokmu. Kau harus memilih, siapa yang seharusnya tersingkir dari dunia ini: KAU atau ORANG-ORANG KAPITALIS DAN PARA POLITISI SUNDAL ITU!!!

Source: NOBODYCORP. INTERNATIONALE UNLIMITED
Sudah sepatutnya bahwa kau harus segera menentukan akan menjadi seperti apa hari-hari esokmu???. Merekah dan tumbuh seperti bunga di musim semi, atau menjadi abu-abu sisa pembakaran yang akan hilang dibawa angin!!

Jika mimpi-mimpi mereka pada akhirnya membakar masa depanmu, merusak, dan membuatnya menjadi hukuman menyakitkan sebagaimana sisipus dengan batunya, maka kau harus mengambil keputusan untuk menghentikannya. SEKARANG JUGA, BUKAN BESOK!

Dan jalan yang tersisa untuk menghentikannya hanya dengan memastikan bahwa kau juga balas membakar mimpi mereka. Bakar seluruhnya, jangan sisakan! Dan setelah itu lihatlah: KAU BARU SAJA MENULIS SEJARAHMU! MERENGKUH HIDUPMU....Karena masa depan hanya akan berisi dengan apa yang akan kita masukan kedalamnya sekarang. Karena pertarungan terbesarmu adalah mengalahkan egomu sendiri...

Jumat, 03 Agustus 2012

ISLAM PROGRESIF IMAM KHAMENEI DAN ISLAM "SONTOLOYO" ALA ULAMA INDONESIA

Beberapa waktu lalu, pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Khamenei dalam pertemuan dengan para saintis, pakar dan inovator dibidang sains dan teknologi menyoroti sains sebagai aset tanpa akhir bagi negeri tersebut dan menekankan peran ekonomis ilmu pengetahuan dalam membuat negeri itu terbebas dari ketergantungan asing, meningkatkan kekuatan bargain politik serta mempertahankan identitas nasional. Menurut Khamenei, Iran kini berada di persimpangan sejarah. Meski terbilang pesat dalam mengembangkan teknologi luar angkasa, Iran tetap mendapatkan reaksi sinis dari dunia Barat perihal kemajuan yang diperolehnya. Masyarakat Barat menilai bahwa Iran memiliki muatan kepentingan tertentu untuk memanfaatkan teknologi luar angkasa sebagai medium pengembangan rudal balistik. Apa yang dilakukan Iran dengan memfokuskan diri pada sains adalah tuntutan bagi negara Islam tersebut dalam upayanya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sebagai basis utama progresifitas kemandirian bangsanya dalam persaingan teknologi pada tataran gobal. Sebagai catatan Iran adalah salah satu anggota dari 24 anggota pendiri Komite PBB urusan Penggunaan Antariksa secara Damai yang didirikan pada 1959.

Saya pun berpikir sambil sedikit bermimpi, kira-kira kapan yah para habib, kyai serta para ulama yang memimpin 98% jumlah muslim sunni di Indonesia itu mampu berdakwah mengikuti pola pikir rasional dan sikap progresif seperti para pemimpin Syiah di negeri para Mullah tersebut. Bukan lagi dakwah-dakwah seperti terdengar di bulan Ramadhan yang setiap harinya rata-rata cuma membahas persoalan-persoalan sebatas teologi, moralitas, irasionalitas, azab, dan surga neraka melulu. Bahkan seringkali diucapkan dengan luapan-luapan emosionalitas yang tendensius. Bagi saya pribadi tidak pernah sedikitpun saya mendengar mereka dalam dakwah-dakwahnya membahas persoalan sains dan ilmu pengetahuan ilmiah ataupun realitas sosial objektif yang berkembang di masyarakat.

Pemuka agama itu memang sudah seharusnya tidak hanya sebatas menjadi ahli agama, ataupun  pemuka-pemuka agama bermutu rendah seperti ustadz dan ustadzah yang sering tampil di televisi bak selebrity. Dakwah mereka sama sekali tidak bermutu, rata-rata kalau tidak menghibur dengan lelucon-lelucon yang tidak cerdas, mereka akan mendesak para jemaah pengajian untuk menangis dan meronta-ronta berdoa untuk sesuatu yang tidak jelas. Terkadang pengajian kemudian disulap menjadi lautan tangis yang mencekam.

Jelaslah bahwa industri/acara televisi hari ini lebih menghamba kepada rating yang didapat, sedikit sekali acara yang berisikan pencerahan dan inspirasi-inspirasi baru, sebagai contoh sekali-kali lihatlah acara religius subuh, isinya tidak lebih dari curhat para ibu-ibu galau yang isi ceramahnya tidak jauh-jauh pembahasannya dari persoalan tentang mistisisme Islam, sedikitpun tidak ada pencerahan intelektual yang penuh logika, realistis dan membumi seperti pembahasan tentang pengentasan kemiskinan, ekonomi-politik, dan bagaimana menjalankan relasi interpersonal yang baik antar sesama manusia tanpa sedikitpun pengagungan terhadap ekslusivisme agama yang menggerakan emosi keagamaan. Payahnya, hal tersebut pun ternyata terjadi juga pada acara-acara televisi yang menayangkan khotbah agama-agama lain seperti agama kristen contohnya yang sering disiarkan pada hari minggu di beberapa stasiun televisi, dan acara-acara yang menampilkan cerita-cerita mukjizat yang dipenuhi oleh irasionalitas sebagai suatu hidayah dari Tuhan.

Saat ini dakwah agama ternyata bukan saja menjadi aktivitas ibadah, melainkan kini lebih berorientasi menjadi ajang bisnis yang transaksional. Padahal di Islam sendiri dulu juga banyak pemikir-pemikir brilian dan mencerahkan seperti Imaduddin Abdulrahim, seorang ustadz dari ITB, atau KH. A.R Fakhruddin dari Muhammadiyah yang amat pandai menjelaskan posisi muslim dalam masyarakat dan bagaiamana seorang muslim secara disiplin mengajak ke arah kebaikan dalam bermasyarakat, dan juga ada pemikir Islam yang mumpuni seperti Nurcholish Madjid yang mengajarkan sekularisme dan netralitas dalam beragama dan bernegara, ataupun Gus Dur yang sangat pluralis.

Harus diakui, bahwa kekurangan terbesar bangsa ini adalah kurangnya intelektual yang berbasis agama masuk kedalam ruang publik, mereka yang masuk keruang publik justru mereka yang jualannya masuk ke wilayah emosional. Dan pastinya bisnis membutuhkan pasar, dan dalam mekanisme pasar dibidang ini memang masih membutuhkan pemuka agama yang tidak terlalu berkualitas. Ada semacam rangkaian simbiosis mutualisme yang berjalin secara berantai. Televisi yang menampilkan muballigh progresif macam Abdul Moqsith Ghazali, Gus Mus atau Buya Ma'arif misalnya, hampir dipastikan ratingnya rendah. Mengapa? bukan karena kapasitas keagamaan dan intelektualitasnya yang diragukan. Melainkan tipe tabligh ala mereka memang tidak memenuhi syarat pasar penonton televisi di negeri ini yang lebih percaya pada cerita-cerita dogma yang penuh mistis dan irasionalitas.

Tugas pemuka agama memang seharusnya bukan hanya sebatas menjadi ahli agama yang cuma mampu menenangkan jiwa secara spiritual, tetapi harus juga mampu mencerahkan pola pikir secara intelektual. Mereka sudah seharusnya menjadi katalisator pencerdasan, pembebasan dan pencerahan bagi umatnya, mereka harus paham politik, ekonomi, realitas sosial di masyarakat dan selalu merangsang umatnya untuk fokus pada sains dan teknologi agar mampu mengikuti dinamika peradaban global. Sudah saatnya pola pikir mainstream demikian dirubah. Pemuka agama dengan intelektualitas yang masuk kedalam ruang publik, intelektual yang membangun, bukan intelektual yang terus-terusan menyulut sumbu konflik horizontal tidak sehat atas sejarah pemikiran masyarakat, seperti doktrin para kyai dan habib radikal yang dikultuskan seperti nabi oleh para anggota ormas dan pendukungnya.

Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa negara berpenduduk muslim terbesar dunia seperti Indonesia selalu ketinggalan inovasi dan terus bergantung pada asing karena tidak memiliki kemandirian dan kedaulatan ekonomi seperti Iran, karena kondisi umat muslim sunni sebagai mayoritas negeri ini pola pikirnya banyak yang tereduksi dan terjebak menjadi hanya pada proses ritual-ritual semata, seperti sholat, puasa, ngaji dan haji. Saya memang tidak pernah sepakat dengan ideologi Syariah/Khilafah sebagai sebuah yurisdiksi hukum nasional sebuah negara bangsa, tetapi saya harus akui bahwa satu-satunya negara Islam yang saya kagumi memang hanya Iran. Dibalik segala bentuk represifitas rezim pemerintah Islam Iran terhadap nilai-nilai hak asasi manusia dan rakyatnya yang dianggap kontra-revolusi, tetapi disisi lainnya dalam tataran praksis politik internasional Iran ternyata mampu berdiri sebagai sebuah bangsa berdaulat yang punya harga diri, identitas dan political will untuk maju dan berusaha menyelaraskan diri dengan paradigma zaman yang kini mengacu pada sains dan teknologi. Bahkan Iran membuat poros baru kekuatan dunia ketiga bersama Venezuela yang sosialis dalam melawan kekuatan imperialisme barat. 

Dalam bidang pengetahuan, harus diakui pula bahwa mahzab Islam Sunni memang berbeda dengan Syiah. Sunni sangat sedikit sekali mengurusi dinamika ilmu pengetahuan, karena falsafah dasarnya adalah Kitab Suci Al-Qur'an sudah final dan dianggap melingkupi segala ilmu ilmiah, sedangkan Syiah sendiri masih lebih dekat pada rasionalitas yang dimulai ketika pada zaman dahulu para pemikir Islam Mu'tazilah yang "pro otak" banyak diakomodir oleh pemimpin-pemimpin Islam kaum Syiah. Sebagai referensi coba baca "Syiah, Rasionalisme Dalam Islam" karya H. Aboebakar Atceh (1965), bisa diunduh disini. Sejarah terus berjalan, dalam konstelasi politik global hari ini, negara Islam yang mayoritas Syiah memang jauh lebih mandiri dibidang teknologi dibanding negara Islam berbasis mayoritas Sunni, salah satu contohnya adalah Modernisme Uni Emirat Arab yang penduduk pribuminya banyak berasal dari bangsa Persia yang Syiah.

Iran dan Indonesia adalah dua dari tujuh negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Bedanya disaat rakyat muslim Iran yang bertahun-tahun hidup berada dibawah tekanan embargo ekonomi Barat, justru perkembangan dan inovasi teknologi luar angkasa Iran melaju pesat, Iran sudah mulai mempersiapkan diri mengekspansi ruang angkasa. Kemudian menjadikan teknologi nuklir sebagai basis utama solusi pembangunan berkelanjutan di bidang energi. Bandingkan dengan umat muslim di Indonesia, jangankan membahas persoalan sains dan astronomi yang rumit, baru membahas penentuan hilal saja tidak pernah becus, Ahmadiyah dibunuhi, kaum Syiah yang progresif dikafirkan bahkan dibeberapa daerah mengalami persekusi dari Islam Sunni mainstream di Indonesia, bahkan yang paling menjijikan dan memalukan ialah tidak tanggung-tanggung kitab suci Al-Qur'an saja di korupsi oleh Kementerian Agama yang seharusnya menjadi lembaga negara penjaga moral bangsa, kita lihat sendiri betapa paradoksnya kondisi umat Islam di negeri ini.

Nampaknya tugas Snouck Hourgronje yang dahulu ditugaskan Belanda untuk menyusup dikalangan umat Islam dan mencari tahu cara terbaik mengalahkan Islam dari dalam telah terbukti berhasil. Tugas Snouck dengan menjerumuskan umat Islam melalui ulama-ulamanya dengan hanya memfokuskan diri pada ritual-ritual ibadah semata terbukti berhasil. Hal tersebut bisa kita buktikan walaupun secara mainstream umat Islam di Indonesia membenci Barat, tetapi dengan mudahnya masuk kedalam perangkap Snouck dan cengkeraman kapitalisme Barat hingga budaya-budayanya sampai sekarang.

Untungnya di zaman sekarang ini masih ada sedikit orang muslim indonesia yang waras. Ia berani melakukan pencerahan dan keberanian revolusioner dalam melawan arus pandangan Islam mainstream. Salah satu orangnya adalah Prof. Qashim Mathar seorang Guru Besar Fakultas Ushluddin dan Filsafat Universitas Alauddin Makassar, Prof. Qashim dengan berani menyatakan bahwa tidak akan kafir seseorang yang agamanya Islam walaupun dia melenceng dari ajaran-ajaran akidah Islam. Menurutnya para ulama jangan pernah membatasi penafsiran Al-Qur'an karena generasi kedepan lebih cerdas daripada generasi yang hidup di zaman dulu. Sebab sains itu bergerak kedepan bukan kebelakang, seharusnya Islam juga seperti itu. Dan yang paling revolusioner adalah ketika ia mengatakan bahwa Rasullulah sudah meninggal, oleh sebab itu isi Al-Qur'an perlu direvisi karena sudah tidak lagi cocok dengan perkembangan zaman. Menurut saya sendiri, kritisisme dan otokritik yang diucapkan oleh Prof. Qashim adalah pandangan rasionalisme dalam Islam yang patut diapresiasi. Karena jika tidak ada yang mulai menstimulan sebuah gerakan perubahan, maka selamanya Islam di Indonesia akan terjerumus pada kebodohan sistematis dan fanatisme sempit yang dibentuk.

Kritik-otokritik yang diucapkan oleh Prof. Qashim ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah diucapkan oleh Bung Karno. Di zaman dulu Presiden Soekarno ternyata lebih berani mengkritik dan mencemooh para ulama-ulama konservatif yang disebutnya sebagai Islam Sontoloyo. Pada buku "Di Bawah Bendera Revolusi" Jilid Pertama Bung Karno pernah berkata, bahwa sejak studi Islam hanya sebatas dijadikan pelajaran Fiqh, maka garis kejayaan itu menjadi membelok ke bawah. Menjadi garis yang menurun. Disitulah lantas Islam membeku menjadi satu sistem formal belaka. Menurut Soekarno Islam telah kehilangan sumber tenaga utama yang menghidupkannya, Islam telah melenyapkan jiwa-jiwa revolusioner, Islam telah kehilangan keberaniannya seperti Harimau. Bung Karno mengibaratkan bahwa Islam hari ini seperti kendaraan yang tiada lagi punya kuda, tiada lagi punya kusir. Ia tidak berani bergerak lagi, ia mandeq (stagnan) bersama kebodohan yang sengaja dipelihara ulama dan umatnya. Fiqh bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup, Fiqh kini kadang-kadang menjadi dasar penghalalnya perbuatan-perbuatan kaum Islam Sontoloyo, halal bagi ulama yang mau main kucing-kucingan dengan Tuhan atau halalnya orang yang mau mengelabui mata Tuhan. Jelaslah apa yang dikatakan Bung Karno bahwa Islam di zaman akhir-akhir ini bukan lagi menjadi agama pemimpin hidup, tetapi agama "pokrol-bambu" (kiasan buat orang-orang yang suka berdebat tanpa dasar, keras kepala, tidak mau mengalah, dan selalu merasa paling benar).

Melalui ungkapannya yang penuh sarkasme tersebut, Bung Karno memang terkesan tendensius menyerang paham dan praktik keagamaan yang dianggapnya jumud (beku) dan irasional. Pemikiran demikian beliau berawal ketika berada di tempat pembuangannya di Bengkulu setelah diasingkan Belanda ke Ende, Flores selama beberapa tahun. Pada saat itu Bung Karno berang ketika membaca berita seorang ustadz memperkosa seorang muridnya yang masih gadis belia dengan didasari dalil-dalil agama dan iming-iming surga yang ditulis oleh surat kabar Pemandangan (6 April 1940). Inilah yang menstimulan Bung Karno mulai mengkritik dengan lantang bahwa Islam yang tidak rasional adalah "Islam Sontoloyo" (Islam yang konyol, tidak beres dan bodoh).

Selama masih dalam pembuangannya di Ende, Bung Karno seringkali berdiskusi lewat korespondensi surat-menyurat dengan Ustadz A. Hassan, pemimpin PERSIS (Persatuan Islam) di Bandung kala itu. Namun, sekembalinya Bung Karno dari pengasingannya itu, ia kemudian semakin aktif menulis artikel di media massa pada sekitar tahun 1940an. Bung Karno menulis banyak hal. Kebanyakan yang dibicarakannya tentang bagaimana mengoperasi Islam dari bisul-bisulnya, bagaimana memerdekakan alam pikiran dari kejumudan, taklidisme buta dan hadramautisme dari sikap dan praktik yang mengkambinghitamkan kelompok lain, kolot bin kolot (konservatifisme), para ulama mesum dari lingkungan pesantren, atau basis-basis studi dimana Islam berusaha dikembangkan. Baginya Islam adalah kemajuan, jadi Islam harus berani melakukan kritik-otokritik. Implikasi dari kemajuan berarti Islam harus terus menerus ditafsir ulang (reinterpretasi) dari zaman ke zaman, supaya tetap up to date. Dalam kata-katanya sendiri, Bung Karno ingin menangkap Islam sebagai "Api" bukan sebagai "Abu", seperti Islam Sontoloyo.

Tapi kini realitasnya umat muslim jauh berbeda dari apa yang diimpikan oleh Bung Karno. Islam progresif justru tumbuh di Iran. Di sini, di negeri yang katanya berPancasila, orang islamnya lebih mementingkan irasionalitas kehidupan abadi dibandingkan kehidupan di dunia yang dianggapnya cuma sementara. Ketika berbicara sains, mainstream Islam di Indonesia bukan berpikir secara logis, tetapi malah "Cocologis" (Sindiran bagi orang-orang agama yang percaya bahwa kitab sucinya mengandung kebenaran ilmiah dengan mencocok-cocokannya dengan kebenaran sains, ataupun cerita-cerita konspirasi mengerikan yang dibumbu-bumbui oleh tafsiran ayat suci, contohnya pemikiran-pemikiran Harun Yahya dan Zakir Naik). Dan parahnya lagi doktrin-doktrin pembodohan yang dibawa Harun Yahya dan Zakir Naik itu benar-benar dipercaya sebagai kebenaran ilmiah. Inilah pola pikir fatalistis umat Islam mainstream di Indonesia, tidak berani menghadapi realitas, terus menyerah kepada kepasrahan dan terjebak pada manipulasi mitos-mitos yang dogmanya dibawa oleh para ulama.

Entah sampai kapan umat muslim di Indonesia akan terus menerus tereduksi hanya pada persoalan teologi, terjebak pada ritual semata, dan selalu menafikan realitas objektif sains dan ilmu pengetahuan atas dasar argumentasi yang tidak berdasar. Agama sudah sepatutnya menjadi alat pembebasan bagi umatnya, dari penindasan dan diskriminasi moral religius. Bukan melulu jadi alat politik kekuasaan status quo dan alat penyebar kebohongan dan kebodohan. Agama harus menjadi mercusuar zaman yang menerangi samudera luas ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam di Indonesia harus segera bangkit, belajar untuk naik ke level selanjutnya. Semesta alam, dunia dan sejarah terus berjalan, tidak ada yang mampu menghentikannya. Jika kalian percaya hanya pada nilai-nilai spiritualisme agama, maka sudah seharusnya spiritualisme itu harus diimbangi dengan sikap kritis dan rasional. Karena bersikap kritis dan rasional adalah cermin kemerdekaan berpikir dengan realitas. Sebab manusia yang terus menerus bersembunyi dari realitas, maka sesungguhnya ia telah mati menjadi manusia. Manusia dengan atau tanpa agama bisa tetap hidup dan bernafas, sedangkan agama tanpa manusia dan ilmu pengetahuan hanyalah tinggal tulang belulang sejarah.

Rio Maesa 03-08-2012

Selasa, 17 Juli 2012

RAMADHAN BULAN TERSIAL, ANTARA ONANI IMAN DAN KAPITALISME PAHALA

Aku tidak dapat dapat berpura-pura senang menyambut datangnya bulan Ramadhan, jika bulan tersebut adalah bulan paling sialan diantara bulan-bulan lainnya. Aku tidak dapat berpura-pura membanggakan indahnya Ramadhan jika bulan tersebut penuh dengan kemunafikan. Aku tidak perlu berpura-pura senang menyambut datangnya bulan Ramadhan hanya untuk menyenangkan kalangan tertentu atau karena ingin dikatakan sebagai pribadi yang berjiwa toleransi.

Aku hanya mengatakan sebuah ucapan jika benar-benar pantas dan tulus aku ucapkan. Bila aku berpura-pura senang dan bahagia menyambut datangnya bulan Ramadhan, maka jelas aku telah membohongi diri sendiri. Bagiku jujur pada diri sendiri merupakan sebuah bentuk kehormatan tertinggi sebagai manusia. Jadi bagaimana orang lain mau menghormati kita, jika kita saja tidak dapat menghormati diri kita sendiri?

Faktanya dibulan Ramadhan aku menyaksikan banyak bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama dilakukan oleh berbagai organisasi kemasyarakatan radikal yang dilegitimasi oleh ambivalensi kekuasaan status quo. Mereka berteriak-teriak atas nama Tuhan, kemudian secara barbar memukuli orang yang makan, lalu menutup paksa warung yang kebetulan buka disiang hari. Pernahkah sedikit saja terpikir oleh para pembela Tuhan itu bahwa warung-warung kecil tersebut merupakan satu-satunya mata pencaharian orang-orang itu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya?

Sedangkan disisi yang lain dibulan puasa, fenomena Religionomic menciptakan disparitas harga bahan-bahan pokok yang menjulang tinggi menambah kesengsaraan kaum miskin hingga titik nadir yang memprihatinkan. Fenomena religionomic secara filosofis dapat digambarkan sebagai suatu keadaan, di mana para pelakunya bertindak seperti germo dan pelacur, yang menggunakan segala rayuan dan trik-trik manipulatif untuk mengkomersilkan simbol-simbol dan term-term keagamaan serta memanfaatkan untuk tujuan komersial semua kegairahan, semangat, kesenangan, dan luapan hasrat keagamaan di tengah masyarakat, semata-mata demi memperoleh nilai tambah ekonomis. Fenomena Religionomic adalah bentuk lain dari Kapitalisme yang bercumbu mesra dengan agama.

Pada akhirnya praktik seperti ini menafikan esensi kemanusiaan yang tersirat dalam agama itu sendiri. Jika bulan Ramadhan adalah bulan untuk menahan dan menguji hawa nafsu, mengapa tempat makan, prostitusi, hiburan malam dan tempat-tempat yang dianggap mengundang maksiat ditiadakan? ini sama saja memberikan soal ujian dengan jawaban, jadi apa lagi yang mau diuji, bukankah hal ini tidak berbeda dengan onani iman? entah sampai kapan semua ini akan terus terjadi? sampai kapan bulan puasa akan terus dijadikan alasan untuk melakukan onani iman?
 
Aku melihat dibulan Ramadhan tingkat kriminalitas semakin meningkat tinggi dibandingkan bulan-bulan normal sebelumnya. Mulai dari pencurian sandal di masjid-masjid, pencopet dan penghipnotis yang berkeliaran di terminal-terminal transportasi massal, hingga perampok yang menggasak isi rumah yang kosong ditinggal tarawih dan mudik si mpunya rumah. Sebagian besar kriminil yang tertangkap oleh aparat kepolisian rata-rata mengaku nekat melakukannya hanya demi memenuhi kebutuhan hari raya atau sekedar untuk mencari ongkos pulang kampung. Ada pula yang meminjam-minjam uang kepada tetangga yang lebih baik ekonominya hanya sekedar untuk bisa ikut merayakan euphoria lebaran, padahal ia sendiri sadar bahwa ia tidak akan mampu membayar hutangnya itu setelah hari raya selesai. Dan pada akhirnya hari lebaran sudah terjebak pada pemujaan sikap materialistik yang serba baru dalam wujud yang sesungguhnya tidak lebih dari artifisial semu.

Di bulan Ramadhan orang yang berpuasa secara tidak tahu malu meminta paksa untuk dihormati. Sedangkan mereka sendiri sama sekali tidak mau menghormati orang yang tidak berpuasa. Mulai dari Isya hingga berakhir sholat Tarawih dan kemudian dilanjutkan jam 2 dini hari hingga terdengar suara hingar bingar dari toa-toa masjid dan orang-orang yang berjalan-jalan keliling komplek dan kampung untuk membangunkan orang yang berpuasa untuk segera sahur. Dalam pandangan rasionalitas dan kritisisme, kita semua melihat bahwa ritual puasa telah gagal sebagai sebuah proses mediasi dalam memahami spiritualitas antara hubungan diri sendiri dengan orang lain yang berbeda (minoritas). Mereka yang menjalankan puasa tidak mau peduli, apakah teriakan-teriakan mereka telah mengganggu tidur lelap masyarakat sekitar yang tidak ikut berpuasa.

Pastinya dibulan Ramadhan ini, seolah-olah dunia hanya milik mereka dan yang lain cuma ngontrak karena dianggap hanya segelintir minoritas yang tak punya suara dan punya kekuatan. Mereka telah menggantikan hati nurani dengan egosentrisme pengharapan akan pahala yang berlipat ganda dengan ganjaran pembersihan dosa dan iming-iming surga bersama 72 bidadari perawan. Hingga akhirnya setiap orang yang berpuasa terjebak pada penghambaan terhadap kapitalisme pahala.

Kapitalisme pahala menjadikan bulan Ramadhan sebagai komoditi kapitalisme bagi para ustadz, ustadzah, kyiai dan habib-habib komersil untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya melalui ceramah di berbagai media televisi, radio dan masjid-masjid. Mereka memanfaatkan Fenomena Religionomic. Mereka mengindoktrinasi umatnya dengan dakwah-dakwah yang delusif dan penuh irasionalitas omong kosong kemudian tanpa henti membuai mereka dengan candu menuju kehidupan utopia untuk mengisi kehampaan spiritualitas, hingga tak sadar melupakan entitas duniawi sebagai sebagai makhluk merdeka. Singkatnya, para pelaku religionomic adalah orang-orang yang berusaha menjadikan simbol dan term agama sebagai komoditi yang sangat menguntungkan dalam memberikan nilai tambah ekonomis. Disinilah terjadi praktik kotor yang bernama Kapitalisme Pahala.

Saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh seorang seorang sahabat, puasa itu mirip-mirip dengan mesin cuci tubuh. Tetapi problemnya adalah puasa Ramadhan hanya kolektif milik umat muslim, dan lebih banyak unsur karnaval sosialnya, pamer kebajikan, eksistensi sosial, pamrih pahala dan banyak menuntut ini-itu agar dihormati, ditoleransi dan dihargai ibadah puasa ramadhannya. Alih-alih bernilai sunyi dan kontemplatif, itulah sebabnya nyaris tak ada perubahan berarti pada diri mereka sebelum dan sesudahnya.

Dan akhir kata jika ada yang marah, ngamuk, tersinggung, tidak tahan kritik dan menghunus pedang sehabis membaca tulisan singkat ini, kemudian berapriori dan berapologi, hingga menganggapnya tendensius, berarti dia masih berada pada masa-masa pubertas dalam beragama. Selamat menjalankan ibadah puasa kepada yang tidak berpuasa, semoga yang berpuasa mau menghormati yang tidak berpuasa.

Senin, 25 Juni 2012

HILANGNYA NALAR INSTRUMENTAL KEMANUSIAAN ORANG INDONESIA!

Sejujurnya pola pikir mayoritas orang-orang Indonesia itu memang aneh bin absurd. Ketika Malaysia mengklaim budaya Indonesia, spontan orang-orang yang biasanya apatis terhadap politik dan sosial budaya langsung marah-marah dan belagak menjadi sosok yang patriotik dan merasa paling nasionalis. Bahkan ada pula beberapa kelompok masyarakat yang berubah menjadi fasis dengan mencari cara untuk mengusir orang-orang Malaysia di Indonesia, hingga ada yang berniat mempertaruhkan nyawa sampai mati di medan perang melawan Malaysia.

Bukankah seharusnya orang Indonesia itu bangga jika budayanya tersebar luas di dunia?, karena sejauh apapun budaya ditiru, berarti sejauh itulah ekspansi budaya negeri ini. Tak perlu takut dengan klaim dari negeri tetangga yang secara historis memang masih satu rumpun. Hal yang paling penting bagi Indonesia saat ini cukup dengan menjaga, melestarikan dan mengembangkan sumber identitas budayanya. Indonesia sudah seharusnya belajar banyak dari Jepang bagaimana cara menjaga sumber identitas budaya dan belajar dari Amerika bagaimana cara mengekspansi budayanya. Komunitas Internasional itu cerdas, mereka akan mencari tahu sendiri sumber sejarah objektifnya jika memang benar budaya tersebut berasal dari Indonesia. Jangan baru berkoar-koar punya budaya ketika ada negara lain yang mengklaim, ini namanya keblinger dan picik.

Sejarah tidak bisa dipungkiri, bahwa memang Indonesia dan Malaysia adalah saudara tua, dan sang kakak jelas sedang terjebak pada sentimen kecemburuan ideologis dengan sang adik karena euforia superioritas dimasa lalu, akhirnya yang timbul kini hanyalah iri dengki ketika melihat adiknya hari ini jauh lebih maju, mandiri dan kuat secara ekonomi. Ketika sang adik berbicara soal kesamaan budaya, sekonyong-konyong rakyat dari sang kakak ngamuk-ngamuk kesetanan, sikap seperti ini jelaslah merupakan cermin mentalitas inferior yang masih saja dipelihara, padahal sudah seharusnya dibuang ke keranjang sampah sejarah.

Dan kini, coba lihat ketika saudara-saudara Papua kita yang sebangsa dijajah dan dibunuhi oleh tirani militer negerinya sendiri di tanah Papua Barat, sedikit sekali yang bersuara, sedikit sekali yang memiliki empati, sedikit sekali yang memiliki sikap eksistensi untuk ikut membela rakyat Papua yang ditindas oleh moralitas absurd bernama NKRI. Bahkan elit-elit politik dan anggota DPR kita yang terhormat lebih suka bicara soal klaim budaya dan romantisme Lady Gaga dibanding penindasan yang terjadi di Papua. 

Jelaslah jika mayoritas orang Indonesia sudah kehilangan nalar instrumental, sudah kehilangan akal logika yang melebur bersama sikap apatisme terhadap penindasan antar sesama manusia. Jadi apalah arti membela-bela kebanggaan budaya dan ilusi nasionalisme jika ia tidak memiliki kepekaan dan toleransi sedikitpun terhadap kemanusiaan yang nilainya jauh lebih universal. Memikirkan bagaimana menghentikan kekerasan dan pembunuhan sistematis Pemerintah terhadap rakyat Papua itu jauh lebih penting daripada kita ribut-ribut soal klaim budaya.

Tarik Militer dari Tanah Papua, Stop Diskriminasi dan Kekerasan di Tanah Papua!!
Freedom for PAPUA!!!

Rabu, 06 Juni 2012

PROPAGANDA MEDIA BARAT DAN PERANG "PALSU" ATAS NAMA KEMANUSIAAN


"Setiap Negara yang ingin berperang dengan negara lain, akan mulai dengan menyebarkan manifesto kepada warga negaranya dan ke seluruh Dunia. Dalam Manifesto itu, negara tersebut akan mengumumkan bahwa kebenaran dan keadilan berada disisinya, dan perang tersebut dilandasi cinta dengan kemanusiaan dan kedamaian, dibubuhi oleh sentimen-sentimen kedamaian yang royal. Negara itu juga akan menyatakan kebenciannya terhadap kemenangan materi dan menyatakan perang itu bukan untuk menambah kekuasaan. Musuh negara tersebut juga akan memberikan pernyataana yang sama. Manifesto-Manifesto yang berlawanan antara kedua negara tersebut ditulis sama halusnya, mengandung kandungan moralitas dan bobot ketulusan yang sama. dengan kata lain, kedua manifesto itu adalah jelas-jelas bohong. Orang-orang yang berakal sehat, mereka yang mempunyai pengalaman dalam politik, tidak akan membuang waktu membaca manifesto-manifesto itu, hanya orang tolol yang akan mempercayainya."
(MIKHAIL BAKUNIN)

Propaganda (dari bahasa latin modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya. Menurut Garth S. Jowett dan Victoria O'Donnell menyebutkan Propaganda adalah usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda. Dalam Everyman's encyclopedia, propaganda merupakan suatu seni untuk menyebarkan dan meyakinkan suatu kepercayaan, khususnya kepercayaan agama atau politik. Menurut Nancy Snow, ada tiga karakteristik propaganda. Pertama ia merupakan komunikasi yang disengaja, dan dirancang untuk mengubah sikap orang yang menjadi sasaran. Kedua ia menguntungkan bagi si pelaku propaganda untuk memajukan kepentingan orang yang dituju, dan ketiga ia biasanya merupakan informasi satu arah (yakni kampanye media massa)

Propaganda, dilihat dari perspektif modern, mengimplikasikan sesuatu yang buruk. Sebagian mengatakan propaganda menyebabkan peperangan, sebagian lain berpendapat, propaganda itu lebih kejam dari perang itu sendiri. Propaganda mendorong seseorang untuk berpikir dan berbuat hal yang bahkan belum kita pikirkan sebelumnya. Propaganda mengaburkan pemahaman seseorang dengan menyediakan lapisan-lapisan yang terdistorsi. Oleh karena itu, propaganda menjadi musuh pemikiran independen dan merupakan manipulator yang tidak dikehendaki dan menggangu dalam aliran informasi bebas. Selain itu, propaganda juga menghendaki adanya kemenangan emosi. Dengan dalih perjuangan birokratis, penguasa mengontrol individu lewat propaganda melalui media mainstream.


Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, Chomsky juga amat tajam mengkritik media massa-media massa besar di Amerika dan negara-negara barat. Baginya, sebagaimana dicatat oleh Garland, media massa di Amerika menggunakan model propaganda (propaganda model) di dalam pemberitaan, sehingga justru memperkuat dominasi pihak-pihak yang sudah berkuasa, baik berkuasa secara modal maupun politik. Dengan kata lain, media massa yang ada berpihak pada status quo, dan dengan itu menyingkirkan kepentingan-kepentingan lain yang sifatnya kritis pada kekuasaan yang ada. Bukan hanya media massa, tetapi kaum intelektual, termasuk yang berada di universitas, juga seringkali menulis dan berkarya untuk memberikan pembenaran pada sistem kekuasaan yang ada. Ada yang melakukannya secara sadar, dan ada yang tidak sadar.


Moammar Qadaffy memang bukan pemimpin yang baik. Salah satu bukti kebrutalannya adalah aksi ‘pelenyapan’ tokoh pendiri Hizbullah Lebanon Imam Mousa Sadr. Pada 25 Agustus 1978, Imam Musa Sadr, bersama dua orang yaitu, Syeikh Muhammad Yaqub dan Abbas Badruddin, pimpinan redaksi kantor berita Lebanon, tiba di Libya. Menurut rencana tanggal 29 atau 30 Agustus, mereka akan berdialog dengan Presiden Libya, Qadaffy. Namun sejak itu hingga kini Imam Musa Sadr raib tanpa jejak. Amnesty Internasional pada tahun 1988 melaporkan bahwa  Qadaffy telah melakukan penangkapan, penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, penyiksaan, serta hukuman mati terhadap para oposannya. Tahun 1996, menurut Amnesty Internasional, terjadi pembantaian massal terhadap 1.200 orang di penjara Abu Slim. Tapi, kebrutalan Qadaffy tidak seharusnya membuat kita tidak peduli (apalagi mendukung) terhadap apa yang dilakukan oleh NATO di Libya. Qadaffy pada akhirnya menghadapi karmanya, mengalami pembalasan atas berbagai kejahatan kemanusiaan yang pernah dilakukannya selama ini, ia akhirnya tewas di tangan para pemberontak.

Namun, di sini kita akan membahas dan mencermati skenario yang dilakukan NATO dalam mengobarkan "Humanitarian Intervention" dalam perang di Libya. Perang di Libya dimulai dengan aksi-aksi demo anti  Qadaffy pada bulan Februari yang dilakukan rakyat Libya di Benghazi. Ada yang aneh, Benghazi sebenarnya justru kawasan yang makmur. Secara umum pun, rakyat Libya cukup makmur. Pendapatan penduduk per kapita Libya adalah US$ 14581.9. Bandingkan dengan Mesir yang hanya US$ 2015.5 dan Tunisia US$ 3680.5. Sekedar perbandingan, Indonesia masih di atas Mesir, yaitu US$ 2149.7 (data dari PBB). Meskipun ada banyak kabar yang memberitakan betapa Qaddafy menumpuk harta, namun dia tetap menginvestasikan kembali sebagian penghasilan minyak (Libya adalah pemilik cadangan minyak terkaya di Afrika) di bidang kesehatan (pelayanan gratis), pendidikan, dll. Itulah sebabnya, HDI (Human Development Index) Libya bahkan yang tertinggi di Afrika, dan di dunia berada di peringkat 57, lebih bagus daripada Rusia atau Brazil. Fakta ini sungguh tidak cocok dengan berita "rakyat Libya bangkit secara massal untuk menumbangkan Qaddafy." Bahwa adanya kelompok oposisi, memberikan kewajaran menyusul aksi-aksi demo dan kekerasan yang terjadi, dunia pun digiring untuk ‘mengizinkan’ Paris dan London atas restu Washington untuk melakukan Humanitarian Intervention demi membantu rakyat Libya.


Media-media mainstream, seperti CNN atau Fox News, bahkan kali ini yang menjadi motornya adalah Al Jazeera, berusaha membentuk opini publik, bahwa sedang terjadi pembantaian sipil besar-besaran di Libya. Karena itulah, tak banyak yang memprotes saat NATO mulai melancarkan membombardir Libya dengan alasan kemanusiaan (Humanitarian Intervention) tanggal 31 Maret 2011. Target serangan NATO justru bukan kompleks militer, tetapi rumah-rumah (termasuk istana Qaddafy sehingga menewaskan beberapa anak dan cucunya), rumah sakit, sekolah, dan lain-lain. Ada banyak topik yang bisa dibahas dalam masalah ini, misalnya sahkah serangan NATO? Apa hakikat di balik kata ‘Humanitarian Intervention’ yang didengungkan oleh PBB dan NATO? Namun, kali ini saya akan memfokuskan pada kebohongan media dan justifikasi istilah teoritis dan hakikat Humanitarian Intervention yang didengungkan oleh PBB, NATO dan media mainstream dalam kaitannya dengan hegemoni politik. Selama konflik Libya, hanya ada beberapa jurnalis independen yang dengan berani memberitakan fakta-fakta yang berbeda dengan apa yang diberitakan Al-Jazeera, CNN, dan media mainstream barat lainnya.

Mereka adalah Mahdi Darius Nazemroaya, Franklin Lamb, Lizzhie Phelan (kontributor Press TV), dan Thierry Maysan (jurnalis yang dulu juga membela Iran saat media massa dunia sedang mempropagandakan ada gelombang revolusi islam di Iran). Mereka secara rutin memberitakan langsung dari Tripoli, perkembangan yang sesungguhnya. Tapi pemberontakan massal di seluruh negeri (seperti diberitakan media massa), sungguh menunjukkan pola yang aneh. Pada tanggal 21 Agustus, ketiganya masih mengirim laporan. Phelan kepada PressTV, Nazemroaya kepada  Russia TV, dan Maysan menulis untuk Global Research. Saat itu, dalam rekaman video yang ditayangkan Russia TV, Nazemroaya melaporkan bahwa dirinya ditembak, namun luput. Laporan lainnya menyebut bahwa Lamb ditembak kakinya dan Phelan diintimidasi oleh jurnalis dari media mainstream supaya berhenti melaporkan situasi yang berlawanan dengan misi NATO. Pada tanggal 21 Agustus, Maysan masih mengirim tulisan yang menceritakan keterlibatan Al-Qaida. Namun, anehnya, sejak 21 Agustus, tidak ada kabar lagi dari mereka. Blog Lizzie Phelan pada tanggal 21 Agustus masih ada, namun kini kita sudah tidak bisa membaca lagi isinya. Berita lain menyebutkan bahwa Phelan tidak bisa lagi mengakses facebook dan emailnya. Belum ada kepastian bagaimana kondisi mereka saat ini.

Intimidasi terhadap para jurnalis independent itu menunjukkan ada yang ditutup-tutupi. Kebohongan sedang disebarluaskan oleh media massa mainstream. Ini salah satu bukti nyata kebohongan itu: Pada tanggal 21 Agustus, secara serempak media massa dunia (termasuk di Indonesia) memberitakan bahwa pasukan pemberontak sudah menguasai Tripoli. Televisi-televisi menayangkan gambar orang-orang yang bergembira ria. Reporter menyatakan, inilah pasukan pemberontak merayakan kemenangan . Kemudian terbukti, video itu palsu belaka. Itu adalah sebuah film yang dibuat entah dimana (kemungkinan besar tentu di Qatar, karena yang pertama kali menyiarkan rekaman itu adalah Al Jazeera), dengan lokasi yang mirip dengan Green Square Tripoli.

Video tentang deskripsi gambaran diatas pernah diterbitkan di youtube, tapi entah kenapa tidak beberapa lama video tersebut dihapus di halaman youtube.

Meskipun suara-suara jurnalis independen sudah diberangus, namun kebenaran cepat atau lambat akan terkuak. Seperti dikatakan Nazemroaya, "ini Perang NATO, Ini bukan tentang Qaddafi. Qaddafi adalah dalih dilancarkannya perang ini, perang ini adalah untuk mencuri harta dari rakyat Libya.” Mereka tidak sedang membela Qaddafi. Bahkan Prof. Chossudovsky, seorang peneliti independen dari Centre for Research on Globalization mengatakan, jurnalis independent yang dijadikan target, karena mereka mengatakan kebenaran. Liputan media mainstream terhadap perang Libya difokuskan pada Qaddafy. Tidak ada satu kata pun dari media-media mainstream yang menyebutkan mengenai kerusakan dan korban nyawa rakyat sipil akibat bombardir NATO, termasuk bombardir intesif ke Tripoli.

Dan kini propaganda mengarah ke Suriah dengan tuduhan yang mirip dengan Libya “kediktatoran dan pelanggaran berat ham”. Rezim Suriah diarahkan untuk dijatuhkan akan tetapi upaya propaganda di Suriah terlalu kasar sehingga dunia Internasional yang independen (oposisi) tidak sepenuhnya merestui seperti China dan Rusia. Terakhir Media BBC Inggris disitusnya, tertanggal 27 Mei 2012 tertangkap basah ketahuan dan tanpa malu-malu mencoba membuka jalan untuk meligitimasi Humanitarian Intervention PBB-NATO ke Suriah. Pada tanggal tersebut BBC mempublikasi foto lama Marco Di Lauro tentang anak-anak Irak yang tewas pada tahun 2003. BBC berupaya meyakinkan dunia dan komunitas internasional bahwa mereka (mayat anak-anak) adalah korban serangan pembantaian pemerintah suriah di Kota Houla 25 Mei 2012. Sementara judul laporan yang digunakan oleh BBC untuk menggambarkan citra kebiadaban tentara Suriah, menyatakan bahwa gambar ini diberikan oleh aktivis yang berada di Suriah dan "dipercaya sebagai tubuh anak-anak yang tercintang dan tengah dalam proses pemakaman di Houla". Ini adalah propaganda hitam media barat sebagai upaya justifikasi untuk meligitimasi invasi dalam kekisruhan Arab Spring di Timur Tengah.



Kemudian, Marco Di Lauro melakukan protes dan memberitahu bahwa itu adalah foto korban pembunuhan massal di Irak tahun 2003. BBC mencabut begitu saja foto itu, tanpa permintaan maaf. Sementara foto itu sudah terlanjur disebarluaskan keseluruh dunia, dan sudah diposting ulang oleh banyak orang didunia terutama di media-media sosial. Korban fitnah ini tentu saja tentara Suriah, dan yang diuntungkan adalah kaum oposisi yang jelas-jelas bermain dan bertumpu pada biaya dari asing. Tujuan utama dari propaganda hitam ini adalah jelas, agar PBB menyetujui Humanitarian Intervention yang hakikatnya adalah pengiriman pasukan perang internasional ke Suriah untuk menggulingkan Bashar Al-Assad, sebagaimana yang terjadi pada khadaffy di Libya.

Pada kasus di Suriah, korban tewas bukan seperti yang digembar-gemborkan media barat dimana diceritakan bahwa tank-tank membombardir anak-anak di Homs, Suriah. Itu semua ternyata berita bohong, ternyata lebih banyak korban tewas akibat berondongan senjata konvensional serbu yang dimiliki oleh militan-militan anti pemerintah yang terjadi di kota Homs atau Houla. Kasus di Suriah sesungguhnya bukan persoalan pertentangan mahzab, karena Assad sendiri adalah seorang Sekuler, dia penganut Syah Alawi yang berbeda dengan Syiah Iran yang tunduk pada garis komando ulama tertinggi, tapi dalam persoalan geopolitik Suriah dekat dengan Iran. Suriah kini sedang menjadi target Arab Spring Barat, yang ingin melakukan penguasaan globalis di Timur Tengah untuk merangsek agar lebih dekat ke Iran dengan menjungkalkan rezim Suriah yang Anti-Israel. Maka itu kaum sunni arab sebagai antek barat yang dimotori oleh Arab Saudi dengan Liga Arabnya mendukung penuh penggulingan Assad di Suriah. Coba lihat fakta ini

Sedangkan dalam kasus Iran sendiri, eskalasi propaganda hitam media barat sudah berlangsung sejak kaum konservatif yang dipimpin oleh Presiden Anti-Imperialis Mahmoud Ahmadinejad berusaha mengembangkan nuklir damainya. Isu Nuklir Iran terus menerus dipropagandakan oleh media barat sejak presiden gila perang Amerika George W. Bush naik ketampuk kekuasaan distimulan lagi sejak terjadinya tragedi 9/11 yang menghancurkan menara kembar WTC. Bush terang-terangan menyebut Iran sebagai bagian dari Axis of Evil (Poros Setan Dunia) bersama dengan Korut dan Irak. Opini dunia digiring untuk mengkutuk Iran karena kepemilikan teknologi nuklirnya (hampir mirip dengan tuduhan senjata pemusnah massal terhadap Irak) dalam kasus Iran cukup menarik, sebab Iran tak kalah gencarnya mengklarifikasi bahkan menyerang balik opini-opini media pro Imperialis dengan media-media multi nasionalnya. Begitu dahsyatnya propaganda media mempengaruhi opini dunia bahkan jika ada media independen yang meragukan maka akan terkucilkan, parahnya terkadang dianggap sebagai media anti hak asasi manusia atau media teroris dan julukan negatif lainnya.

Dalam kasus Nuklir Iran, hingga detik ini IAEA (Badan Atom Internasional) yang ditugaskan PBB sebagai satu-satunya organisasi internasional yang berwenang untuk mengawasi dan melindungi program nuklir negara-negara berdaulat hingga detik ini tidak mampu memberikan fakta valid yang membuktikan bahwa Iran telah terbukti mengembangkan senjata nuklir untuk mengancam perdamaian dunia. Lucunya berkali-kali Resolusi Dewan Keamanan PBB berupa embargo dan berbagai sanksi dijatuhkan atas program nuklir damai Iran. Padahal Iran sendiri adalah anggota NPT (Nuclear Non-Proliferation Treaty), sebuah perjanjian internasional yang bersifat mengikat secara hukum untuk mengembangkan program nuklir damai di bawah pengawasan IAEA. Sejarah telah mencatat, tidak ada satupun negara-negara di dunia ini yang mampu mengembangkan senjata nuklir ketika negara tersebut masih berada dalam status keanggotaan NPT yang berada di bawah pengawasan ketat IAEA. Itulah sebabnya mengapa Korut pada bulan Januari 2003 menyatakan diri keluar dari NPT agar dapat secara bebas mengembangkan program nuklirnya hingga tahap tertinggi yaitu kepemilikan senjata nuklir. Hingga kini media mainstream barat tetap menjadi corong dalam propaganda imperialisme barat dimana terus menerus menyebarkan fitnah kebohongan terhadap status nuklir Iran yang dianggap mengancam perdamaian dunia. Dan karena independensi Iran terhadap tekanan Resolusi Dewan Keamanan PBB, sering sekali media barat menyebut Iran sebagai negara agressor yang paling mengancam perdamaian dunia. Padahal tidak pernah sekalipun Iran melakukan invasi ke negara-negara lain, apalagi mengancam perdamaian regional dan dunia. Bahkan Perang Irak-Iran pun dahulu dimulai oleh Irak yang dikompori oleh Amerika pasca revolusi Islam yang terjadi di Iran.


Sesungguhnya negara yang layak dituduh agressor, pengancam stabilitas Timur Tengah, adalah Israel. Negara Zionis ini memiliki semua senjata pemusnah massal, terutama sekitar 200-300an hulu ledak nuklir, dan menduduki dataran tinggi Golan milik Suriah serta wilayah Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Semua yang dilakukan Israel ini bertentangan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB (242 dan 338), serta sejumlah perjanjian internasional lainnya. Di bawah rezim partai Likud, Israel menjadi negara paling agressor di Timur Tengah. Memacetkan proses perdamaian dengan melanggar semua resolusi. Israel di bawah rezim Likud menumpas perlawanan terhadap Palestina dengan melakukan agresi ke dalam wilayah Palestina dan mendudukinya hingga sekarang. Terakhir adalah pembantaian 19 aktivis kemanusiaan di kapal Mavi Marmara, dimana seluruh dunia mengutuk keras, tetapi Amerika tetap bersikukuh untuk melindunginya bahkan memperkuatnya. Israel adalah satu-satunya negara di dunia yang paling banyak mengangkangi resolusi-resolusi hukum PBB, bahkan catatan terakhir 2011 lembaga Amnesty Internasional menyebutkan bahwa Israel adalah negara yang paling banyak melakukan pelanggaran HAM secara sistematis di abad modern pasca Perang Dunia Kedua.

**********************************************************

Dalam kajian Hubungan Internasional, ada yang disebut "Humanitarian Intervention" atau Intervensi Kemanusiaan. Menariknya kini aktris cantik Angelina Jolie sudah direkrut oleh PBB untuk menjadi "Juru Bicara bagi doktrin ini. Mungkin jika Angelina Jolie yang angkat bicara, kata "Humanitarian Intervention" bisa terdengar jauh lebih seksi dan manusiawi. Dalam wawancaranya dengan Al-Jazeera, Jolie menyatakan dukungannya bagi Humanitarian Intervention di Suriah. Memang kata Humanitarian Intervention apalagi bila terdengar dari bibir Jolie yang seksi seolah-olah terdengar mulia. Namun sesungguhnya Humanitarian Intervention adalah sebuah bentuk "SERANGAN MILITER". 

Yang patut kita ketahui disini adalah, Intervensi Kemanusiaan berbeda dengan "Bantuan Kemanusiaan" yang biasa dilakukan oleh negara-negara saat mengirim obat atau uang ke negara-negara yang tertimpa bencana. Humanitarian Intervention adalah serangan militer yang "DIANGGAP LAYAK" dilakukan oleh sebuah negara terhadap sebuah negara lain dengan alasan kemanusiaan. Contoh konkritnya, NATO dianggap boleh menyerang Libya dan menggulingkan Qadaffy karena konon Qadaffy adalah diktator yang menyengsarakan rakyatnya. Kini, banyak pihak yang menyerukan serangan militer PBB-NATO ke Suriah dengan alasan Assad sudah membunuhi ribuan rakyatnya. Dalam kajian Hubungan Internasional dan Hukum Internasional, legalitas Humanitarian Intervention masih menjadi perdebatan hingga kini. Sebab utamanya adalah adanya doktrin "Souvereignty States" (Kedaulatan Negara). Dalam doktrin ini, setiap negara dianggap sebagai entitas yang berdaulat sehingga berhak penuh dalam mengendalikan rakyat, menetapkan hukum, dan mengamankan wilayahnya. Bila doktrin kedaulatan negara ini diterima (kenyataannya semua negara menerima doktrin ini), artinya, tidak ada negara yang berhak melakukan intervensi terhadap sebuah negara lain, apapun alasannya (Prinsip Non-Intervensi atas doktrin kedaulatan negara pengaturannya secara eksplisit terdapat di dalam Piagam PBB). Aturan PBB juga menyatakan bahwa sebuah negara tidak boleh melakukan serangan militer terhadap negara lain, kecuali bia ada izin dari Dewan Keamanan PBB.

Namun masalahnya, izin dari Dewan Keamanan PBB sangat bergantung pada kepentingan politik negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB sebagai pemegang HAK VETO. Dalam kasus Irak, Dewan Keamanan PBB sama sekali tidak memberikan izin invasi militer, namun Amerika dan Sekutunya tetap menyerang Irak. Dalam kasus Libya, Dewan Keamanan PBB memang memberikan izin untuk melakukan segala hal yang dianggap perlu demi melindungi rakyat sipil Libya, saat itu Rusia dan China abstain. Sedangkan dalam kasus Suriah, Rusia dan China menggunakan hak vetonya dan menolak dilancarkannya serangan militer atas nama PBB ke Suriah.

Bila kita melihat pada kacamata sejarah munculnya doktrin Humanitarian Intervention, akan terlihat bahwa sejak awal memang doktrin ini dibuat untuk mengakomodasi kepentingan-kepentingan barat. Kochler (Humanitarian Intervention in the Context of Modern Power Politics, 2000), menulis bahwa doktrin Humanitarian Intervention pertama kali dikemukakan pada tahun 1800-an oleh Eropa dalam menghadapi Imperium Turki. Menurut Kochler, salah satu kriteria utama dalam menjustifikasi Humanitarian Intervention adalah "Ketidakadilan dan Kekejaman" yang menyinggung moral kristen dan peradaban Eropa. Atas kriteria itulah Eropa (Barat) merasa berhak untuk melakukan serangan militer kewilayah-wilayah yang dikuasai oleh Ottoman Turki, yaitu Yunani (1826), dan Armenia (1896).


Propaganda Imperialis barat atas nama Humanitarian Intervention terus didengungkan bersama-sama media mainstream barat sebagai alatnya untuk memperkuat HEGEMONI, mempertahankan DOMINASI dan menyebarluaskan INFLUENCE (pengaruh) di Timur Tengah. Benar apa yang pernah dikatakan oleh Antonio Gramsci tentang konsep hegemoni. Gramsci pernah beragumentasi bahwa kekuasaan agar dapat abadi dan langgeng membutuhkan paling tidak dua perangkat kerja. Pertama, adalah perangkat kerja yang mampu melakukan tindak kekerasan yang bersifat memaksa atau dengan kata lain kekuasaan membutuhkan perangkat kerja yang bernuansa "LAW ENFORCEMENT". Perangkat kerja yang pertama ini biasanya dilakukan oleh pranata negara (state) melalui lembaga-lembaga seperti hukum dan militer. Kedua, adalah perangkat kerja yang mampu membujuk masyarakat beserta pranata-pranata untuk taat pada mereka yang berkuasa melalui kehidupan beragama, pendidikan, kesenian, dan media massa (Heryanto, 1997). Kedua level ini pada satu sisi berkaitan dengan fungsi hegemoni dimana kelompok dominan menangani keseluruhan masyarakat dan disisi lain berkaitan dengan dominasi langsung atau perintah yang dilaksanakan diseluruh negara dan pemerintahan yuridis (Gramsci, 1971).  Maka itu Gramci menolak penuh konsep hegemoni, sebagai satu bentuk supermasi satu kelompok atau beberapa kelompok atas yang lainnya, dengan bentuk supermasi lain  yang ia namakan “dominasi” yaitu kekuasaan yang ditopang oleh kekuatan fisik seperti apa yang diperlihatkan Kebijakan Imperium barat dan media-media mainstream pendukungnya. Menurut Gramsci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah yang dimaksud Gramci dengan “hegemoni” atau menguasai dengan “kepemimpinan moral dan intelektual” secara konsensual.


Sikap kritis diperlukan terhadap pemberitaan berbagai media, terutama arus informasi media yang bersumber dari media barat yang selalu berteriak soal demokrasi, ternyata tidak lebih dari slogan "Make Up Politik" untuk melanggengkan hegemoni dan dominasi kekuasaan para imperialis. Media barat sering tidak berimbang ketika mereka berbicara soal konstelasi politik Timur Tengah dan sering mengompori Humanitarian Intervention sebagai solusi akhir perdamaian. Sedemokratis apapun sebuah negara, media massa mainstream tetaplah media yang terkooptasi oleh kekuasaan status quo. Dan para imperialis tidak akan pernah berhenti untuk terus menerus menebarkan perang konvensional demi minyak dan keserakahan politik-ekonominya. Dan kita sebagai masyarakat bagian dari komunitas internasional tanpa KRITISISME akan terjebak pada kepercayaan membuta terhadap banyak kebohongan publik yang dilakukan media mainstream. Seperti yang pernah dikatakan oleh Mikhail Bakunin bahwa selagi negara-negara masih ada, kedamaian tidak akan pernah tercapai, hanya ada perdamaian temporer, jikalau sebuah negara merasa cukup kuat untuk menghancurkan keseimbangan tersebut untuk keuntungannya, negara itu tidak akan gagal menggunakan kesempatannya.

Oleh: Rio Maesa 06-06-2012

Catatan/Sumber referensi:
-IRIB
-BBC
-Russia Today
-Wikipedia, dengan catatan: Garth Jowett and Victoria O'Donnel, Propaganda and persuasion 4th. Ed. Sage Publications, hal. 7.
-Munition of Mind (Philip M. Taylor, 2003)
-Propaganda,inc. (Nancy Snow, 2002)
-Propaganda Amerika sepanjang krisis Teluk (Smith Al-Hadar-Internasional Strategic for Middle East Studies, 2003)
-Kajian Timur Tengah, (Dina Y. Sulaeman)
-Cendekiawan dan kekuasaan di Negara Orde Baru (Daniel Dhakidae, 1993)
-The Political Philosophy of Michel Foucault Rutledge (Mark Kelly, 2009)
-Imoralitas Negara (Mikhail Bakunin, Affinitas 2000)
-Teori Hegemoni, Sebuah Teori Kebudayaan Kontemporer (Saptono)
-Video-video dan link-link berita yang lebih lengkap tentang kebohongan media mainstream soal Libya, Iran, Suriah dan Irak, bisa dilihat di sini.