Rabu, 16 Februari 2011

KITA SEMUA TERJEBAK DAN TERSESAT DALAM BUDAYA ANJING!!

"KONSUMTIVISME" ya itulah namanya, sudah sedemikian dalam dan deras merasuk ke Indonesia, hingga kemudian menembus batas-batas usia, strata sosial dan juga batas-batas wilayah. Sebenarnya hal tersebut bukan fenomena yang aneh atau mengherankan, terutama dengan menjamurnya gerai-gerai fashion karya desainer internasional dan juga dengan munculnya berbagai macam ritel asing yang tumbuh subur berbarengan dengan bermunculannya pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia.

Fenomena ABG yang sudah melek merek hanya salah satu contoh gaya hidup konsumtif yang menghinggapi masyarakat kita, seperti juga merayakan ultah di Club-Club malam Terkenal, Ballroom hotel, menikmati segelas cokelat serta kopi panas di kafe-kafe Bergaya Barat, atau sekadar nongkrong bergaul dan bersosialita di mal. Hidup hemat dan menabung tidak lagi dipahami dan dijalani oleh kebanyakan anak muda Indonesia zaman sekarang. Artis atau tokoh panutan yang di elu-elukan menurunkan budaya konsumtif kepada rakyat atau audiensnya. Kemudian ditambah lagi perilaku orangtua yang menularkan kepada anak-anaknya dengan menghujani mereka dengan barang-barang atau fasilitas mewah lain untuk menebus rasa bersalah karena tak cukup meluangkan waktu untuk anak-anaknya.

Iklan yang persuasif dan berbagai strategi pemasaran yang sangat agresif membuat masyarakat semakin terjebak ke dalam arus konsumtivisme atau KECANDUAN BELANJA yang sifatnya impulsif atau emosional, bukan lagi rasional. Konsumtivisme sudah menjadi gaya hidup masyarakat kelas menengah perkotaan di Indonesia yang dari jumlah 250 juta penduduknya hampir setengah lebih penduduknya masih dibawah garis kemiskinan.Hal tersebut dapat diukur dari standar kemiskinan internasional 2 dollar AS per hari.

Fenomena seperti ini,sebenarnya bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga negara-negara lain, termasuk negara eks-komunis. Konsumtivisme adalah dampak dari globalisasi dan sistem kapitalisme global modern yang mendasarkan pada tata nilai materialistis, mulai dari tingkah laku, pola pikir, hingga sikap yang pada akhirnya melahirkan sifat individualis. Masyarakat menengah perkotaan di negara Indonesia, seperti juga di negara-negara Asia lainnya, bahkan lebih agresif menjiplak gaya hidup konsumtif ketimbang masyarakat di negara asal budaya konsumerisme itu berasal. Contohnya fanatisme terhadap produk-produk bermerek dan budaya konsumsi makanan cepat saji.

Sebelum hadirnya mal-mal mewah, orang-orang kaya Indonesia harus berburu hingga ke Singapura, Eropa, atau AS untuk mendapatkan barang-barang bermerek dari pusat-pusat mode internasional seperti Paris, London, Italia, dan New York. Sekarang mereka tidak perlu susah-susah pergi jauh. Bahkan, kota besar seperti Jakarta memiliki gerai produk fashion karya desainer dunia yang jauh lebih banyak dari kota-kota asalnya di Eropa. Contohnya seperti di MAL TA, EX, GI dan SENCI.

Hal serupa juga terjadi untuk produk makanan, produk kecantikan (Kosmetik), perlengkapan rumah tangga dan sebagainya, dengan hadirnya jaringan ritel Kapitalis global seperti Carrefour, Giant, dan Wal Mart. Angka penjualan barang-barang bermerek dan juga konsumsi consumer goods (barang kebutuhan sehari-hari) lain terus melonjak dramatis dari tahun ke tahun, tidak peduli apakah perekonomian dalam kondisi sulit atau tidak. Padahal perilaku konsumtif sangat tidak sehat dan bisa berbahaya bagi ekonomi jika terlalu ditopang dengan kredit.

Perilaku konsumtivisme masih bisa dikatakan sehat selama barang-barang yang dikonsumsi adalah buatan dalam negeri. Persoalannya, produk-produk dalam negeri yang ada belum tentu kompetitif. Apalagi ditambah saat ini Indonesia baru saja meratifikasi ACTFA (Asean-China Free Trade Area) yang jelas menambah rumit lagi persoalan karena selain barang-barang dari Barat, barang Cina dipastikan menyerbu Indonesia. Untuk saat ini perusahaan-perusahaan asinglah yang lebih bisa memanfaatkan tren dan terus menerus menghisap keuntungan dengan meningkatnya konsumtivisme di Indonesia.

JADI..SAMPAI KAPAN KITA AKAN TERUS MENERUS MEMPERKAYA AMERIKA, BARAT DAN CINA??????
Apakah kalian masih bangga menggunakan barang-barang Penjajah tersebut??????
Kita ga akan pernah tahu kalo selama ini kita dijajah oleh Liberalisme Pasar melalui gaya hidup konsumtivisme yang lahir dari budaya konsumerisme!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Mulai sekarang ubahlah pola pikir dan gunakan produk Indonesia sebaik-baiknya.

3 komentar:

  1. sedikit tambahan info saja,
    tahukah Anda bahwa Jakarta adalah kota dg pusat perbelanjaan terbanyak sedunia...wooooww hebat ya,,pantes Jakarta macet :( :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

      Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

      Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

      Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

      Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

      Hapus
  2. Jakarta dipaksakan menjadi pusat perbelanjaan, tapi lihatlah negeri ini, belum ada pemerataan. Daerah-daerah tetap saja terbelakang..

    BalasHapus